terlambat musim kemarau
ILUSTRASI

RADARDEPOK.COM – Diprediksi 58 persen di wilayah Zona Musim (ZOM) Indonesia akan terlambat memasuki Musim Kemarau 2021.

“BMKG memprediksi peralihan angin monsun akan terjadi pada akhir Maret 2021 dan setelah itu Monsun Australia akan mulai aktif. Karena itu, musim kemarau 2021 diprediksi akan mulai terjadi pada April 2021,” kata Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati .

Sehingga, di beberapa wilayah akan mengalami awal musim kemarau pada bulan yang berbeda mulai dari bulan April, Mei dan Juni.

Berikut daftar wilayah dan prediksi awal musim kemarau 2021.

Awal Musim Kemarau April 2021

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal menjelaskan bahwa dari total 342 ZOM di Indonesia, sebanyak 22,8 persen diprediksi akan mengawali Musim Kemarau pada bulan April 2021.

Beberapa zona musim yang masuk kategori ini yakni:

  • Sekitar Nusa Tenggara
  • Bali
  • Sebagian Jawa

Awal Musim Kemarau Mei 2021

Berikutnya, sekitar 30,4 persen wilayah ZOM justru akan memasuki Musim Kemarau pada Mei 2021.

Di antaranya seperti berikut:

  • Sumatera
  • Jawa
  • Sebagaian Kalimantan
  • Sebagian Sulawesi
  • Sebagian kecil Maluku
  • Papua

Awal Musim Kemarau Juni 2021

Sementara itu, sebanyak 27.5 persen wilayah akan memasuki Musim Kemarau pada Juni 2021.

Wilayah yang memasuki kemarau Juni 2021 antara lain:

  • Sebagian Sumatera
  • Jawa
  • Sebagian Kalimantan
  • Sebagian Sulawesi
  • Sebagian kecil Maluku
  • Papua

Dijelaskan Herizal, jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologis awal musim kemarau pada periode 1981-2010, awal musim kemarau 2021 di Indonesia diprakirakan mundur pada 197 ZOM (57,6 persen), sama pada 97 ZOM (282,4 persen), dan maju pada 48 ZOM (14,0 persen).

Selanjutnya, apabila dibandingkan terhadap rerata klimatologis Akumulasi Curah Hujan Musim Kemarau (periode 1981-2010), maka secara umum kondisi Musim Kemarau 2021 diprakirakan normal atau sama dengan rerata klimatologisnya pada 182 ZOM (53,2 persen).

“Musim kemarau pada tahun 2021 akan datang lebih lambat dengan akumulasi curah hujan yang mirip dengan kondisi musim kemarau biasanya. Artinya, musim kemarau 2021 cenderung normal dan kecil peluang terjadinya kekeringan ekstreem, seperti musim kemarau tahun 2015 dan 2019,” ujar Herizal.

Akan tetapi, sejumlah 119 ZOM atau sebanyak 34,8 persen akan mengalami kemarau atas normal atau musim kemarau lebih basah yaitu curah hujan masih lebih tinggi dari rerata klimatologisnya.

Sedangkan, di 41 ZOM atau 12,0 persen akan mengalami bawah normal atau musim kemarau lebih kering. Maksudnya, curah hujan lebih rendah dari reratanya. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya