vaksin di jepang

RADARDEPOK.COM – Di Jepang Vaksin Sinovac yang berasal dari China tidak dipercaya. Hal itu karena, sedikit sekali bukti-bukti dan data yang diungkap mengenai vaksin tersebut.

“Kita tidak bisa mempercayai vaksin Sinovac dari China tersebut, karena sangat sedikit sekali data yang diungkap. Jadi hampir tidak bisa dipercaya,” papar dokter Hiroyuki Moriuchi (69) Doktor dan Profesor Universitas Nagasaki dan Direktur Kelompok Sains Vaksin Jepang.

Menurutnya, banyak laporan seperti sakit panas yang cukup tinggi dan kekakuan tubuh setelah orang tersebut vaksinasi Sinovac.

“Sedikit sekali data yang dibuka dan penuh dengan hal-hal yang tidak jelas (tentang vaksin Sinovac) sampai saat ini, sehingga tidak bisa mempercayai vaksin tersebut,” tambahnya.

Namun, apabila data vaksin tersebut dibuka lebar-lebar dan terbukti baik hasilnya, serta jumlah yang diproduksibisa dipertanggungjawabkan, maka vaksin tersebut bisa ditinjau lebih lanjut.

“Kita sama sekali tak tahu mengenai vaksin Sinovac. Banyak hal tidak jelas di sana. Namun kalau semua diungkap secara terbuka dan data dengan jelas, pasti menyakinkan para ahli vaksin dunia. Data yang muncul saat ini sangat membingungkan, mungkin saja vaksin itu bisa ditinjau lebih lanjut dan dipertimbangkan dengan baik. Selama segalanya masih buram dan mendapatkan data yang berubah-ubah, kita semua tak akan percaya dengan Sinovac,” tambahnya lagi.

Itulah sebabnya Jepang lebih mempercayai Pfizer, Moderna dan Astrazeneca karena semua data lengkap dapat dipertanggungjawabkan dan diakui kalangan vaksin internasional di banyak negara, diakui di AS dan Eropa, termasuk oleh badan kesehatan dunia (WHO).

Meskipun demikian vaksin Sinovac sempat masuk diam-diam ke Jepang, dan seorang bos IT Jepang yang terkenal telah mencoba vaksin tersebut, tanpa komentar apa pun.

“Kalau vaksinnya bagus kan dia akan berkomentar. Tapi kalau diam saja umumnya semua orang Jepang tahu pasti ada yang tidak benar dengan vaksin China tersebut,” papar sumber di kalangan kementerian kesehatan Jepang. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya