dansatsel
INSERT : Dansatsel Kolonel Harry Setiawan saat menjadi Taruna AKABRI.

RADARDEPOK.COM – Sudah 1×24 jam Kapal Selam KRI Nanggala-402 milik TNI Angkatan Laut hilang kontak di perairan Bali sejak Rabu (21/4), sekira pukul 04:25 WIB. Dari 53 personel kapal selam, ada satu perwira Melati Tiga asal Kota Depok, Kolonel Harry Setiawan. Sebelum pamit berlayar Komandan Satuan Kapal Selam (Dansatsel), ini sempat pamit ke ibundanya, Ida Farida yang tinggal di Jalan Tondano 5 RT3/3 Kelurahan Abadijaya, Sukmajaya Kota Depok.

Hanya kepada Harian Radar Depok, Ida Farida membeberkan, pada Senin (19/4) sekitar pukul 11:30 WIB, anak sulungnya menghubungi melalui pesan WhatsApp (WA), untuk meminta doa. “Sebelum berlayar, Harry lebih dahulu pamit ke saya melalui WhatsApp. Minta doa agar diberikan keselamatan saat menjalani tugas hingga kembali kerumah. Memang, Harry setiap mau tugas pasti menghubungi saya,” ucapnya saat didatangi Radar Depok, Kamis (22/4).

Sebagai seorang ibu, sebelum mendengar kabar tersebut, dia merasa lemas seharian tetapi tidak ada firasat yang berlebihan. Rabu (21/4) sekitar pukul 17:00 WIB, keponakannya  yang kebetulan angkatan laut telepon. Memberi kabar bahwa kapal yang ditumbangi Harry hilang kontak. “Disitu saya rasanya campur aduk, dan lihat di tv ternyata benar hilang kontak,” terangnya.

Mendengar kabar kapal tersebut hilang kontak, Ida pun langsung menghubungi keluarga dan mengadakan pengajian bersama tetangga dirumahnya, di RT 3/3 Kelurahan Abadijaya, Kecamatan Sukmajaya. “Saya masih berharap, anak pertama saya bisa ditemukan dalam keadaan selamat,” terangnya.

Harry merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Dia kelahiran 1975, dan dikenal sangat baik, supel, serta terkenal mudah bergaul dengan teman-temannya. Walaupun saat ini Harry tinggal di rumah dinasnya di Surabaya bersama istri dan lima anaknya, tetapi temannya disini banyak. “Tadi siang, teman-teman semasa sekolah di SMAN 1 Depok berdatangan untuk berdoa bersama,” jelasnya.

Ida menambahkan, 4 Desember 2020, Harry baru saja selesai pelantikan, dan juga beberapa bulan lalu menyelesaikan pendidikan S2 nya, dan memang terkenal cerdas. “Hingga saat ini belum ada kabar terbaru, tetapi malam ini kami akan berangkat ke Surabaya. Kami berangkat enam orang, dan sudah di swab. Semoga secepatnya ada kabar baik yang datang,” tegasnya.

ibunda dansatsel
HARU : Ibunda Kolonel Harry Setiawan, salah satu korban kapal selam yang hilang kontak di perairan pulau Bali, saat memegang foto sang anak, di kediamannya, RT3/3 Kelurahan Abadijaya, Kecamatan Sukmajaya. FOTO : LULU/RADAR DEPOK

Sementara kabar terkini mengenai perkembangan pencarian kapal selam KRI Nanggala-402 yang hilang kontak pada Rabu (21/4) pagi.

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Yudo Margono, mengungkapkan kondisi kapal KRI Nanggala-402 dalam keadaan baik. Baik para personel yang diterjunkan hingga keadaan materiel dari kapal. Bahkan, kapal tersebut juga sudah mendapatkan surat kelayakan dari Dislaikmatal (Dinas Kelaikan Materiel Angkatan Laut) TNI AL.

“Jadi kapal KRI Nanggala ini masih dalam keadaan siap, baik personel maupun materiel. Personel lengkap, materiel pun sudah mendapat surat kelayakan dari Dislaikmatal TNI AL,” kata Yudo dalam konferensi pers, Kamis (22/4).

