Donor Plasma Konvalesen
DONOR PLASMA: Ketua PMI Kota Depok, Dudi Mir’az saat menjalani donor plasma konvalesen untuk kedua kalinya di ruang Unit Donor Darah (UDD) Markas PMI Kota Depok, Jalan Boulevard GDC, Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilodong, Selasa (23/2). FOTO: ARNET/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK — Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Depok terus berupaya menangani pandemi covid-19. Kali ini, Ketua PMI Kota Depok Dudi Mir’az kembali mendonorkan plasma konvalesen untuk kedua kalinya di Markas PMI, Jalan Boulevard GDC, Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilodong, Selasa (23/2).

“Alhamdulillah ini kedua kalinya saya donor plasma konvalesen. Hal ini dilakukan karena masih terbentuk antibodi, setelah saya terpapar beberapa bulan lalu,” ungkap Dudi kepada Radar Depok.

Menurutnya, donor konvalesen ini sebagai bentuk rasa syukur serta berupaya menurunkan angka penyebaran menggunakan darah konvalesen. Sehingga upaya terapi dengan cara darah konvalesen bisa dilakukan secara masif.

“Saat ini ada 100 Rumah Sakit yang kerja sama dengan PMI untuk menyalurkan darah tersebut, sedangkan persedian darah PMI hanya dua kantung,” terang Dudi.

Seluruh Rumah Sakit yang bekerja sama dengan PMI, yang akan dijadikan prioritas utama adalah rumah sakit di Depok, baik swasta maupun negeri. Setelah itu baru rumah sakit lainnya yang dekat dengan Kota Depok. Ia menjelaskan, donor darah kedua lebih simpel dari pada donor darah, karena hanya melalui beberapa tahap, seperti wawancara dan jalani rapid tes antibodi. Jika antibodi sudah terdeteksi, langsung masuk dalam tahap donor.

“Sekarang jauh lebih cepat, sekitar 48 menit. Dapat 600 cc darah, jumlah segitu bisa memberikan tiga pasien covid-19. Kalau donor pertama sampai 60 menit proses donornya,” bebernya.

Dudi berharap, upaya ini sebagai bentuk ikhtiar dengan terapi darah konvalesen agar pandemi berangsur-angsur membaik sehingga kehidupan bisa berjalan kembali normal. Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk melakukan donor darah konvalesen, yang tentunya melalui tahapan yang berlaku. (rd/arn)

 

Jurnalis: Arnet Kelmanutu

Editor: M. Agung HR