SMK Al Muhtadin Cipayung
MEMANTAU PRAKTIK: Para guru SMK Al Muhtadin Cipayung sedang memantau para siswa yang melakukan praktik IT, Rabu (10/3). FOTO: KHOIRUN NISA/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, CIPAYUNG – Meski di tengah pandemi, SMK Al Muhtadin di Jalan Raya Cipayung terus berinovasi, salah satunya dengan melakukan pelatihan berbasis digital atau Informasi Teknologi (IT) kepada para guru dan siswanya. Pelatihan ini dilakukan secara offline dan bergiliran, serta tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Kepala SMK Al Muhtadin, Sahadi menuturkan, dimasa pandemi ini pendidikan tidak boleh menyerah, harus tetap berinovasi. Meski tidak ada tatap muka, tapi tetap dipantau setiap kegiatan siswa.

“Pelatihan digelar secara Work From Home dan offline, kami tetap menerapkan protokol kesehatan. Sistem yang dipakai dalam pelatihan ini berbasis IT. Tidak hanya untuk guru, tetapi bagi siswa dan orang tua,” ungkap Sahadi kepada Radar Depok.

Selain itu lanjut Sahadi, hikmah dari kegiatan ini agar semua bisa melek teknologi. Tetapi ia berharap, para siswa bisa memanfaatkan teknologi khususnya gadget dengan baik, dan tidak disalahgunakan.

“Progres kerjasama antara wali kelas, guru yang memberikan laporan kepada kepala sekolah harus mencapai target, meski tidak seratus persen. Lambat laun guru dan murid sudah terbiasa dengan aplikasi, seperti Zoom,” tutur Sahadi.

Namun, di sisi lain terkadang ia menemukan kendala, yaitu jaringan. Untuk mengatasi hal itu, pemerintah dan sekolah memberikan kebijakan berupa kuota internet bagi para siswa. Kemudian para guru difasilitasi WiFi di sekolah bagi yang memiliki jam mengajar, dan yang tidak tetap Work From Home.

“Kami memiliki kebijakan, karena dituntut keterampilan selain pengetahuan. Kebijakan praktik di sekolah tetap mengikuti SOP kesehatan, dan secara bergilir. Usai praktik tidak ada kerumunan, siswa langsung pulang,” tegasnya.

Tidak hanya itu, siswa yang memiliki kendala seperti tidak memiliki perangkat atau pun ponsel akan didata oleh guru. Karena harus tetap mengikuti ujian. Guru pun dituntut untuk membuat modul tutorial di youtube, agar siswa bisa mengulang pelajaran yang tertinggal.

“Kedepannya berbasis digital harus ditanamkan adalah Pendidikan karakter ke mereka bahwa ponsel ada waktu kapan digunakannya,” pungkasnya. (rd/mg8)

 

Jurnalis: Khoirun Nisa

Editor: M. Agung HR