ilustrasi perbandingan vaksin
ILUSTRASI

RADARDEPOK.COM – Lebih dari 1,1 juta dosis vaksin bikinan Oxford-AstraZeneca tida di Indonesia Senin (8/3) sore melalui skema COVAX dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Adapun jenis vaksin yang datang adalah Astrazeneca sebanyak 1.113.600 vaksin, dengan total berat 4,1 ton.

Dengan kedatangan vaksin AstraZeneca, artinya ada dua jenis vaksin yang akan segera digunakan di Indonesia, yakni Sinovac dan AstraZeneca. Lalu apa perbedaan kedua vaksin tersebut?

1. Teknologi vaksin

Vaksin AstraZeneca

Vaksin AstraZeneca-Oxford adalah vaksin vektor adenovirus simpanse. Ini berarti bahwa tim pengembang vaksin mengambil virus yang biasanya menginfeksi simpanse, dan dimodifikasi secara genetik untuk menghindari kemungkinan konsekuensi penyakit pada manusia.

Virus yang dimodifikasi ini membawa sebagian dari Covid-19 coronavirus yang disebut protein spike, bagian menonjol seperti paku yang ada di permukaan virus corona SARS-CoV-2.

Saat vaksin dikirim ke sel manusia, ini memicu respons kekebalan terhadap protein spike, menghasilkan antibodi dan sel memori yang akan mampu mengenali virus penyebab Covid-19.

Vaksin vektor adenovirus telah dikembangkan sejak lama, khususnya untuk melawan malaria, HIV, dan Ebola.

Vaksin Sinovac

Sementara vaksin yang dibuat Sinovac menggunakan inactivated virus atau virus utuh yang sudah dimatikan.

Tujuannya adalah memicu sistem kekebalan tubuh terhadap virus tanpa menimbulkan respons penyakit yang serius. Metode inactivated virus adalah metode yang sering dipakai dalam pengembangan vaksin lain seperti polio dan flu.

2. Efikasi

Vaksin AstraZeneca

Pada makalah yang diterbitkan pada Januari, penulis menjelaskan bahwa vaksin menawarkan perlindungan 64,1 persen setelah setidaknya satu dosis standar. Selain itu, efikasi jika diberikan dalam dua dosis adalah 70,4 persen.

Lalu pada orang yang meminum setengah dosis kemudian satu dosis penuh efikasinya 90 persen. Komite Vaksin memperkirakan dari tiga minggu hingga 9-12 minggu setelah penyuntikan pertama, vaksin dapat mencegah sekitar 70 persen kasus penyakit serius.

Vaksin Sinovac

Efikasi vaksin CoronaVac buatan Sinovac Biotech berdasarkan uji klinis fase ketiga di Indonesia sebesar 65,3 persen.

“Vaksin Sinovac yang diuji di Indonesia hasilnya per tanggal 9 Januari 2021 memiliki keamanan baik, imunogenesitas 99 persen, dan efikasi vaksin 65,3 persen,” kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Unpad Kusnandi Rusmil.

Selain Indonesia, Turki dan Brasil juga sudah mengumumkan. Di Turki efikasi Sinovac mencapai 91,25 persen dan Brasil sebesar 50,4 persen.

Hasil ketiga negara berbeda-beda karena pengaruh karakteristik subjek ujinya, menurut ahli alergi dan imunologi Iris Rengganis.

3. Efek samping

Vaksin AstraZeneca

Dilansir www.gov.uk, dalam uji klinis vaksin AstraZeneca, sebagian besar efek samping yang dirasakan dalam kategori ringan hingga sedang.

Kebanyakan efek samping hilang dalam beberapa hari, tapi ada juga yang sampai seminggu setelah vaksinasi.

