Beranda Utama Depok Masih Kekurangan 118.271 Vaksin, Indonesia Kehilangan 10 Juta Dosis

Depok Masih Kekurangan 118.271 Vaksin, Indonesia Kehilangan 10 Juta Dosis

0
Depok Masih Kekurangan 118.271 Vaksin, Indonesia Kehilangan 10 Juta Dosis
CEGAH COVID : Pedagang di UPT Pasar Cisalak, Kecamatan Cimanggis tengah melakukan vaksinasi Covid-19 beberapa waktu lalu. FOTO : LULU/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Vaksinasi Covid-19 terus dikejar Pemerintah Kota (Pemkot) Depok. Saat ini pelaksanaan vaksin sudah memasuki tahap ke dua. Selasa (5/4), berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) sudah 103.387 jiwa divaksin dari target 242.657 jiwa warga Depok. Sementara, masih tersisa 20.993 vaksin. Artinya, Depok masih kekurangan 118.271 vaksin saat ini.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Depok, Novarita mengatakan, pelaksanaan vaksinasi di Depok baru memasuki bulan ke dua pada pelaksanaan tahap ke dua. “Pelaksanaan vaksin tahap ke dua ini dilakukan sampai akhir Juni nanti,” kata Novarita, kepada Harian Radar Depok, Selasa (6/4).

Dia mengungkapkan,  dari tahap satu hingga tahap dua, ada 242.657 orang yang menjadi sasaran vaksinasi. Sedangkan dosis vaksin yang tersedia untuk tahap satu hingga dua ada 124.380 dosis vaksin. “Di Depok masih menggunakan vaksin Sinovac,” tuturnya.

Dia menjelaskan, saat ini, masih terdapat 139.276 orang sasaran vaksin yang belum tervaksinasi hingga saat ini. Sedangkan, sisa vaksin yang tersedia di Depok tinggal 20.993. Namun demikian, Nova mengaku ketersedian vaksin di Depok tidak menipis, karena pihaknya masih akan meminta lagi ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat, untuk memenuhi kebutuhan vaksin di tahap ke dua ini.

“Jadi bukan menipis ya. Vaksin itu kan memang harus dihabiskan. Maka dari itu, kita nunggu sisa vaksin yang ada saat ini habis dulu, baru minta lagi ke Jawa Barat,” bebernya.

Dia menambahkan, sisa vaksin yang masih tersedia ini, ditargetkan akan habis di April ini. Hal ini dilakukan agar bisa segera melakukan pengajuan vaksin tambahan untuk menyelesaikan vaksinasi tahap ke dua ini. “Intinya sampai bulan Juni nanti vaksin masih tersedia,” bebernya.

Sementara, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Depok, Dadang Wihana mengatakan, Pemkot Depok memperpanjang Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro, sebagaimana Instruksi Kemendagri Nomor 7 Tahun 2021. “Kota Depok kembali memperpanjang PPKM dari 6 April hingga 19 April 2021,” kata Dadang, Selasa (6/4).

Pada PPKM Mikro kali ini, ada perubahan kebijakan dalam penerapan zonasi di tingkat RT. Pria yang menjabat Kepala Dinas Perhubungan ini juga menjelaskan, perubahan zonasi RT lebih diperketat dalam penentuannya terhadap warga yang terkonfirmasi. “Contohnya zonasi RT untuk zona merah kalau dulu lebih dari 10 rumah sekarang menjadi lebih dari lima rumah,” jelas Dadang.

Dia menuturkan, untuk zona hijaunya, di RT tersebut harus tidak ada kasus Covid-19. Sementara zona kuning jika ditemukan satu sampai dua kasus, zona oranye tiga sampai dengan lima,” kata Dadang.

Di sisi lain, ada dampak baik dari PPKM ini. Terbukti, di Depok sudah tak masuk dalam zona merah Covid-19. “Pekan ini belum diumumkan pusat tapi minggu lalu kami di zona oranye kalau berdasarkan hitungan kami,” kata Dadang.

Efek dari PPKM pun saat ini kasus penyebaran Virus Korona di Kota Depok melandai. Perbandingannya, kasus penyebaran Covid-19 di Depok per harinya pernah mencapai 200 sampai 300 orang. Namun, kini hanya mencapai 100 orang lebih. “Minggu ini telah landai, kasus aktif perhari mencapai 100 orang lebih,” jelas Dadang.

