Beranda Ruang Publik Potret Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan Jawa Barat di Masa Pandemi

Potret Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan Jawa Barat di Masa Pandemi

0
Potret Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan Jawa Barat di Masa Pandemi

Oleh : Wawan Kurniawan

Statistisi di Badan Pusat Statistik

 

PANDEMI Covid-19 menghantam perekonomian Indonesia hingga resesi sejak kuartal III tahun 2020. Di Jawa Barat, dampak ekonominya tidak jauh berbeda. Selama pandemi kinerja ekonomi Jawa Barat mengalami tekanan. Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat tahun 2020 menjadi anomali pertumbuhan ekonomi selama lima tahun terakhir.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat mencatat pertumbuhan ekonomi Jawa Barat tahun 2020 mengalami kontraksi -2,44 persen atau terjadi penurunan sebesar 5,02 persen (c-to-c) dari tahun 2019. Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat tahun 2020 di luar kebiasaan. Biasanya pertumbuhan ekonomi Jawa Barat bergerak di kisaran angka positif 5 persen. Sebelas sektor ekonomi berkontribusi terhadap pertubuhnan ekonomi negatif tersebut. Salah satu sektor yang paling berkontribusi terhadap kontraksi pertumbuhan ekonomi Jawa Barat adalah sektor jasa perusahaan dengan laju pertumbuhan sebesar -18,38 persen. Adanya moratorium kegiatan umrah dan haji serta pembatasan kegiatan pengelola objek wisata selama pandemi, menjadi salah satu penyebab tertekannya pertumbuhan ekonomi pada sektor ini. 

Sementara sektor informasi dan komunikasi menjadi satu dari lima sektor yang tetap tumbuh selama pandemi dan dominan mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat sebesar 34,64 persen. Sektor informasi dan komunikasi juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi Jawa Barat, yakni sebesar 1,48 persen. Hal ini cukup beralasan, selama pandemi aktivitas kerja, pendidikan, seminar, dan aktivitas lainnya sebagian besar dilakukan secara online. Sehingga perubahan pola aktivitas tersebut mampu mendorong peningkatan ekonomi digital di Jawa Barat dan berdampak positif terhadap sektor informasi dan komunikasi.

Sektor Terdampak dan Tangguh

Selain sektor jasa sektor jasa perusahaan, tiga sektor lain yang paling terdampak pandemi adalah sektor perdagangan, sektor pengadaan listrik dan gas, serta sektor administrasi pemerintahan. Penurunan daya beli masyarakat berkontribusi terhadap penurunan laju pertumbuhan ekonomi pada sektor perdagangan sebesar -7,94 persen. Pembatasan kegiatan perkantoran dan industri selama pandemi mempengaruhi jumlah pemakaian listrik dan gas, sehingga menekan laju pertumbuhan ekonomi pada sektor pengadaan listrik dan gas sebesar -7,62 persen. Adanya instruksi presiden terkait refocusing anggaran pemerintah daerah untuk percepatan penanganan Covid-19, berdampak pada terhentinya beberapa kegiatan proyek fisik dan non fisik Pemerintah Jawa Barat. Hal ini menjadi salah satu penyebab tertekannya laju pertumbuhan ekonomi pada sektor administrasi pemerintahan sebesar -6,92 persen.

Pada saat yang sama, disamping sektor informasi dan komunikasi, tiga sektor lain yang juga tangguh dan tetap mampu tumbuh di masa pandemi adalah sektor pengadaan air, sektor jasa pendidikan, dan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Kebiasaan mencuci tangan selama pandemi mendorong meningkatnya penggunaan air, sehingga mampu mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi pada sektor pengadaan air sebesar 10,80 persen. Kegiatan pendidikan tetap berjalan selama pandemi, walaupun dilakukan secara online. Sehingga pembayaran biaya pendidikan tetap dilakukan. Hal ini mendorong sektor jasa pendidikan tetap mampu tumbuh di masa pandemi dengan laju pertumbuhan sebesar 6,69 persen. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan merupakan sektor yang juga tangguh dan mampu tetap tumbuh selama pandemi. Hal ini cukup beralasan, karena kebutuhan bahan pokok selama masa pandemi tetap mengalami peningkatan. Sektor ini juga menjadi salah satu sektor yang aktivitasnya tidak diwajibkan PSBB. Selain itu, permintaan produk hasil pertanian dan perikanan untuk ekspor masih relatif tinggi. Sektor ini tetap mampu tumbuh dengan laju pertumbuhan sebesar 2,29 persen.

Kemiskinan dan Ketimpangan

BPS Provinsi Jawa barat juga mencatat sekitar 6,36 juta penduduk usia kerja Jawa Barat terdampak pandemi Covid-19 atau 16,96 persen dari total penduduk usia kerja. Hal ini menjadi salah satu pemicu terjadinya peningkatan penduduk miskin di Jawa Barat. Pada September 2020 tercatat penduduk miskin Jawa Barat sebanyak 4,19 juta jiwa atau 8,43 persen dari penduduk Jawa Barat. Terjadi kenaikan jumlah penduduk miskin sebanyak 268,29 ribu jiwa atau 0,55 persen dari Maret 2020.

Di sisi lain, ketimpangan pendapatan masyarakat Jawa Barat yang diukur melalui Gini Ratio, justru mengalami penurunan dari 0,403 pada Maret 2020 menjadi 0,398 pada September 2020. Penurunan nilai Gini Ratio di wilayah perkotaan berkontribusi terhadap penurunan nilai Gini Ratio Jawa Barat.

Optimalisasi Sektor Unggulan dan Perlindungan Sosial

Guna terus mendongkrak pertumbuhan ekonomi, Pemerintah Jawa Barat dan pihak yang terkait perlu menyiapkan instrumen kebijakan untuk mengoptimalkan produksi pada sektor unggulan yang mampu bertahan di masa pandemi. Namun tidak hanya berfokus pada upaya-upaya peningkatan produksi, tapi juga bagaimana meningkatkan perlindungan sosial kepada masyarakat yang rentan terkena dampak ekonomi sebagai imbas dari pandemi Covid-19. (*)

 

statistik