Beranda Ruang Publik Mencoba Memahami Pemikiran Pak Haidar Bagir Mengenai Gagasan Pengembangan Pendidikan di Lazuardi

Mencoba Memahami Pemikiran Pak Haidar Bagir Mengenai Gagasan Pengembangan Pendidikan di Lazuardi

0
Mencoba Memahami Pemikiran Pak Haidar Bagir Mengenai Gagasan Pengembangan Pendidikan di Lazuardi

Oleh : Drs. Agus Purwanto, M.Pd

Kepala SMA Lazuardi GCS

 

PAK HAIDAR dalam salah satu webinar pendidikan  mengupas bukunya yang berjudul Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia, memberikan statemen bahwa problematika pendidikan yang ada di Indonesia adalah irelevansi, ketidakterkaitannya antara apa yang diberikan oleh guru-guru atau yang diterima oleh para siswa dengan apa yang dibutuhkan oleh siswa di masa yang akan datang. Saat ini sebagian besar guru-guru di Indonesia lebih banyak fokus pada penjejalan informasi, data dan pengetahuan yang sebenarnya tidak terlalu memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan otak atau pemikirian siswa. Sebagai contoh kalau guru terlalu fokus dalam pemberian data ke siswa maka akan menjadi tidak relevan dengan upaya pengembangan pemikiran siswa karena data bersifat offsolid. Misalnya data terkait covid 19 dari menit ke menit berubah dengan sangat cepat. Sayangnya, ada banyak guru yang menjadikan data tersebut sebagai alat ujian dengan jawaban harus sama dengan data yang pernah diberikan oleh guru beberapa waktu  yang lalu.

Selain data, banyak juga guru yang fokus dalam penjejalan informasi kepada siswa yang membuat isi otak siswa overload dengan beragam informasi yang tidak ada kaitannya dengan pengembangan pemikiran siswa. Akhirnya  siswa stres, otaknya tidak berkembang, dan yang dipelajari tidak bermanfaat bagi masa depannya. Selain itu, informasi yang disampaikan oleh guru belum tentu valid alias ¬hoax. Sayangnya, masih ada guru di Indonesia yang juga menjadikan informasi yang bisa jadi hoax sebagai alat ujian dengan menjadikan informasi tersebut sebagai salah satu pilihan dalam jawaban pilihan ganda.

Selain data dan informasi, masih Alhamdulillah jika guru menjejali otak siswa dengan beragam pengetahuan, yang tentunya lebih bersifat ilmiah dan dapat dijamin validitasnya dibandingkan dengan informasi dan data. Bagaimanapun, penjejalan pengetahuan juga tidak akan  terlalu  memberikan manfaat   bagi pengembangan otak atau pemikiran siswa jika guru hanya berhenti pada ranah C1 (¬hafalan) dan C2 (pemahaman) menurut hirarki taksonomi bloom. Sebagai contoh, masih ada guru yang meminta siswa menghafal ukuran tiang volly, yang bisa jadi ada anak-anak tidak berminat main volly apalagi memasang net volly. Ada juga guru-guru yang meminta siswa menghafal ukuran panjang dan lebar lapangan basket, yang bisa jadi dalam seumur hidupnya tidak pernah berkepentingan untuk mengukur apalagi membuat lapangan basket. Beberapa tahun lalu pak Haidar juga pernah memberikan contoh ada guru Olah Raga yang mengajarkan siswa teori tentang berenang tetapi tidak pernah mengajarkan siswa berenang. Sehingga secara teori sangat bagus, namun saat dicemplungkan ke kolam renang akan kelelep alias tenggelam. Pak Haidar juga menambahkan bahwa dalam jaringan sekolah Lazuardi, beliau mengharamkan guru guru mengajarkan teori-teori tajwid, namun beliau mewajibkan guru guru mengajarkan siswa membaca Al Quran dengan tajwid yang benar. Banyak sekali siswa yang memperoleh nilai ilmu tajwid bagus, namun tidak bagus dalam membaca Al Quran.

