listrik tidak efisien
ILUSTRASI

RADARDEPOK.COM, JAKARTA – Susut jaringan tenaga listrik di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara di Asia Tenggara. Berdasarkan catatan PT PLN (Persero) pada 2019, susut jaringan (losses) nasional tercatat 9,37 persen.

Di negara tetangga, seperti Singapura, susutnya mencapai 2,02 persen, Brunei 6,41 persen, Malaysia 5,79 persen, Thailand 6,11 persen, dan Vietnam 9,29 persen.

Susut jaringan ini merupakan parameter efisiensi jaringan tenaga listrik yang akan berpengaruh terhadap biaya pokok penyediaan (BPP) maupun kebutuhan subsidi listrik. Semakin tinggi angka susut jaringan, semakin tidak efisien penyediaan listrik.

Direktur Bisnis Regional Jawa Madura dan Bali PT PLN (Persero), Haryanto WS mengatakan, struktur pelanggan dan struktur jaringan kelistrikan PLN menjadi penyebab masih tingginya pencapaian susut.

“Dibandingkan utility best practice, kami dinilai tidak efisien. Ya memang. Akan tetapi ini akibat dari kondisi yang berbeda jauh dengan yang dihadapi mereka,” ujarnya.

Dia menuturkan, pencapaian susut turut dipengaruhi oleh konsumsi listrik per kapita. Konsumsi listrik per kapita tinggi dan pencapaian susut relatif rendah di negara maju. Sedangkan di negara berkembang, konsumsi listrik per kapita masih relatif rendah dan pencapaian susut relatif tinggi.

Konsumsi energi per kapita yang besar pada suatu negara dipengaruhi oleh komposisi pelanggan industri dan bisnis daya besar, yakni penjualan segmen pelanggan tegangan tinggi (TT) dan tegangan menengah (TM).

Komposisi pelanggan PLN lebih banyak didominasi oleh pelanggan tegangan rendah (TR) yang kontribusinya mencapai 61 persen, sedangkan pelanggan TM mencapai 32 persen, dan pelanggan TT hanya sebesar 7 persen.

Hal ini menyebabkan konsumsi energi per kapita Indonesia relatif rendah, yakni sekitar 972 kWh per kapita per tahun pada 2019, sehingga pencapaian susut lebih tinggi dibandingkan dengan negara maju yang konsumsi listrik per kapitanya lebih besar.

“Sederhananya pelanggan TT losses-nya kurang dari 1 persen, TM 2-3 persen, dan TR itu 10-15 persen. Artinya, semakin tinggi pelanggan TT dan TM, itu akan mengompensasi tingginya losses di pelanggan TR.  Best practice negara industri, pelanggan TT dan TM lebih dominan kontribusinya 70 persen. Artinya, losses ditentukan 70 persen pelanggan TT dan TM yang losses-nya hanya 1-3 persen saja,” jelas Haryanto.

Dari sisi struktur jaringan, persoalan susut, terutama di transmisi Jawa-Bali, masih dipengaruhi oleh isu regional balance system dan pola pengoperasian pembangkit untuk mendapatkan BPP yang paling rendah.

Dalam sistem kelistrikan Jawa-Bali, kata Haryanto, masih terdapat skenario continue transfer daya pada sistem transmisi dari timur ke barat karena permintaan listrik di wilayah timur masih rendah, sementara pasokan berlebih.

Sedangkan di bagian barat pasokan listrik masih kurang. Untuk menekan angka susut, idealnya transfer daya antardaerah memang harus diminimalkan atau bahkan tidak ada dan transfer daya hanya diperlukan ketika ada defisit pasokan dalam jangka pendek.

“Meski aliran daya dari timur ke barat dengan losses transmisi 2 persen, kami ternyata bisa turunkan BPP Jawa-Bali lebih rendah lagi. Ini karena kami alirkan listrik yang harganya jauh lebih murah daripada membangkitkan listrik di barat yang notabene banyak PLTGU, gas, yang jauh lebih mahal,” kata Haryanto.

Dia mengatakan bahwa menurunkan angka susut bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan investasi yang cukup besar.

Namun demikian, PLN berkomitmen untuk menurunkan susut jaringan sesuai mandat pemerintah. Salah satu upayannya adalah memperbaiki struktur jaringan transmisi di Jawa-Bali dengan membangun lebih banyak pembangkit di bagian barat.

Adapun pada 2020, PLN mencatat susut jaringan nasional mencapai 9,19 persen dari target yang ditetapkan sebesar 9,20 persen, sedangkan susut jaringan regional Jawa-Madura-Bali sebesar 8,4 persen. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya