Kuda Latih Tapos
LATIH KUDA: Seorang pelatih kuda sedang melatih kuda di Muyassar Stable, di kawasan Kecamatan Tapos. FOTO: IST

Mengunjungi Kandang Kuda Muyassar Stable (1)

RADARDEPOK.COM, Siapa sangka, di Kota Depok terdapat tempat pemeliharaan kuda yang cukup besar. Meski tak sebesar yang ada di Ciriung, Bogor, penangkaran kuda bernama Muyassar Stable ini, bisa menjadi sarana bagi warga Depok untuk rekreasi, maupun belajar berkuda.

Laporan : Indra Abertnego Siregar

Berjalan menyusuri Jalan Bakti Abri RT05/09 Kelurahan Sukamaju Baru, Kecamatan Tapos, Radar Depok disuguhkan dengan sebuah pemandangan yang tak biasa. Di lingkungan tersebut terdapat sebuah tanah lapang luas yang dikerangkeng besi melingkar di setiap sisinya.

Tidak jauh dari lapangan itu, terdapat puluhan ekor kuda yang kepalanya menjulang dari dalam kandang. Kuda itu seakan tertawa bersahut–sahutan menyambut kedatangan Radar Depok ke Muyassar Stable.

Seorang pria berbaju koko dan bersarung dengan janggut di dagunya, sedang mengelus leher salah seekor kuda yang baru dikeluarkan dari kandangnya. Dialah Ustad Rony, pemilik Muyassar Stable.

Pria yang diperkirakan masih berusia kepala tiga ini menyapa ramah. Dia juga menunjukkan salah satu kuda kesayangannya. Kuda itu berwarna coklat mengkilat dengan otot yang melekuk di setiap sudut tubuhnya.  “Ini salah satu kuda kesayangan saya,” kata Ustad Rony.

Berdirinya Muyassar Stable ini punya sejarah yang panjang dan unik. Tempat pemeliharaan kuda ini berdiri justru karena kesulitan ekonomi yang dialami Rony pada masa lalu, yang menjadi cambuk semangat untuk dia dalam mengumpulkan pundi rezeki.

Kala itu, tepatnya empat tahun lalu, Rony sedang melakukan khitanan terhadap anaknya. Untuk memeriahkan acara sakral tersebut, Rony berencana membuat hiburan untuk tamu dan pengunjung yang datang ke acara itu.

“Anak saya kan dulu sunat, nah itu kebiasaan orang–orang kan ada hiburannya. Kami dulu itu gak mampu untuk nyewa hiburan, atau mau bikin suatu yang beda dengan biaya murah,” kata Rony.

Lalu tercetuslah sebuah ide untuk menyewa delman agar bisa menghibur tamu–tamu yang hadir saat itu. Akan tetapi, lagi–lagi biayanya tidak murah seperti yang dia kira. Untuk menyewa sebuah delman, dia harus merogoh kocek hingga jutaan rupiah.

“Kami kebentur biaya lagi, karena uang sewa seharinya itu Rp1 juta. Sedangkan kondisi keuangan waktu itu kurang cukup,” bebernya.

Karena keterbatasan kala itu, Rony mempunyai nazar dalam hatinya. Suatu saat dia akan membeli seekor kuda untuk menyenangkan keluarganya. “Saya punya nazar, Insha Allah saya akan beli kuda aja nanti, daripada harus nyewa–nyewa,” (bersambung)

 

Jurnalis: Indra Abertnego

Editor: M. Agung HR