januari tatap muka belajar
BELAJAR DARING: Sejumlah anak sekolah melakukan belajar daring dengan memanfaatkan wifi yang diberikan secara gratis di Aula RW06, Kelurahan Sukatani, Kecamatan Tapos. FOTO : DOK.RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Harapan orang tua anaknya bisa belajar seperti biasa, sepertinya bisa terwujud. Juli, bila tak ada halangan Dinas Pendidikan (Disdik) Depok, akan memberlakukan kegiatan belajar tatap muka (KBM) tatap muka. Saat ini prosesnya Disdik sudah mengusulkan    sebanyak 18.850 tenaga pendidikan di Depok, menerima vaksin Covid-19. Tenaga pendidik yang didaftarkan dari jenjang PAUD hingga SMP. Sedangkan untuk jenjang SMA ada di tingkat provinsi.

“Data guru semua kami sampaikan dari PAUD sampai SMP. Kalau SMA di provinsi. Data sudah disampaikan ke Dinas Kesehatan (Dinkes). Tapi, kuotanya berapa kami belum tahu,” kata Kepala Disdik Kota Depok, Mohammad Thamrin kepada Harian Radar Depok, Kamis (25/2).

Disdik, kata dia, sedang berkoordinasi apakah semua tenaga pendidikan yang didaftarkan divaksinasi semua atau tidak. Sejauh ini pihaknya hanya diminta data saja. “Kita sedang luruskan juga apakah semua guru divaksin, belum detail disampaikan Dinkes. Kami cuma diminta data saja,” jelasnya.

Dari data yang ada, jumlah tenaga pendidik di SMP sebanyak 5.206, Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) sebanyak 63, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebanyak 478, Dinas Pendidikan sebanyak 156, SD sebanyak 8.338 dan PAUD/TK sebanyak 4.609. Jumlah tersebut sudah termasuk tenaga operator, laboran dan pustakawan.

“Data sudah diserahkan ke Dinkes sejak seminggu lalu. Kemarin kami juga dimintakan titik tempatnya. Nanti di mana (pelaksanaan) sedang dirumuskan apakah di sekolah atau di mana, masih belum koordinasi dengan Dinkes,” ungkapnya.

Thamrin mengaku, belum tahu kapan pelaksanaan vaksinasinya. Dia hanya menunggu kebijakan dari dinas terkait saja. “Dari pusat informasinya Rabu kemarin. Tapi sampai saat ini kita (Depok) belum ada pencanangan dimulai,” katanya.

Vaksinasi kepada tenaga pendidik ini berkaitan dengan rencana pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM), di awal tahun ajaran baru pada Juli mendatang. Namun, semua itu masih perlu pembahasan lebih dalam.

“Persiapan belum sepenuhnya KBM tatap muka, karena kondisi ruang kelas terbatas. Satu kelas maksimal 20 anak. Kalau kemarin kita simulasi, tatap muka 3 hari dan 2 hari belajar dari rumah (BDR). Kita memperhatikan prokes. Jumlah maksimal anak 20, dan maksimal di sekolah 4 jam. Jadi tidak bisa seminggu tatap muka full,” paparnya.

Dengan kondisi Depok saat ini, KBM tatap muka diyakini terlaksana Juli mendatang. Karena diketahui Depok sudah berubah dari zona merah ke kuning dan orange. Kemudian sudah banyak RT yang masuk dalam zona hijau.

“Tergantung kondisi daerah masing-masing. Juni kami akan rapat dengan satgas dengan kondisi Depok. Saya Berharap Juni membaik dan kita lapor awal ajaran. Dengan kondisi saat ini terus membaik kita berharap bisa tatap muka,” paparnya.

Adanya kebijakan tersebut, Anggota Komisi D DPRD Depok, T Farida Rachmayanti menyebut,  In Syaa Allah masalah vaksin adalah masalah  solusi jangka panjang. Sedangkan untuk  solusi jangka pendek dan menengah penanganan pandemi adalah gerakan dan disiplin terhadap 5M, yang sudah berjalan di masyarakat. Termasuk dalam hal dunia pendidikan.

Menurutnya, dalam hal pelaksanaan vaksin sebagai ikhtiar bangsa untuk penanganan penularan Covid-19 harus berpegang pada kaidah keamanan, kebermanfaatan dan kualitas. Selain juga ketentraman, yakni vaksin bersifat halal. Walaupun sudah ada vaksin, lanjut Farida, terkait proses belajar off line yang akan kembali di mulai di Juli. Dia berharap kondisi saat itu benar-benar kondusif, bagi para siswa dan tenaga pendidik.

“Semoga Depok sudah dalam kondisi mengarah ke zona hijau. Karena masalah perlindungan dan keselamatan siswa (anak) menjadi hal yang utama,” ucapnya kepada Harian Radar Depok, Kamis (25/2).

Per 19 Februari 2021 lalu, data konfirmasi positif pada anak di bawah 17 tahun sebnayk  17,89%. Ini bisa menjadi pertimbangan sejak dini. Trend angka positif Covid-19 pada anak harus dalam pantauan, sehingga pengambilan kebijakan lokalnya  nanti bisa lebih presisi. Tentunya kaidah-kaidah 5 M tetap menjadi bingkai utama saat memang keputusan belajar on line diambil. “Lama belajar, ruang yang memadai, jumlah kehadiran siswa harus benar-benar dikaji sehingga sekolah nantinya tidak menjadi klaster penularan Covid-19 yang baru,” ungkapnya.

Sosialisasi dan edukasi pada anak didik dan orang tua siswa, sebaiknya dilakukan mulai sekarang. Sehingga mereka siap untuk menghadapi situasi baru belajae off line di masa pandemi. Tantangannya adalah menumbuhkan kesadaran pada diri mereka (siswa) untuk pro aktif mencegah penularan. “Semoga waktu 4 bulan ke depan ini efektif untuk menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, kepedulian, komitmen terhadap hal apapun yg dapat memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” tandasnya.(rd/peb/hmi)

Editor : Fahmi Akbar