lahan sawah hilang
Indonesia kehilangan lahan sawah 150.000 hektar tiap tahunnya.

RADARDEPOK.COM, JAKARTA – Indonesia berpotensi kehilangan lahan sawah seluas 90.000 hektar pertahun. Itu adalah prediksi dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

Hal itu terjadi lantaran masifnya alih fungsi lahan sawah ke non-sawah dibandingkan dengan pembuatan lahan sawah baru per tahunnya.

Direktur Pengendalian Hak Tanah, Alih Fungsi Lahan, Kepulauan dan Wilayah Tertentu Asnawati mengatakan, secara nasional alih fungsi lahan sawah ke non-sawah tiap tahunnya tercatat rata-rata mencapai 150.000 hektar.

Sementara cetak lahan sawah baru hanya mencapai 60.000 hektar per tahun. Jadi, tidak seimbang antara adanya sawah baru dengan sawah yang dialih fungsikan ke lahan non sawah.

“Dengan sendirinya di sini akan ada potensi kehilangan lahan sawah sejumlah 90.000 hektar per tahunnya,” kata Asnawati.

Asnawati menjelaskan, ini berkaitan dengan meningkatnya jumlah populasi yang berpengaruh pada meningkatnya lahan yang dialih fungsikan dari sawah ke non-sawah. Tidak hanya tentang lahan sawah saja, tetapi ketahanan pangan secara nasional pun terancam.

Sementara di sisi lain, kebutuhan pangan juga ikut melesat. Sejak tahun 2015 hingga 2020 tercatat total kenaikan penduduk rerata mencapai 20 juta jiwa.

Artinya ada kenaikan sekitar 4,5 juta penduduk setiap tahunnya. Sementara produktivitas Gabah Kering Giling (GKG) dari tahun 2018-2020 justru masih di bawah angka kebutuhan padi nasional.

“Dengan kata lain, kebutuhan padi belum bisa memenuhi seluruh populasi,” imbuh Asnawati.

Karena itu, Kementerian ATR/BPN akan terus berupaya untuk menahan laju alih fungsi lahan sawah ke non-sawah tersebut dengan implementasi sejumlah peraturan. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya