ilustrasi
Ilustrasi

RADARDEPOK.COM – Konsumen otomotif Kota Depok yang berencana mau membeli mobil baru, harus menahan diri dahulu. Tak lama lagi, konsumen otomotif bisa membeli mobil baru berbagai tipe dengan harga yang lebih murah dari biasanya. Harga mobil baru akan turun mulai Maret 2021. Hal ini karena pemerintah menyetujui pemberian insentif pajak 0 persen untuk mobil baru, mulai dari low MPV, low SUV hingga sedan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam keterangan resminya mengatakan, insentif Pajak Penambahan Nilai atas Barang Mewah (PPnBM) 0 persen, diberikan kepada mobil dengan kriteria tertentu. Airlangga mengatakan, relaksasi akan diberikan kepada mobil penumpang 4×2, termasuk sedan dengan kubikasi mesin kurang dari 1.500 cc yang diproduksi di dalam negeri.

Dengan begitu, harga mobil mobil penumpang kurang dari 1.500 cc rakitan lokal atau berstatus completely knocked down (CKD) di Indonesia,. Dengan tingkat kandungan lokal yang tinggi diprediksi akan mengalami penurunan harga hingga puluhan juta rupiah. “Harapannya dengan insentif yang diberikan bagi kendaraan bermotor ini, konsumsi masyarakat berpenghasilan menengah atas akan meningkat,” ujar Airlangga.

“Meningkatkan utilisasi industri otomotif dan mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama tahun ini,” katanya.

Sekertaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, dari harga jual mobil nantinya memang sedikit berkurang. Tapi, dia meyakini bahwa permintaan mobil bisa kembali pulih.

Mengutip perhitungan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Susiwijono mengatakan, harga jual mobil tipe sedan di tingkat dealer saat ini berkisar Rp251 juta dengan adanya PPnBM.

“Kalau tidak ada relaksasi Rp251 juta on the road per sudah pakai bea balik plat kendaraan, PKB (Pajak Kendaraan Bermotor) PPnBM dan marjin penjualan di tingkat dealer dan sebagainya,” katanya secara virtual Selasa, 16 Februari 2021.

Namun, dengan adanya relaksasi atau insentif penurunan PPnBM tersebut menjadi 0 persen dari yang semula paling rendah 10 persen, maka harga jual mobil tipe sedan dikatakannya akan berkisar Rp229 juta. “Kalau dengan relaksasi ini kira-kira akan menjadi sekitar Rp229 jutaan. Jadi ada selisih sekitar Rp23 jutaan di sana. Sebenarnya memang yang kita harapkan memang ada hitungan kembali apakah cukup mendorong masyarakat konsumsi kendaraan,” ucap dia.

Susiwijono mengakui, pemerintah sadar bahwa kontribusi PPnBM terhadap keseluruhan komponen harga mobil terbilang kecil. Karena itu, dia menekankan perlu adanya sinergi kebijakan dengan otoritas keuangan lainnya.

Misalnya, dia melanjutkan, Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan bisa memasukkan kebijakan uang muka nol persen khusus otomotif termasuk relaksasi aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) kredit dan pembiayaan.

“Karena itu kita barengi dengan kebijakan lain. Pak Menko (Airlangga) sudah kirim surat dengan Bu Menteri Keuangan, OJK dan BI, kalau kita lihat karakteristik pembelahan kendaraan bermotor itu sebagian besar gunakan skema kredit,” ungkapnya.

Di luar itu, dia memastikan bahwa akan adanya kebijakan lanjutan yang mengiringi penurunan pajak mobil ini. Sebab, industri manufaktur di sektor otomotif ini memiliki efek pengganda yang besar terhadap perekonomian. “Kita bisa dorong konsumsi rumah tangga di mana share nya 57,6 persen kemudian dari sisi supply industri manufaktur 19,8 persen sehingga kalau kita lihat dua sisi ini yang akan kita jangkau dengan kebijakan PPnBM untuk otomotif,” paparnya.

Sebagai informasi, besaran insentif PPnBM ini akan dilakukan dengan proses bertahap mulai Maret 2021. Untuk tiga bulan pertama akan diberikan penurunan sebesar 100 persen dari tarif PPnBM.

Kemudian, untuk tiga bulan kedua, diberikan penurunan sebesar 50 persen dari tarif dan untuk tiga bulan ketiga akan diberikan penurunan sebesar 25 persen dari tarif. Sehingga, ada evaluasi tiap bulannya.

Di segmen MPV murah, hampir semua kontestan akan mendapat relaksasi pajak 0 persen tersebut. Misalnya Toyota Avanza yang saat ini dihargai mulai Rp 200,2 juta (tipe 1.3 E STD M/T) sampai Rp 231,250 juta (tipe 1.3 G A/T).

Dengan PPnBM Avanza sebesar 10 persen dan harga tipe terendah sebesar Rp200,2 juta, artinya mobil tersebut dikenakan PPnBM Rp20,020 juta. Sebetulnya ini hitungan kasar semata agar terlihat lebih mudah dianalogikan oleh konsumen.

Pasalnya, PPnBM dikenakan pada harga mobil dengan status off-the road. Sedangkan, harga yang ditawarkan model kepada konsumen sudah terbebani lagi dengan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang dikenakan pemerintah daerah yang nilainya berbeda-beda tiap provinsi di Indonesia.

Jadi, dengan estimasi hitungan di atas, kita tinggal mengurangi harga jual dengan PPnBM, yakni Rp200,2 juta dikurangi Rp20,020 juta hasilnya didapat Rp180,180 juta. Kemudian, berdasarkan perhitungan yang sama, Avanza tipe teratas harganya menjadi Rp208,125 juta.

Kepala Cabang Mitsubishi Depok, Chandra menuturkan, belum ada arahan dari MMKSI. Pihaknya masih menunggu implementasi pemerintah saja. “Kalau regulator yang menentukan, pengusaha harus ikut,” ujarnya.

Sementara itu, Kelapa Cabang Auto2000 GDC, Herry mengungkapkan, pihaknya masih menunggu release dulu dari kantor pusat atau Toyota Astra Motor. “Saya tidak bisa kasih komentar, soalnya masih dikaji di internal kami,” tegasnya singkat.(rd)

Editor : Fahmi Akbar