Beranda Utama Ini Penyebab Indonesia Menunda Penggunaaan Vaksin AstraZeneca

Ini Penyebab Indonesia Menunda Penggunaaan Vaksin AstraZeneca

0
Ini Penyebab Indonesia Menunda Penggunaaan Vaksin AstraZeneca

RADARDEPOK.COM, JAKARTA – Vaksin AstraZeneca yang merupakan sumbangan dari World Health Organization (WHO) untuk Indonesia ditunda penggunaannya. Hal ini berkaitan dengan adanya laporan kasus pembekuan darah peserta vaksin.

Walaupun Badan Pengawas Obat dan Makanan memastikan bahwa nomor produksi batch vaksin AstraZeneca yang masuk ke Indonesia beda dengan yang ditangguhkan di Uni Eropa.

Kepala BPOM, Penny Kusmastuti Lukito, menjelaskan, ada dua jalur vaksin AstraZeneca yang akan masuk ke Indonesia. Pertama melalui jalur multilateral WHO dengan emergency use listing, kedua dengan hubungan bilateral.

Penny mengaku tidak sembarangan dalam menerbitkan Emergency Use Authorization terkait vaksin ini.

“Kami tidak langsung menerima begitu saja, kita lakukan full evaluation juga. Sebagai mana seperti vaksin lainnya. Kita dapat confidential agreement dari WHO yang sifatnya rahasia dan kita lakukan evaluasi full, setelah itu kita terbitkan EUA di 22 Februari 2021,” jelas Penny.

Terkait vaksin yang di tangguhkan, Penny menjelaskan, dengan adanya data yang diterima dari WHO dan data mutu, BPOM mengklaim mengetahui dapat keamanan dari vaksin AstraZeneca bahwa ada kasus mengenai pembekuan darah.

“Tapi dipastikan nomor produksi batch yang di Indonesia beda dengan yang ditangguhkan di Uni Eropa tersebut,” jelas Penny.

Tapi untuk kehati-hatian, Penny mengatakan terus berkomunikasi dengan WHO dan SAGE (Strategic Advisory Group of Experts on Immunization) masih dalam proses. Dari hasil itu akan dibahas dengan kementerian terkait untuk pengambilan keputusan dalam vaksinasi nasional.

“Harapannya tidak terlalu lama,” jelasnya.

Sementara AstraZeneca produksi Thailand saat ini masih dalam proses tambahan bridging analysis yang selesai pada April 2021. Guna mendapat comparibilty study untuk menyamakan dengan AstraZeneca sebelumnya. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya