musim hujan terbasah

RADARDEPOK.COM, JAKARTA – Koordinator Bidang Analisis Variabilitas Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG), Supari mengatakan, musim hujan periode 2020-2021 di Indonesia masuk dalam lima tahun terbasah sepanjang 40 tahun ke belakang atau sejak tahun 1981.

“Dari analisis umumnya memang tahun 2020 (periode musim hujan 2020-2021) itu kecenderungannya (musim hujan) basah. Jadi kalau kita rangking (secara) nasional begitu, tahun 2020-2021 itu masuk dalam lima besar tahun terbasah,”┬ákata Supari.

Seperti diketahui, perhitungan musim hujan tidak hanya dihitung sejak awal setiap tahunnya. Sebab, umumnya wilayah Indonesia sudah memasuki musim hujan sejak bulan Oktober akhir hingga awal November.

BMKG pada tahun 2020 telah mengeluarkan keterangan resminya bahwa musim hujan di Indonesia periode 2020-2021 di sebagian wilayahnya sudah terjadi sejak akhir Oktober, dan sebagian lagi baru memasuki musim hujan pada November.

Periode musim hujan tersebut diprediksikan akan berlangsung hingga Maret-April 2021.

Supari menjelaskan, sebenarnya kondisi musim hujan yang lebih basah ini juga telah disampaikan sejak prediksi awal musim hujan bulan Oktober 2020 dikarenakan beberapa faktor sebagai berikut :

1. Adanya La Nina

“Gangguan apa yang disebut dengan La Nina ini sudah kita rilis awal Oktober (2020) lalu, ya, itu memengaruhi tingkat keparahan atmosfer meningkatkan curah hujan,” kata dia.

Meskipun selama periode musim hujan 2020 ini, ia menambahkan, tingkat keparahan dan meningkatnya curah hujan ini tidak merata di seluruh wilayah Indonesia.

Namun, jika diakumulasi berdasarkan analisis secara nasional, maka kita mendapati nilai rata-rata keseluruhan menjadi lebih basah dibandingkan kondisi normalnya.

2. Suhu perairan

Supari mengatakan, dulu ketika menjelang awal musim penghujan Oktober 2020 lalu, suhu perairan di Indonesia cukup signifikan hangat, sehingga itu juga memicu peningkatan curah hujan terjadi.

3. Gangguan iklim sub-seasonal

Gangguan iklim sub-seasonal atau gangguan intra musiman (gangguan iklim jangka pendek), juga disebutkan menjadi faktor lainnya yang memicu kondisi musim hujan periode 2020-2021 lebih basah.

“Gangguan iklim jangka pendek yang itu juga akan meningkatkan curah hujan pada sebagian wilayah,” ucap dia.

Tetapi, pengaruh gangguan iklim sub-seasonal ini hanya untuk jangka pendek, dengan kata lain tidak terjadi sepanjang musim hujan periode kali ini berlangsung.

Melainkan hanya beberapa waktu, seperti misalnya yang terjadi di wilayah Jawa barat pada awal bulan Februari 2021, yang hampir setiap hari dalam seminggu diguyur hujan terus menerus.

“Tapi, ingat curah hujan dan kondisi lebih basah yang meningkat itu karena banyak faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan periodenya panjang sekitar 4-5 bulan, itu tidak mungkin hanya satu faktor, tapi banyak kombinasi faktor iklim yang bekerja,” jelasnya.

Oleh karena itu, Supari mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak bencana hidrometeorologi yang mungkin terjadi dari adanya cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi.

Terutama di wilayah rawan di Pulau Sumatera, sebagian Sulawesi, Bali hingga Nusa Tenggara. Namun, untuk wilayah pesisir timur Sumatera dan Kalimantan bagian Barat, pada bulan Februari ini justru sedang mengalami periode curah hujan yang rendah.

Sehingga, perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap tindakan-tindakan yang bisa berpotensi memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya