mimbar jumat april
Ketua MUI Kota Depok, KH A Mahfudz Anwar.

RADARDEPOK.COM – Banyak orang punya asumsi bahwa beragama itu tidak boleh kaya. Sehingga banyak contoh di masyarakat, kalau ada orang  sedikit kaya, sudah langsung dikritik sebagai pecinta dunia (hubbud dunya). Baru punya satu toko kelontong, bisnis kelas menengah ke bawah, sudah dicibir sebagai hubbud dun-ya yang dianggap dikecam oleh agama.

Hal ini menyebabkan banyak orang muslim yang pada akhirnya kurang kerja keras, takut dicap hubbud dun-ya. Padahal kalau kita mau jujur, bahwa Islam memerintahkan perbuatan baik/ibadah yang banyak membutuhkan harta dunia.

Islam mengajarkan Ibadah haji dan umrah –misalnya- adalah ibadah yang memerlukan biaya besar. Untuk bisa melaksanakan ibadah umrah atau haji, harus mengeluarkan uang banyak. Kalau tidak punya uang banyak, maka tidak bisa melaksanakan ibadah haji/umrah tersebut. Islam mengajarkan umatnya agar ber-zakat, bersedekah, wakaf dan lain-lainnya. Bagaimana seseorang bisa zakat, kalau saja tidak memiliki uang banyak. Zakat mal (zakat kekayaan) minimal harus punya uang simpanan yang besar atau mencapai satu nisab. Dan sudah mengendap selama satu tahun (haul).

Dan orang yang bisa berzakat hanyalah orang-orang yang kaya harta. Dan disebut muzakki. Sementara yang berhak menerima pemberian zakat, namanya mustahik (orang yang berhak memperoleh bagian zakat). Maka untuk bisa mengeluarkan zakat atau berbagi harta pada orang lain haruslah punya banyak harta terlebih dahulu. Minset ” muzakki” ini harus menjadi mental muslim kebanyakan, agar umat Islam mampu membiayai hidupnya sendiri, tanpa subsidi. Dan kuncinya etos kerja yang rajin dan disiplin (istiqamah).

Jadi sebenarnya umat Islam menjadi kaya itu juga ajaran agama. Beragama itu tidak hanya ibadah mahdlah saja. Tapi juga ghairu mahdlah (termasuk berbisnis) juga bisa dikategorikan ibadah. Baiun mabrurun (jual beli yang jujur) bisnis yang baik, yang syar’i juga menjadi ajaran agama yang seharusnya menjadi bagian dari pendidikan umat Islam. Tapi walaupun demikian, tetap ada batasannya. Karena orang mencari harta itu tidak ada batasnya. Ingin memiliki harta sebanyak-banyaknya, tanpa batas itu tidak baik. Lalu apa batasnya ? Batasnya adalah zakat yang harus dikeluarkan setiap tahun. Di samping zakat, juga masih ada lagi, yaitu bersedekah, mewakafkan sebagian hartanya dsb.

Seandanyainya umat Islam kini mempunyai mental muzakki semua, insyaAllah roda ekonomi dikuasai umat Islam. Dan kebutuhan hidup untuk kebutuhan ibadah dan kebutuhan sehari-hari bisa tercukupi, bahkan lebih dari cukup. Pada zaman dahulu, banyak Ulama Salaf yang kaya-kaya, mereka di samping mendalami ibadah dan ilmu-ilmu agama, tapi juga berkecimpung dalam bisnis. Para pembawa Islam ke Indonesia juga banyak yang melalui bisnis. Jadi tidak semata-mata berdakwah saja. Tapi sambil bisnis, mereka mengembangkan dakwah Islamiyah.

Demikian juga para Kiai di Jawa. Mereka –pada umumnya- memiliki sawah yang luas. Pertanian yang cukup. Lalu masyarakat di sekitarnya banyak yang merasa tersantuni, mereka merasa terbantu oleh para Kiai yang memiliki asset sawah yang luas. Sehingga bisa bekerja di tempat Pak Kiai, sambil mengaji Ilmu-ilmu agama. Maka di kemudian hari muncullah Pondok-Pondok Pesantren sebagai basis tempat mengaji Ilmu-ilmu agama.

Jadi Para Kiai itu adalah orang kaya yang bekerja keras, disiplin dan ulet. Disertai praktek ibadah yang kuat. Sehingga menjadi panutan masyarakat sekitarnya. Jadi kalau ada Kiai yang kaya, itu bukan hanya sekarang. Dari dulu sudah banyak para Kiai sekaligus Petani kaya. Yang bisa menyantuni warga sekitar yang pada akhirnya menjadi satu kelompok yang kuat dalam mengamalkan dan menyebarkan Islam. Wallahu a’lam.(rd)

Editor : Fahmi Akbar