Dadang menuturkan, menurunnya kasus penyebaran Covid-19 tidak terlepas dari kesadaran masyarakat menerapkan protokol kesehatan dan pelaksanaan vaksinasi. Dia menilai, vaksin mampu mencegah tertular maupun penularan virus corona, untuk itu masyarakat diimbau agar mengikuti vaksinasi Kota Depok. “Vaksin bertujuan untuk herd imunnity (kekebalan kelompok), dengan vaksinasi dapat memiliki kekebalan tubuh,” tegas Dadang.

Terhitung pada Selasa, 6 April 2021, Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Kota Depok kembali memperbaharui data persebaran kasus pasien terpapar Virus Korona. Berdasarkan data rilis, total pasien terkonfirmasi positif Covid-19 mencapai 42.843 kasus, dengan kasus aktif berjumlah 1.825 pasien.

Sedangkan jumlah kasus yang sudah dinyatakan sembuh dan telah menyelesaikan masa isolasi tercatat sebanyak 40.176 kasus. Kemudian, pasien dinyatakan meninggal dunia mencapai 842 jiwa. Sementara itu, kasus kontak erat dan masih menjalani pemantauan berjumlah 1.373 orang.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, jumlah ketersediaan vaksin di Indonesia mulai menipis. Hal tersebut lantaran, RI kehilahan 10 juta dosis vaksin gratis dari The Global Alliance for Vaccine and Immunisation (GAVI) atau WHO.

“Kita kehilangan vaksin 10 juta, sehingga kita kehilangan dosis yang peroleh dari kerjasama dengan GAVI atau WHO gratis, itu tadinya rencanya 11,7 juta, tapi sekarang kita dapatnya hanya 1,3 atau 1,4 juta, kemudian sisanya berhenti,” kata Budi akun YouTube, Selasa (6/3).

Dia menjelaskan, faktor kehilangan vaksin tersebut lantaran adanya lonjakan kasus di India. Sehingga kata Budi, India mengembargo dan Indonesia kehilangan jatah dosis vaksin. Sehingga rencana pemberian vaksin untuk memenuhi rencana herd immunity akan ditinjau kembali.

Dia menjelaskan, seharusnya pada Maret, April, Indonesia memiliki stok dosis vaksin yaitu 15 ribu perbulan. Sehingga dapat menyuntikan 500 ribu dosis vaksin per hari, tetapi rencana tersebut harus ditinjau ulang lantaran adanya pengurangan stok vaksin. “Jadi bulan April ini sangat sulit, karena jumlah vaksinnya sendikit, Mei rencananya kita produksi Bio Farma lajunya bisa meningkat sehingga kita tingkatkan,” bebernya.

Sebelumnya, Budi juga akan mengatur ulang laju vaksinasi Covid-19. Hal tersebut seiring negara produsen vaksin yang mengalami lonjakan ketiga dari kasus Covid-19. “Kita atur kembali sehingga kenaikannya tidak secepat sebelumnya. Karena memang vaksinnya yang berkurang suplainya,” kata Budi dalam keterangan pers, Selasa (6/4).

Berkurangnya suplai tersebut dipengaruhi dengan adanya lonjakan kasus yang terjadi di negara Eropa dan di Asia seperti India, Filipina, Papua Nugini serta negara di Amerika Selatan seperti Brasil. Akibatnya negara-negara yang memproduksi vaksin di lokasi tersebut mengarahkan agar produksi vaksinnya tidak boleh diekspor, hanya boleh dipakai di negara masing-masing.

“Hal tersebut telah mempengaruhi ratusan negara di dunia termasuk Indonesia. Sehingga jumlah vaksin yang tadinya tersedia untuk bulan Maret dan April masing-masing 15 juta dosis atau total 30 juta dosis hanya bisa dapat 20 juta dosis,” bebernya.

Dia juga berharap pemerintah bisa lakukan negosiasi dengan negara produsen vaksin. Sehingga pada Mei bisa kembali melakukan vaksinasi kembali sesuai target. “Mudah-mudahan bulan Mei bisa kembali normal sehingga kita bisa melakukan vaksinasi dengan rate seperti sebelumnya yang terus meningkat,” pungkasnya.(rd/dra)

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar 

Editor : Fahmi Akbar