Sekolah Ilmu Lingkungan UI
ZOOM: Soft launching ‘Lapor Banjir Depok bersama OPD Kota Depok, yaitu Bappeda, Diskominfo, Dinas Damkar, Dinas PUPR, serta komunitas IT melalui Zoom dan live streaming Youtube Humas SIL dan SKSG UI, Rabu (24/3). Aplikasi dapat diakses oleh warga Depok pada Playstore secara gratis dan mudah didapatkan. FOTO: IST

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Berangkat dari kejadian banjir masif  di wilayah Jabodetabek pada Januari 2020, yang diprediksikan memiliki siklus banjir dalam rentang waktu tertentu, maka Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (SIL UI) mengambil lokasi Kota Depok untuk mengembangkan prototipe aplikasi berbasis android, bernama ‘Lapor Banjir Depok’.

Aplikasi berfungsi untuk mengolah data dan informasi terkait bencana banjir, yang dialami oleh masyarakat dalam bentuk spasial kewilayahan. Pengembangan ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dalam ketahanan kota terhadap banjir berbasis masyarakat cerdas.

Maka itu, telah dilakukan soft launching ‘Lapor Banjir Depok’ bersama OPD Kota Depok. Di antaranya BAPPEDA, Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang serta komunitas IT melalui Zoom dan live streaming Youtube Humas SIL dan SKSG UI. Aplikasi dapat diakses oleh warga Depok pada Playstore secara gratis dan mudah didapatkan.

“Lapor Banjir Depok memiliki fitur penyediaan informasi banjir perkotaan, dimana masyarakat mendapat informasi tentang cuaca dari waktu ke waktu, memberi laporan kejadian banjir yang terjadi di sekitarnya, juga fitur menu respon darurat pada nomor-nomor penting yang dimiliki sebagai hotline Kota Depok,” ungkap Mahasiswi SIL UI Angkatan 38B, yang merupakan salah satu anggota tim Pengmas SIL UI, Betsy Kurniami.

Kegiatan pengembangan aplikasi Lapor Banjir Depok ini, didukung oleh Hibah Pengabdian Masyarakat UI berskema IPTEKS bagi Masyarakat 2020, dalam sektor kebencanaan di perkotaan.

Program Depok Smart City mendukung adanya pemanfaatan IoT untuk mewadahi aspirasi masyarakat. Aplikasi yang telah dimiliki Pemkot adalah Sigap Depok sebagai pelaporan warga yang sudah ada.

“Sehingga Lapor Banjir Depok diharapkan dapat menjadi pengembangan tingkat lanjutan, untuk dapat diintegrasikan dengan Sigap Depok tersebut. Aplikasi ini dapat membantu, baik Satgas Banjir maupun masyarakat luas untuk sama-sama mengawal perkembangan bencana banjir secara real-time,” ujar Betsy.

SIL UI
Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia

Sementara itu, Hayati Sari Hasibuan menjelaskan, aplikasi ini berkonsep crowdmapping yang sudah lebih dulu dimanfaatkan di negara-negara maju sebagai bentuk partisipasi aktif masyarakat cerdas. “Kami juga melakukan kajian pada kemampuan serta aksesibilitas masyarakat terhadap teknologi, khususnya ponsel di Kota Depok yang sudah sangat memadai sehingga cukup relevan,” tuturnya.

Aplikasi ini telah diuji coba dengan input data saat terjadi banjir pada Februari 2021 di Kota Depok sebanyak 25 titik. Beberapa kelurahan terkena banjir dapat dideteksi dari kejadian banjir. Selanjutnya aplikasi masih perlu diuji tekanan dan kerentanannya lebih jauh untuk diproduksi secara masal bagi 2 juta jiwa penduduk. Aplikasi ini dapat menjadi dukungan serta baseline bagi penyusunan kebijakan untuk pengelolaan banjir apalagi di masa Pandemi sekarang. (gun/**)