Yudo juga menceritakan, riwayat dari kapal yang dibuat pada 1977 dan diterima oleh TNI AL pada 1981 ini. Menurutnya, kapal selam buatan Jerman ini sebelumnya telah melakukan penembakan torpedo selama 15 kali. “Kapal ini riwayatnya sudah menembak torpedo kepala latian 15 kali dan menembak torpedo perang 2 kali. Sasarannya kapal eks KRI dan dua-duanya tenggelam. Jadi KRI Nanggala ini kondisinya dalam siap tempur. Jadi kita kirim dalam latihan penembakan torpedo maupun kapal perang,” ungkap Yudo.

Di sisi lain, Yudo mengungkapkan, kapasitas oksigen dalam kapal selam ini mampu bertahan selama 72 jam sejak menyelam. Artinya, kapal yang kemarin menyelam pada pukul 03:00 WIB ini, akan bertahan hingga Sabtu (24/4/2021) pukul 03:00 WIB. “Blackout itu mampu 72 jam, sekitar 3 hari. Jadi bisa sampai Sabtu jam 03:00 WIB. Sehingga cadangan oksigen masih ada,” jelasnya.

Sementara itu, Panglima TNIMarsekal TNI Hadi Tjahjanto, juga ikut menjelaskan, kapal selam ini masih layak mengikuti kegiatan hingga 2022. “Sertifikat kelaikan masih sampai tanggal 25 Maret 2022, jadi masih layak untuk melaksanakan kegiatan operasi,” ujar Panglima TNI, dalam konferensi pers yang sama.

Seperti diketahui, Kapuspen TNIMayjen TNI Achmad Riad, menuturkan hingga kini proses pencarian kapal selam KRI Nanggala 402 masih terus berlangsung. Sebanyak lima KRI dan satu helikopter telah diterjunkan untuk melakukan pencarian dengan kekuatan 400 orang.

Kemudian, Riad pun menceritakan kronologi kapal selam KRI Nanggala 402 hilang kontak.

Riad menjelaskan, pada pukul 03:46 WIB, KRI Nanggala 402 melakukan penyelaman. “Pukul 03:46 WIB KRI Nanggala 402 melakukan penyelaman,” kata Riad.

Kemudian, pada pukul 04:20 WIB, para awak kapal melaksanakan penggenangan peluncur torpedo. “Kemudian pukul 04.00 melaksanakan penggenangan peluncur torpedo nomor 8, bukan rudal,” jelas Riad.

Lalu pada pukul 04:25 WIB, komandan gugus tugas latihan akan memberikan otorisasi penembakan torpedo. Menurut Riad, saat akan dilaksanakan otorisasi peluncuran torpedo itulah KRI Nanggala 402 hilang kontak. “Yang merupakan komunikasi terakhir dengan KRI Nanggala 04:25 WIB saat komandan gugus tugas latihan akan memberikan otorisasi penembakan torpedo. Di situlah komunikasi dengan Nanggala terputus,” ungkap Riad.

Di sisi lain, Riad juga meluruskan simpang siur informasi terkait proses pencarian kapal selam ini. Seperti laporan yang menyebut ada pergerakan yang terdeteksi di bawah air oleh KRI Raden Eddy Martadinata (331) juga temuan minyak dan batu bara disekitarnya.

Menurut Riad, temuan tersebut tidak cukup mengindentifikasi itu merupakan kapal selam. Ada laporan di samping temuan minyak KRI REM 331, melaporkan telah terdeteksi pergerakan di bawah air dengan kecepatan 2,5 knot. Kontak tersebut kemudian hilang sehingga masih tidak cukup untuk mengidentifikasi kontak dimaksud sebagai kapal selam. “Untuk itu, ia menegaskan temuan-temuan tersebut tidak bisa menjadi rujukan,” tandasnya.(rd/tul)

Jurnalis : Lutviatul Fauziah 

Editor : Fahmi Akbar