Beranda Utama Anton Medan Sudah Siapkan Makam Sejak 15 Tahun

Anton Medan Sudah Siapkan Makam Sejak 15 Tahun

0
Anton Medan Sudah Siapkan Makam Sejak 15 Tahun
BERDUKA: Menantu Anton Medan, Syamsul Bahri Radjam saat berada di depan jenazah Anton Medan, di kediaman Anton Medan, di Pondok Pesantren At-Taibin, Pondok Rajeg, Cibinong Bogor, Senin (15/3). FOTO: PUTRI DISA/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK — Muhammad Ramdhan Efendi atau dikenal dengan nama Anton Medan meninggal dunia pada Senin (15/3) sekitar pukul 15.00 WIB di usia 64 tahun.

Menantu Anton Medan, Syamsul Bahri Radjam menjelaskan kronologi Anton Medan meninggal dunia, berawal pada Senin (15/3) sekitar pukul 10.00 wib, Anton tidak sadarkan diri padahal sebelumnya masih sempat ngobrol bersama.

Karena tidak sadarkan diri, keluarga berinisiatif membawa Anton ke RSUD Cibinong. Setelah diperiksa, dokter memastikan bahwa Anton Medan sudah meninggal.

“Karena sudah dipastikan tidak ada, almarhum dibawa pulang ke rumah,” tutur Syamsul kepada Radar Depok, saat ditemui di rumah duka, Kelurahan Pondok Rajeg, Kabupaten Bogor, Senin (15/3).

Syamsul menyebutkan, Anton akan dimakamkan pada Selasa (16/3) tepat di samping Masjid Tan Hok Liang. Makam tersebut sudah dipersiapkan Anton sejak 15 tahun lalu. Menurut Syamsul, Anton selalu berkata sebaik-baiknya nasehat adalah tentang kematian, agar hidup ini selalu ingat akan kematian. “Makam ini sudah almarhum siapkan sejak tahun 2006, atau sekitar 15 tahun lalu,” ucapnya.

Syamsul menceritakan perjalanan Anton dalam membangun pesantren dengan luas sekitar 700 meter. Tepatnya pada tahun 2002, pesantren dibangun dari usahanya sendiri. Yang dimulai dari usaha percetakan sampai peternakan. Uangnya sedikit demi sedikit dikumpulkan dan dibangun pesantren yang sekarang dinamai Pesantren At-Taibin.

Bahkan, saat ada orang yang memberi untuk pembangunan pesantren, almarhum sempat menolaknya. Bukan dikarenakan sombong, namun Anton merasa tidak ingin merepotkan orang lain dan ingin membangun pesantren dengan keringatnya sendiri. “Almarhum selalu mengajarkan orang lain agar bisa semangat dan berkorban dari apa yang dihasilkannya sendiri. Bahkan almarhum tidak takut jika tidak populer. Prinsipnya adalah jika memilih jalan kebenaran, maka baik itu ada tantangan. Dan jangan sampai takut untuk berbuat baik,” ujarnya.

Perjalanan pesantren yang dibuatnya tidak selalu berjalan mulus, bahkan pesantren yang awalnya dikhususkan untuk para mantan narapidana akhirnya sudah tidak berfungsi sejak lima tahun lalu. Walaupun pesantren sudah non-aktif, Anton tetap sering mengunjungi rutan untuk berbagi rezeki kepada para narapidana. “Almarhum biasanya sebulan empat kali ke rutan untuk berbagi rezeki. Biasanya diberikan dalam bentuk TV dan lainnya. Anton juga pecinta tanaman dan hewan. Seperti kucing dan burung, ia sangat baik,” sambung menantu dari anak kedua Anton.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Arta Dharmadi menilai, selama ini sosok ketua umum PITI yaitu Anton Medan lebih dikenal daripada PITI. Dan Anton selalu berupaya agar PITI dikenal. Pasalnya, PITI bertujuan melakukan syiar Islam dikalangan etnis tionghoa dan menjadi jembatan antara tionghoa Islam dan non-Islam. “Anton berusaha untuk selalu ada di tiap kegiatannya. Entah bantuan sosial atau apapun, dengan biayanya sendiri,” tuturnya.

Terkait pembangunan pondok pesantren At-Taibin, Arta mengatakan, Anton membangunnya bersamaan dengan Masjid Tan Hok Liang. Pada awalnya, pesantren tersebut didirikan untuk para narapidana yang baru keluar. Namun, lambat laun pesantren tersebut diperuntukkan juga bagi masyarakat sekitar. “Narapidana yang selesai menjalani hukuman dibina di pondok pesantren. Kemudian baru dilepas lagi ke masyarakat. Intinya, almarhum adalah orang yang sangat baik dan meninggalkan kesan baik bagi kita semua,” pungkasnya.

Ponpes itu menjadi tempat peristirahatan terakhir Anton Medan. Ia sejak dulu memang bercita-cita membangun sebuah ponpes bagi mualaf Tionghoa, dan mantan narapidana yang ingin belajar agama. Pada tahun 2002 cita-citanya pun terwujud membangun sebuah ponpes. Namun, saat itu yang pertama kali dibangun oleh Anton yaitu kuburan yang akan menjadi tempat peristirahatan akhirnya. Lokasi makam tersebut berada tepat di sebelah kanan Masjid Tan Hok Liang, yang didesain dengan gaya bangunan Tionghoa.

Anton Medan meninggal dunia pada Senin (15/3) di kediamannya di Pondok Rajeg, Cibinong. Disebutkan bahwa Anton meninggal setelah berjuang melawan sakit stroke dan diabetes yang diidapnya.

Terpisah, Anton Medan lahir pada 10 Oktober 1957 di Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Anton punya rekam jejak panjang di dunia kriminal sebelum bertobat dan menjadi penceramah. Ia mengaku telah 14 kali keluar masuk penjara sejak kecil. Ia kerap terjerat pidana karena melakukan perampokan.

Pada 1992 Anton Medan memeluk agama Islam. Ia kemudian mendirikan Pondok Pesantren At-Taibin di Cibinong, dan Masjid Jami Tan Hok Liang. Bangunan masjid itu memiliki gaya khas yang terinspirasi gaya bangunan Tionghoa. Ia membangun masjid dan ponpes itu untuk memenuhi cita-citanya membuat tempat belajar agama bagi para mantan narapidana. (rd/dis/**)

 

Jurnalis: Putri Disa

Editor: M. Agung HR