ilustrasi sidang
ILUSTRASI

RADARDEPOK.COM, DEPOK – MAHTK alias Amir (48) dituntut penjara tujuh tahun, atas kasus pencabulan dibawah umur.

Humas Pengadilan Negeri (PN) Depok, Ahmad Fadil, menerangkan kasus tersebut masuk dalam nomor perkara 556/Pid.Sus/2020/PN Dpk, dengan ditangani oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ivan Rinaldi.

Dalam tuntutannya, perbuatan terdakwa telah terbukti bersalah sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 76E jo Pasal 82 ayat (1) Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Dari tujuh tahun, akan dipotong masa tahanan yang sudah dijalankan selama ini. Terdakwa juga kena denda Rp200 juta subsider enam bulan,” terang Fadil saat dikonfirmasi.

Saat melangsungkan pembacaan dakwaan, JPU menyampaikan bahwa terdakwa melakukan aksinya pada Kamis (25/6) sekira pukul 08:30 WIB bertempat di rumah terdakwa, Kecamatan Sukmajaya.

Terdakwa juga diketahui melakukan ancaman, kekerasan, pemaksaan, tipu muslihat dan serangkai kebohongan untuk merayu korban yang berusia 14 tahun melakukan cabul,” beber Fadil.

Kejadian berawal ketika korban berinisial QM sedang duduk di teras kediamannya bersama saksi berinisial SAF. Saat itu, Terdakwa memanggil keduanya untuk membelikan sebungkus rokok ke warung dengan memberikan uang sebesar Rp20 Ribu.

Usai membelikan rokok. QM bersama SAF menyerahkan rokok kepada terdakwa, setelah itu disuruh terdakwa untuk berbaring di kamarnya. Selanjutnya, QM yang saat itu hanya tidur-tiduran lalu dipangku terdakwa.

Keduanya disuruh mandi, tapi menolak. Lalu SAF ditampar terdakwa. Selanjutnya keduanmya dimandikan terdakwa, lalu terdakwa mencium dan meraba sejumlah area sensitif korban,” bebernya.

Fadil menjelaskan, sesuai hasil Visum et Repertum yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit Bhayangkara Dumai Nomor : R / 193 /VER-PPT-KSA/VI/2020/Rumkit Bhay Tk I tanggal 28 Juni 2020 yang ditandatangani oleh Dr. Shitta Devi, telah dilakukan pemeriksaan pada anak korban QM dengan kesimpulan telah diperiksa seorang perempuan yang berumur 14 tahun pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan tanda-tanda perlukaan, pada pemeriksaan alat kelamin didapatkan selaput dara utuh, pada pemeriksaan psikologi didapatkan trauma paska kejadian.

Terdakwa telah terbukti bersalah sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 76E jo Pasal 82 ayat (1) UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,” tandasnya. (rd/arn)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Junior Williandro