Efek samping yang sangat umum (dialami lebih dari 1 pada 10 orang):

  • Nyeri, gatal, atau memar di area suntikan
  • Merasa lelah
  • Menggigil atau demam
  • Sakit kepala
  • Mual
  • Nyeri sendi atau nyeri otot

Efek samping umum (memengaruhi 1 dari 10 orang):

  • Bengkak, kemerahan, atau muncul benjolan di tempat suntikan
  • Demam
  • Muntah atau diare
  • Gejala mirip flu seperti demam, radang tenggorokan, pilek, batuk

Efek samping jarang (memengaruhi 1 dari 100 orang):

  • Napsu makan menurun
  • Sakit perut
  • Kelenjar getah bening membesar
  • Keringat berlebih Kulit gatal atau ruam

Vaksin sinovac

Pada vaksin Sinovac, efek samping yang dialami ringan hingga sedang. Setelah vaksinasi, kebanyakan orang merasakan nyeri di sekitar tempat suntikan. Efek samping yang paling banyak terjadi adalah gatal dan mengantuk.

4. Usia penerima

Vaksin AstraZeneca

Melansir BBC, 29 Januari 2021, otoritas vaksinasi Jerman menegaskan suntikan vaksin AstraZeneca hanya boleh diberikan kepada orang berusia di bawah 65 tahun.

Kemudian, direkomendasikan kepada orang berusia 18-64 tahun di setiap tahap.

Para ilmuwan yang melakukan uji coba vaksin AstraZeneca di Inggris menemukan bahwa orang di atas 65 tahun mempunyai respons kekebalan yang kuat terhadap vaksin.

Setelah menerima suntikan, darah akan mempunyai banyak antibodi yang dibutuhkan untuk melawan virus corona.

Vaksin Sinovac

Usia prioritas penerima vaksin Sinovac adalah orang dewasa sehat usia 18-59 tahun. Pada Senin, 8 Februari 2021, vaksin Sinovac mendapat izin untuk diberikan kepada kelompok masyarakat lanjut usia (lansia) di atas 60 tahun.

Keputusan tersebut disampaikan pemerintah melalui terbitnya izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terhadap vaksin Sinovac untuk masyarakat usia di atas 60 tahun.

5. Penyimpanan

Vaksin AstraZeneca

Penyimpanan vaksin AstraZeneca dinilai tak rumit, karena tidak membutuhkan suhu dingin yang ekstrem seperti beberapa jenis vaksin lainnya.

Vaksin yang dikembangkan AstraZeneca tidak memerlukan pembekuan pada suhu minus 70 derajat. Vaksin bisa disimpan di lemari es standar dengan suhu berkisar 2-8 derajat celcius, dan tetap bertahan selama enam bulan.

Hal ini akan memudahkan proses distribusi vaksin ke daerah-daerah sasaran penerima vaksin.

Vaksin Sinovac

Vaksin Covid-19 buatan Sinovac hanya membutuhkan penyimpanan dalam lemari es, dengan standar suhu 2-8 derajat celcius, dan dapat bertahan hingga 3 tahun lamanya.

6. Kemampuan melawan varian baru

Vaksin AstraZeneca

Kepala perusahaan di balik vaksin Oxford-AstraZeneca menyampaikan bahwa para peneliti yakin vaksin yang dikembangkannya efektif melawan jenis varian virus baru B.1.17.

“Sejauh ini kami pikir vaksin harus tetap efektif. Tapi kami tidak bisa memastikan, jadi kami akan mengujinya,” ujar Kepala Eksekutif Astra Zeneca Pascal Soriot.

Seperti diketahui, mutasi virus corona ini telah membuat peningkatan kasus di Inggris, Amerika Serikat, dan beberapa negara lainnya.

Vaksin Sinovac Vaksin Sinovac yang ada di Indonesia saat ini masih efektif melawan varian baru B.1.1.7.

Dokter spesialis paru di Primaya Hospital Makassar, DR dr M Harun Iskandar, SpPD, SpP(K) menyarankan agar masyarakat tetap mengikuti vaksinasi. Sebab, secara teori, varian B.1.1.7 hanya berubah sebagian dari Covid-19 yang belum bermutasi.

Sehingga, antibodi yang muncul setelah vaksinasi dianggap masih bisa mencegah paparan Covid-19 varian B.1.1.7. Disebutkan pula bahwa beberapa penelitian menunjukkan, perubahan struktur virus Covid-19 varian baru B.1.1.7 tidak terlalu signifikan dari Covid-19 yang belum bermutasi, sehingga program Covid-19 masih ampuh dalam menghalang penyebaran virus. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya