Senin, Maret 8, 2021
Beranda Utama Awas Banjir Susulan di Depok, 23-24 Februari Cuaca Ekstrem

Awas Banjir Susulan di Depok, 23-24 Februari Cuaca Ekstrem

0
Awas Banjir Susulan di Depok, 23-24 Februari Cuaca Ekstrem
EVAKUASI : Banjir terjadi di wilayah Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Cimanggis, Sabtu (20/2). Ratusan masyarakat yang terdampak langsung dievakuasi. FOTO : LULU/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Warga Depok nampaknya masih belum bisa merasakan tidur nyenyak dan terus mawas diri. Hujan deras yang melanda Kota Sejuta Belimbing ini masih akan terjadi selama sepekan kedepan. Minggu (21/2), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meprediksi puncak musim hujan yang diperkirakan masih berlangsung pada akhir Februari hingga awal Maret 2021.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan, masyarakat Jabodetabek masih perlu meningkatkan kewaspadaan akan datangnya potensi hujan lebat, yang dapat berpotensi memicu banjir dan longsor. Khususnya di Selasa (23/2) dan Rabu (24/2). Tetapi, Senin (22/2) intensitas hujan cenderung melemah menjadi intensitas rendah.

“Kami memprediksi curah hujan akan meningkat kembali menjadi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi pada tanggal 23 sampai dengan 24 Februari ,” katanya kepada Harian Radar Depok, Minggu (21/2).

Dia menambahkan, curah hujan yang terjadi saat ini di DKI Jakarta bisa dibilang masih lebih rendah jika dibandingkan dengan curah hujan pada Januari 2020. Yang berdampak pada wilayah Jabodetabek tergenang banjir.

“Ada beberapa faktor penyebab banjir di DKI Jakarta, antara lain hujan yang jatuh di sekitar Jabodetabek dan bermuara di Jakarta, kemudian hujan yang jatuh di Jakarta sendiri serta ada pasang laut. Meskipun daya dukung lingkungan juga sangat berpengaruh,” katanya.

Adapun, lanjut Dwikorita, pihaknya juga telah memprediksi bahwa satu pekan ke depan seluruh wilayah Indonesia masih berpotensi turun hujan dengan intensitas lebat, disertai kilatan petir dan angin kencang. Mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, hampir semua wilayah di Pulau Kalimantan dan Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada dan berhati-hati terhadap dampak cuaca ekstrem seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang dan gelombang tinggi,” ungkapnya.

Sebelumnya, BMKG juga sudah mengeluarkan peringatan dini pada 18-19 Februari 2021 yang menyebutkan wilayah Jabodetabek diprediksi diguyur hujan, dengan intensitas lebat hingga sangat lebat dengan curah hujan antara 100-150 mm.

Berdasarkan data yang dihimpun BMKG, tercatat curah hujan tertinggi terjadi di Pasar Minggu mencapai 226 mm/hari, kemudian di Sunter Hulu 197 mm/hari, Lebak Bulus 154 mm/hari dan Halim 176 mm/hari.

“Umumnya kejadian hujan terjadi malam hingga dinihari dan berlanjut sampai pagi hari. Ini merupakan waktu-waktu yang kritis dan perlu diwaspadai,” kata Dwikorita.

Sementara itu, Deputi Bidang Meteorologi, Guswanto menuturkan Kondisi Cuaca Ekstrem di Wilayah Jabodetabek disebabkan sejumlah factor, diantaranya adanya seruakan udara dari Asia yang cukup signifikan mengakibatakan peningkatan awan hujan di Indonesia bagian barat yang terpantau pada 18-19 Februari.

Kemudian terpantau aktivitas gangguan atmosfer di zona equator (Rossby equatorial) mengakibatkan terjadi perlambatan, dan pertemuan angin dari arah utara membelok tepat melewati Jabodetabek. Sehingga timbul peningkatan intensitas pembentukan awan-awan hujan.

Juga adanya tingkat labilitas dan kebasahan udara di sebagian besar wilayah Jawa bagian barat yang cukup tinggi, hal ini menyebabkan peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Jabodetabek.Serta terpantau adanya daerah pusat tekanan rendah di Australia bagian utara yang membentuk pola konvergensi di sebagian besar Pulau Jawa dan berkontribusi juga dalam peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan di barat Jawa termasuk Jabodetabek.

Adanya akan banjir susulan, Kasi Operasi dan Pemeliharaan Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Kota Depok, Bahtiar Ardiansyah mengaku, pihaknya secara rutin sudah menurunkan Satuan Tugas (Satgas), untuk meminimalisir terjadinya banjir. Diantaranya membersihkan sampah dan melakukan normalisasi saluran air.

“Untuk bidang SDA, kami melakukan beberapa upaya untuk mencegah datangnya banjir. Seperti rutin membersihkan sampah dari kali dan saluran air, dan secara melakukan normalisasi kali, dan situ. Baik secara manual maupun alat berat dan prasarana terbatas,” katanya kepada Radar Depok, Minggu (21/2).

Selain itu, beragam sarana dan prasarana dipersiapkan ketika bencana datang. Seperti contoh pompa mobile dipergunakan untuk menyedot genangan banjir yang berlangsung lama. “Kami punya empat perahu karet, dua unit pompa mobile dan delapan alat berat,” katanya kepada Radar Depok, Jumat (19/2).

Dia menambahkan, per 1 Januari, jumlah Satgas Banjir yang dimiliki Bidang SDA sebanyak 170 petugas. Dan dibagi menjadi bagian administrasi, serta petugas lapangan yang siap siaga bila dibutuhkan. “20 petugas di Administrasi dan 150 petugas di lapangan. Kami bekali juga mereka saat tugas dengan rompi apung jika sewaktu-waktu terjun langsung dalam bencana banjir,” tambahnya.

Adapun, lanjut Bahtiar, pihaknya siap jika perlu terjun langsung di lokasi bencana. Dalam penanganannya, dia mencontohkan bila bencana banjir, Pihak pemadam kebakaran yang akan mengevakuasi bila ada korban.

“Intinya kita siap dan satu komando dengan damkar kalau ada bencana. Banjir misalnya, damkar yang mengevakuasi, kami yang melihat serta mengatasi titik permasalahannya seperti sampah yang menyumbat saluran air, dan lainnya,” ungkapnya.

Lain lagi dengan kasus tanah longsor, seperti contoh di Jalan Ngarai RT4/7 Kelurahan Pasir Gunung Selatan. Sebagai antisipasi awal, satgas melakukan beberapa tindakan seperti membuang puing reruntuhan, memasang bambu, bronjong, dan terpal. “Untuk penaksiran biaya masih dihitung karena konsultan perencana sudah melakukan peninjauan langsung dan hari ini mereka masih survey,” tandasnya. (rd/daf)

Jurnalis : Daffa Syaifullah

Editor : Fahmi Akbar