Seorang filosof Yunani bernama Plutarch pernah mengingatkan kita sejak beberapa abad yang lalu bahwa “….otak/ pemikiran bukanlah bejana yang selalu diisi air, namun otak/ pemikiran merupakan lilin yang siap dinyalakan, api yang siap dikobarkan….”.  Penjejalan informasi, data, pengetahuan ternyata tidak memberikan efek signifikan terhadap perkembangan otak/ pemikiran jika apa yang dilakukan oleh guru untuk siswanya tidak menstimulus siswa untuk menjadi kreatif, percaya diri, passionate (kecintaan pada apa yang lakukannya), dan berakhlaq.

Hal ini sesuai dengan apa yang di katakan oleh John Holt dalam How Children Fail “… kegagalan akademis siswa bukanlah akibat tidak adanya/ kurangnya upaya sekolah, melainkan justru akibat ‘ulah’ sekolah…. “. John Holt sangat ekstrim dalam statemennya, yang bisa dipersepsikan bahwa jika anak anda tidak ingin gagal sebaiknya jangan disekolahkan, karena sekolah hanya membuat anak anda menjadi gagal.

Dalam buku Quantum learning juga tidak kalah ekstrimnya, mengatakan bahwa “….. jika anda ingin menghentikan kreativitas anak anda, caranya adalah dengan mengirim anak anda ke sekolah…”. Dalam buku tersebut disampaikan bahwa sekolah dapat menghentikan kreatifitas siswa hanya dalam waktu 6 bulan. Ini harus jadi bahan renungan untuk seluruh guru yang ada di Indonesia termasuk guru Lazuardi agar mengubah pendekatan pengajarannya dari penjejalan informasi, data, ataupun pengetahuan, ke pendekatan yang dapat memfasilitasi anak anak agar menjadi kreatif, self confidence, passionate dan  berkarakter.

Oleh karena itu di SMA lazuardi, menggunakan pendekatan tematik integrative dan project-based learning menjadi salah satu alternatif di dalam meningkatkan kreatifitas siswa, self-confidence, passion, dan berkarakter.  Pelajaran disampaikan dengan tema tertentu yg dilaksanakan selama 1 bulan. Pembahasan dilakukan dengan disertai diskusi dengan siswa. Di akhir tiap-tiap bulan, siswa akan membuat project yang merupakan  praktik dari apa yang sudah mereka pelajari selama ini ( hands on learning ). Dengan sistem pembelajaran seperti ini anak menjadi faham makna dari apa yang dipelajarinya karena mereka sudah mendengar, memahami dan kemudian mempraktikkannya. Merekapun berbahagia dengan kesempatan beraktifitas yang diberikan sekolah di setiap akhir bulan.  Misalnya dalam  tema social awareness anak- anak langsung berfikir apa yang akan mereka lakukan untuk mempraktikkan tema tersebut. Kreativitas anak-anak jadi sangat variatif. Mulai dari bersedekah, membagi nasi bungkus, mengadakan observasi tentang bullying di kalangan remaja, membahas tentang LGBT, menyambangi lembaga pemasyarakatan dan menjadi imam solat disana.

Testimoni siswa mengenai cara belajar seperti ini, mereka merasa belajar seperti tak ada beban, terasa ringan dan bahkan agak merasa khawatir jangan-jangan materi pembelajaranya kurang  mencukupi.  Cocok dengan apa yang disampaikan Pak Haidar, bahwa  metode pengajaran yang ditawarkan ke siswa harusnya menjadikan siswa berkreasi kemudian gagal, berkreasi lagi dan gagal lagi  demikian seterusnya sampai berhasil dan  siswa benar benar menjadi kreatif, percaya diri, memiliki passion (kecintaan dalam belajar) dan membangun karakter (kemandirian, tanggung jawab, dan memiliki integritas). (*)