Beranda Satelit Depok Kisah Hidup Cahyo yang Menginspirasi : Jualan Semprong Keliling, Mampu Kuliahkan Anak

Kisah Hidup Cahyo yang Menginspirasi : Jualan Semprong Keliling, Mampu Kuliahkan Anak

0
Kisah Hidup Cahyo yang Menginspirasi : Jualan Semprong Keliling, Mampu Kuliahkan Anak
INSPIRATIF : Cahyo, seorang pedagang semprong keliling yang berhasil menguliahkan anaknya. RADAR DEPOK

Usia yang tak lagi muda, tak mampu mengikis semangat di dalam tubuh Cahyo. Kegigihannya luar biasa. Patut diacungi jempol dengan ikhlas. Berkat kerja kerasnya jualan semprong keliling, ia mampu menyekolahkan anaknya sampai ke bangku kuliah.

===============================

RADARDEPOK.COM, Berkeliling dibawah terik sinar matahari dengan menggendong dagangannya. Berat. Tapi tak dihiraukan oleh pria berkulit legam ini. Keringatnya, menjadi saksi kerja kerasnya menyusuri aspal, menjajaki dagangan.

Sudah tujuh tahun ia menggeluti profesi ini. Meninggalkan anak dan istri di kampung. Cahyo adalah bapak dari dua orang anak laki-laki, yang berhasil ia sekolahkan hingga keduanya tamat. Bahkan si sulung, berhasil menyelesiakn pendidikan di perguruan tinggi di Tegal.

Cahyo tinggal bersama satu teman seperantuannya, di kontrakan dibelakang Margo City. Tempatnya mungkin sempit, namun cukuplah untuk mereka berdua tinggali.

Bangun dari subuh untuk mulai menggulung-gulung semprong yang nantinya akan ia jual. Biasanya ia berkeliling dari kontrakannya hingga Stasiun Citayam. Bahkan ia pernah berkeliling sampai Stasiun Nambo. Terik panas dan rintikan hujan tak ia hiraukan.

Asalkan bisa mengirimkan uang ke kampung,” ungkapnya.

Istinya pun bekerja serabutan di kampung, untuk membantu kebutuhan serta sekolah anak–anaknya. Anak pertama mereka yang sudah menyelesaikan kuliah, kini sudah bekerja. Lumayan, bisa bantu-bantu membiayai si bungsu yang duduk di bangkus kelas 2 SMK.

Setiap harinya dari hasil berkrliling semprong Cahyo berhasil mengumplkan Rp50 ribu sampai Rp250ribu per hari. Uang itu ia sisihkan untuk makan sehari-hari dan membeli bahan semprong. Jika ada lebih, akan ditabung.

Semprong yang ia jual ini adalah buatan ia dan temanya yang tentunya akan dibagi hasil berdua. Mengadu nasib di kota adalah keputusannya sejak ia berusia 40 tahun. Kini ia sudah berusia 52 tahun, langkah kaki yang mulai tak bisa diajak berjalan cepat dan nafas yang mulai terasa berat.

Semua itu ia lakukan demi melihat anak-anaknya sukses. Tidak merasakan hal sama, seperti saat ini dirinya.

Harapan Cahyo, cuma ingin melihat anaknya sukses dan tamat kuliah semua. Serta mendapatkan pekerjaan yang layak. Barulah ia bisa pulang ke kampung. Beristirahat menikmati masa tua. (rd/mg6)

Editor : Junior Williandro