Beranda Utama Setiap Bulan, Ada 129 Miliar Masker Sekali Pakai yang Dibuang

Setiap Bulan, Ada 129 Miliar Masker Sekali Pakai yang Dibuang

0
Setiap Bulan, Ada 129 Miliar Masker Sekali Pakai yang Dibuang
Sampah masker sekali pakai menjadi masalah baru untuk lingkungan.

RADARDEPOK.COM – Selama pandemi virus Koron (Covid-19), mengenakan masker menjadi sesuatu hal yang wajib. Namun rupanya permintaan yang sangat besar terhadap masker sekali pakai turut melahirkan kekhawatiran baru, yakni sampahnya.

Para ahli khawatir, jika penggunaan masker sekali pakai yang meningkat itu tak dibarengi dengan pengelolaan limbah masker dengan benar dan akan menimbulkan ancaman besar bagi alam.

Melansir dari Independent, Selasa (16/03); studi terbaru memperkirakan ada sekitar 129 miliar masker sekali pakai di seluruh dunia yang digunakan setiap bulannya.

Itu artinya penggunaan masker oleh penduduk bumi, rata-rata mencapai 2,8 juta per menit. Para peneliti memperingatkan, volume besar masker dengan komposisi plastiknya dapat menimbulkan ancaman lingkungan yang makin besar.

Ahli toksikologi lingkungan dari Universitas Denmark Selatan, Elvis Genbo Xu dan seorang ahli teknik sipil dan lingkungan di Universitas Princeton, profesor Zhiyong Jason Ren mengungkapkan, jika masker sekali pakai adalah produk plastik yang sulit terurai secara hayati.

Namun produk plastik tersebut, dapat terfragmentasi menjadi partikel plastik lebih kecil yaitu mikro dan nanoplastik yang dapat tersebar luas di ekosistem.

Produksi masker sekali pakai memiliki skala yang sama dengan botol plastik yang diperkirakan mencapai 43 miliar per bulan.

Namun tak seperti botol plastik yang 25 persennya didaur ulang, para peneliti menyebut bahwa tak ada panduan resmi tentang daur ulang masker sehingga kemungkinan besar akan dibuang dengan cara yang tak tepat.

Jika tak bisa didaur ulang, masker sekali pakai dapat berakhir di lingkungan, sistem air tawar, dan laut, di mana pelapukan akhirnya menghasilkan sejumlah besar partikel berukuran mikro (lebih kecil dari 5mm).

Fragmen lebih lanjut kemudian akan membuatnya menjadi nanoplastik (lebih kecil dari 1 mikrometer). Proses tersebut terjadi sangat cepat, bahkan terjadi dalam hitungan minggu.

“Akibatnya saat rusak di lingkungan, masker dapat melepaskan lebih banyak plastik berukuran mikro, lebih mudah dan cepat daripada plastik curah seperti kantong plastik,” ungkap para peneliti.

Meski begitu, para peneliti menekankan bahwa mereka tak tahu persis bagaimana masker berkontribusi pada sejumlah besar partikel plastik yang terdeteksi di lingkungan karena tak ada data mengenai degradasi masker di alam.

“Tapi kami tahu bahwa seperti sampah plastik lainnya, masker sekali pakai juga dapat menumpuk dan melepaskan zat kimia dan biologi berbahaya, seperti bisphenol A, logam berat, serta mikro-organisme patogen,” kata Dr Genbo Xu.

Hal tersebut dapat menimbulkan dampak negatif tak langsung pada tumbuhan, hewan, dan manusia. Para peneliti pun mendesak untuk menyiapkan tempat sampah khusus masker.

Selain itu, mereka juga mendorong penggunaan masker kain yang dapat dipakai ulang, mengembangkan masker sekali pakai yang dapat terurai secara hayati, dan menerapkan manajemen limbah standar untuk membuang masker. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya