Kadinkes Kota Depok Novarita
Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Novarita. FOTO: IST

RADARDEPOK.COM, DEPOK -Vaksinasi Covid-19 di Kota Depok sudah berjalan sejak Januari 2021. Saat ini masih dalam penyelesaian vaksinasi Tahap I, bagi para tenaga kesehatan (Nakes). Selanjutnya, vaksinasi akan diberikan kepada para petugas pelayanan publik.

Dalam sosialisasi vaksin Covid-19 yang digelar secara virtual, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Novarita mengatakan, vaksinasi Tahap I ditargetkan selesai pada minggu ketiga Februari. Kemudian pada minggu keempat Februari akan dilakukan vaksinasi Tahap II.

“Kalau vaksinnya sudah datang, kami akan langsung berikan kepada para penerima vaksin tahap kedua,” ungkap Novarita, Selasa (16/2).

Vaksinasi Covid-19 akan dibagi menjadi empat tahap. Tahap I untuk para nakes dan non nakes yang bekerja di fasilitas kesehatan (faskes). Tahap II, vaksin akan diberikan kepada kelompok usia lanjut (di atas 60 tahun) dan petugas pelayanan publik. Tahap III, vaksinasi untuk masyarakat rentan dari aspek geospasial, sosial, dan ekonomi. Serta Tahap IV untuk masyarakat dari pelaku ekonomi.

“Yang termasuk petugas pelayanan publik adalah TNI/Polri, aparat hukum, dan pelayan publik lainnya. Seperti petugas terminal, bandara, atau pelabuhan, perusahaan listrik negara, Perusahaan Daerah Air Minum. Dan lainnya yang terlibat secara langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat,” jelasnya.

Untuk jadwal vaksinasi sendiri sudah ditentukan. Yaitu, Tahap I dilakukan pada Januari sampai minggu ketiga Februari. Tahap II pada minggu keempat Februari. Tahap III Mei sampai Juli 2021.

“Lalu tahap keempat akan diberikan pada Agustus sampai Desember 2021,” tutur Novarita.

Diketahui, Kota Depok mendapatkan vaksinasi sebanyak 1.490.511 vaksin. Yaitu, 60 persen dari jumlah penduduknya sekitar 2,4 juta penduduk. Tujuan dari pemberian vaksin kepada masyarakat adalah untuk membentuk kekebalan kelompok, menurunkan kesakitan dan juga kematian akibat Covid-19.

“Kemudian untuk melindungi dan memperkuat sistem kesehatan secara menyeluruh. Menjaga produktivitas serta meminimalkan dampak sosial,” tegasnya.

Berdasarkan data Kemenkes, sasaran penerima vaksin Covid-19 di Tahap II, di antaranya, lansia, tenaga pendidik, pedagang pasar, tokoh agama, wakil rakyat, pejabat negara, pegawai pemerintah, atlet, wartawan dan pekerja media, serta sektor pariwisata.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jabar, Dedi Supandi mengatakan, jika vaksinasi covid-19 untuk tenaga pendidik di Jabar akan dilaksanakan pada Maret 2021. Vaksinasi ini akan menyasar puluhan ribu tenaga pendidik, mulai dari guru hingga pegawai Dinas Pendidikan Provinsi Jabar.

“Diperkirakan ada 28.000 tenaga pendidik se-Jabar yang akan ikut divaksin,” ucap Dedi kepada Radar Depok, Selasa(16/2).

Mengingat banyaknya jumlah tenaga pendidik yang akan ikut vaksinasi ini, pihaknya sudah merancang tata cara pelaksanaan vaksinasi agar berjalan dengan lancar dan minim hambatan. Sebab, jika berkaca pada pelaksanaan vaksin tahap pertama, ucap Dedi, pihaknya melihat ada beberapa penumpukan antrean dalam pelaksanaan vaksinasi. Maka itu, ia kini mulai menyediakan tempat pelanyanan vaksinasi yang representatif.

“Pemberian vaksin ini yang harus kita perhatikan adalah aspek pelayanan tempatnya yang merujuk pada masing-masing kabupaten/kota. Yang harus diperhitungkan adalah waktu strateginya bagaimana saat vaksin tidak muncul keterlambatan atau penumpukan. Kalau dilihat meja layanan dari pendaftaraan screening, rata–rata di situ lama, kadang kala dengan tensi 140 tunda 30 menit untuk satu orang peserta, maka dari itu kita sedang merancang agar tidak terjadi penumpukan antrean di lokasi screening kesehatan,” tuturnya.

Dia mengaku, sudah memberikan sosialiasi kepada tenaga pendidik untuk melakukan medical check up dua sampai tiga hari menjelang vaksinasi, untuk mengurangi antrean di ruang screening. Lalu, pihaknya juga tengah mengusulkan agar gedung sekolah se-Jabar bisa dijadikan Pos Pelayanan pemberian vaksin guna memperbanyak tempat vaksinasi.

“Dengan banyaknya tenaga pendidik yang akan divaksin, pasti fasilitas kesehatan di kabupaten/kota tidak akan cukup untuk menampung percepatannya, maka kami usulkan agar gedung sekolah bisa dimanfaatkan,” terangnya.

Terkait daerah prioritas vaksin, lanjut Dedi, akan mengikuti kebijakan dari Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Provinsi Jabar. Kemungkinan besar sasaran priortiasnya sama seperti vaksinasi tahap pertama. “Kami ikut kebijakan Gugus Tugas, mungkin yang akan jadi priortias, Bogor Depok, Bekasi lagi seperti tahap pertama,” imbuhnya.

Ketika ditanya mengenai sekolah yang mengajukan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka, Dedi menyebutkan jika saat ini sudah ada 2.900 sekolah setingkat SMA, SMK, SLB sederajat yang sudah mengajukan KBM tatap muka, tapi tidak ada satu sekolah pun yang berasal dari Kota Depok. “Dari jumlah permohonan itu, kami lakukan evaluasi dan hanya 686 sekolah saja yang layak untuk melakukan KBM tatap muka. Akan tetapi, semua itu tergantung kebijakan gugus tugas masing–masing kabupeten/kota,” tuturnya.

Persyaratan bagi sekolah yang ingin melakukan KBM tatap muka, dijelaskan Dedi sudah diatur syaratnya berdasarkan SKB empat menteri. Jika semua syarat yang tertera di SKB itu sudah terpenuhi, barulah sekolah bisa mengajukan. “Syarat utamanya sekolah harus punya sarana cek kesehatan, alat cuci tangan, face shield dan masker,” tukasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Mohammad Thamrin mengaku, belum tahu kapan tenaga pendidik di Depok akan ikut vaksinasi. Namun menurutnya, Disdik Depok sudah memberikan data jumlah tenaga pendidik di Depok sesuai perintah Dinas Kesehatan Kota Depok. “Kami baru sebatas diminta data guru, baik negeri maupun swasta dari Dinas Kesehatan. Untuk pelaksanaan vaksinnya kami masih menunggu lebih lanjut dari Dinkes,” tutur Thamrin.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Novarita mengaku belum dapat menyebutkan berapa jumlah tenaga pendidik di Depok yang diajukan untuk ikut vaksinasi. Sebab, pihaknya hingga saat ini masih melakukan pendataan. “Sampai saat ini datanya masih dihitung dan belum selesai,” singkatnya. (rd/dis/dra)

 

Jurnalis: Putri Disa, Indra Abertnego

Editor: M. Agung HR