Minggu, Maret 7, 2021
Beranda Utama Mekanisme Vaksin Tahap II di Kota Depok Tunggu Pusat

Mekanisme Vaksin Tahap II di Kota Depok Tunggu Pusat

0
Mekanisme Vaksin Tahap II di Kota Depok Tunggu Pusat
Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Novarita. FOTO: IST

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Kota Depok Tahap Kedua telah dijadwalkan pada akhir Februari. Ditujukan untuk para petugas pelayanan publik. Namun, untuk mekanisme pemberian vaksin tahap kedua tersebut masih harus menunggu arahan pusat.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Novarita mengaku, mekanisme vaksinasi tahap kedua belum bisa dijelaskan. Karena masih menunggu arahan dari pusat, serta evaluasi mekanisme vaksinasi tahap pertama.

“Mekanisme tahap kedua masih belum fix, masih berubah-ubah. Kalau tahap pertama kemarin kan melalui SMS dan masih perlu dievaluasi lagi,” tutur Novarita kepada Harian Radar Depok, Rabu (17/2).

Lebih lanjut, pihaknya sudah melakukan pendataan untuk vaksinasi kedua. Pendataan dilakukan secara manual melalui Dinkes Kota Depok. “Kalau menggunakan metode yang kemarin masih banyak masukan. Jadi masih menunggu dari pusat juga mau gunakan yang bagaimana,” sambungnya.

Novarita juga mengatakan, sebenarnya para penyintas Covid-19 bisa menerima vaksin. Namun, disarankan yang utama adalah yang belum pernah terpapar. “Boleh vaksin, asal sudah lewat dari tiga bulan terpapar Covid-19nya,” tegasnya.

Salah satu yang akan menerima vaksin covid-19 tahap kedua, yaitu tenaga pendidik. Terkait rencana pemberian vaksin ini ditanggapi beragam oleh para guru. Seperti disampaikan guru SMP Ar-Ridha Al Salaam Islamic Green School Cinere, Suryadi. Ia mengaku setuju dengan diberikannya vaksin kepada tenaga pendidik. “Kalau saya secara pribadi sangat setuju dengan dilaksanakannya vaksin. Diharapkan bisa menjadi solusi untuk menyudahi pandemi yang telah memakan banyak korban jiwa, serta melumpuhkan aktivitas masyarakat,” ucap Suryadi kepada Radar Depok, Rabu (17/2).

Suryadi menyebutkan bahwa dirinya juga telah terdaftar sebagai penerima vaksin dan menyatakan kesiapannya. “Saya sudah terdaftar di SD Muhammadiyah 2 Sukmajaya, dikarenakan saya pernah mengajar di sana, dan disini baru. Sehingga, data yang dipakai yaitu di tempat saya sebelumnya,” terang Suryadi.

Senada, Kepala SMP Nurus Skhi, Maryani Ulfa menyatakan bahwa pihaknya juga setuju dengan vaksin yang akan diberikan kepada tenaga pendidik. “Saya pribadi setuju, karena saya yakin setiap kebijakan yang di berikan pemerintah pasti untuk kebaikan masyarakatnya,” ujarnya.

Meski begitu, ia tetap merasa sedikit khawatir terhadap vaksin yang akan diterimanya. “Walaupun ada rasa khwatir dari sisi manusia biasa, tapi Inshaallah ketika kebijakan mengharuskan kami menjadi sasaran vaksin tersebut saya setuju dan siap,” tandasnya.

Selain guru, agenda pemberian vaksin covid-19 juga disoroti oleh para pedagang.  Salah satu pedagang di Pasar Musi Kelurahan Abadijaya, Angga Munzir mengaku, bila vaksin tersebut memberikan dampak baik dalam urusan jual-beli, maka ia siap menerimanya

“Jika karena vaksin itu kami bisa berjualan bebas, dan lancar secara ekonomi seperti sedia kala, kenapa ngga? Lebih baik kami divaksin agar baik kedepannya,” kata Angga kepada Radar Depok, Rabu (17/2).

Menurutnya, beberapa orang yang takut divaksin disebabkan karena maraknya informasi di jejaring media sosial tanpa diketahui kebenarannya. “Mati urusan yang diatas, tanpa divaksin juga pasti akan mati. Tetapi yang menjadi permasalahan bukan itu, saya ingin bisa keluar dari permasalahan ekonomi, karena sepi dagangan saya, bayar sewa masih jalan,” bebernya.

Selain itu lanjutnya, bila pengadaan vaksin sudah ada sejak lama, dirinya sangat bersedia menjadi orang pertama yang mendaftar agar divaksin.

Hal berbeda disampaikan pedagang pakaian, Narsiah. Ia mengatakan, masih khawatir bila divaksin. “Saya tidak mau kalau harus divaksin, takut,” singkatnya.

Perlu diketahui, pemberian vaksin untuk para pedagang di pasar sudah dilakukan oleh pemerintah, dan yang pertama di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. (dis/tul/daf)

 

Jurnalis: Putri Disa, Lutviatul Fauziah, Daffa Syaifullah

Editor: M. Agung HR