bareskrim polri laporan
Koalisi Masyarakat Anti Ketidakadilan melaporkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) atas kasus kerumunan di Maumere, NTT ditolak polisi.

RADARDEPOK.COM, JAKARTA – Laporan dari Koalisi Masyarakat Anti Ketidakadilan terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) atas kasus kerumunan di Maumere, NTT ditolak.

Presiden Jokowi, dilaporkan atas dugaan pelanggaran protokol kesehatan (Prokes) saat melakukan kunjungan kerja di Maumere pada Selasa (22/02).

Atas penolakan itu, Koalisi Masyarakat Anti Ketidakadilan mengaku sangat kecewa, karena polisi tak mau menerbitkan laporan polisi atas dugaan pelanggaran prokes itu.

Hal itu disampaikan Ketua Koalisi Masyarakat Anti Ketidakadilan, Kurnia, melalui keterangannya, Kamis (25/02).

“Kami sangat kecewa kepada pihak kepolisian yang tidak mau menerbitkan Laporan Polisi atas laporan kami terhadap terduga pelaku tindak pidana Pelanggaran Kekarantinaan Kesehatan yakni sang Presiden,” kata dia.

Kurnia menuturkan, penolakan laporan pelanggaran protokol kesehatan yang dilayangkan pihaknya tersebut, semakin membuktikan bahwa penegakan hukum di Indonesia sudah tebang pilih.

“Kami mempertanyakan azas persamaan kedudukan di hadapan hukum (equality before the law). Apakah masih ada di Republik ini?” sindirnya.

Sebelumnya, Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin menatakan, peristiwa itu terjadi dalam kunjungan kerja Presiden ke Maumere, NTT, Selasa (23/2).

“Benar itu video di Maumere. Setibanya di Maumere, presiden dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju Bendungan Napun Gete,” kata Bey kepada wartawan, Selasa (23/2).

Ia menceritakan, sebelum kedatangan Presiden, masyarakat sudah lebih dulu menunggu dan berjajar di sepanjang jalan.

Lantaran banyak masyarakat yang mendekat, membuat iring-iringan mobil menjadi terhambat.

Saat itulah masyarakat semakin mendekat untuk menyapa Jokowi dari dekat.

“Jadi sebenarnya itu melihat spontanitas dan antusiasme masyarakat Maumere menyambut kedatangan Presiden Jokowi,” terangnya.

Bey menerangkan, aksi presiden dengan menampakkan diri melalui sunroof itu merupakan bentuk kepedulian kepada masyarakat.

“Kebetulan mobil yang digunakan presiden atapnya dapat dibuka, sehingga presiden dapat menyapa masyarakat, sekaligus mengingatkan penggunaan masker,” kata dia.

Hal itu ditunjukkan dengan gestur presiden yang beberapa kali menunjuk masker yang ia kenakan.

Sementara aksi membagi-bagikan sesuatu kepada masyarakat dilakukan merupakan bentuk spontanitas saja.

“Itu spontanitas presiden untuk menghargai antusiasme masyarakat,” terangnya.

Suvernir yang dibagikan yakni buku, kaos dan masker.

“Poinnya, presiden tetap mengingatkan warga tetap menaati protokol kesehatan,” tandasnya. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya