artikel kartini sugi

Oleh : Sugiarti 

 

KARTINI milenial adalah para perempuan yang selalu memiliki  karakteristik gadis milenial seperti halnya Pahlawan Kartini. Kartini yang telah menjadi Pahlawan  Kemerdekaan Nasional dengan peringatan setiap tanggal  21 April  setiap tahun sebagai hari besar berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964 yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno.  Gadis milenial adalah Kartini milenial yang memiliki inisiatif serta membawa perubahan kearah yang lebih baik  dengan situasi sosial dan ekonomi. Para Kartini milenial dilahirkan di tengah zaman dimana mudah untuk mengakses segala sesuatu. Sisi negatif yang dimiliki karena kemudahan akses yang mudah diperoleh maka mereka memiliki kecenderungan untuk manja, mudah mengeluh dan egois terhadap situasi yang tidak menguntungkan bagi mereka.  Perbedaan yang mendasar antara karakter Kartini zaman Kolonial dengan Kartini milenial terletak pada gaya hidupnya saja. .

Generasi milenial merupakan generasi harapan yang mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi serta memiliki kemampuan memahami teknologi yang sedang berkembang pesat sehingga tercipta keseimbangan dalam menyambut hal-hal baru yang muncul di dunia. Kecenderungan Kartini milenial untuk menerima perbedaan yang terjadi  karena banyaknya informasi yang mudah diakses untuk tidak menjadi fanatis.  Kemampuan internet yang tinggi banyak digunakan untuk kreatif menggunakan internet diantaranya menjadi selebgram atau youtuber. Hal yang fundamental adalah bahwa para Kartini Milenial akan menjadi tonggak peradaban paling awal yaitu di keluarga ketika mereka membangun rumah tangga di kemudian hari. Ibu yang baik akan menjadikan Kartini Milenial yang unggul dalam segala kesempatan yang ada.

Kartini milenial harus memiliki  karakter budi pekerti  yang mengakar menghujam kuat. Seperti halnya tanaman beringin yang mampu menopang batang serta daun yang sangat rimbunnya hingga beringin mampu beradaptasi dengan menghadirkan akar nafas demi kelangsungan pernafasan tanaman karena kanopi daun yang sangat rapat.  Akar yang mampu menopang kehidupan yang sangat besar.  Kartini milenial menjadi pilar penting keluarga dan masyarakat untuk memberikan andil dalam bentuk paling sederhana yaitu membangun masyarakat literat.

Pembudayaan Literasi

Kartini Milenial memiliki kemampuan untuk mengakses teknologi dengan sangat cepat diharapkan mampu memiliki suatu kebiasaan literasi yang baik.  Menurut UNESCO “ The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization”, Literasi ialah seperangkat keterampilan nyata terutama keterampilan dalam membaca dan menulis terlepas dari konteks yang mana keterampilan itu diperoleh dan siapa yang memperolehnya.   Kartini Milenial yang baik akan mampu mempersiapkan diri menjadi bagian bangsa Indonesia yang tangguh. Saat Kartini Milenial menjadi tumbuh dan dewasa, kelak akan menjadi seorang ibu dalam suatu rumah tangga. Ibu merupakan peletak pertama peradaban dalam keluarga. Ibu sebagai penggerak proses belajar di keluarga. Segala tahapan awal tonggak belajar dalam kehidupan pertama seorang anak. Budaya literasi dimulai dengan budaya membaca kemudian dilanjutkan dengan budaya menulis.

Masyarakat yang berkembang adalah masyarakat yang memiliki jendela pengetahuan yang luas, dapat mengakses informasi serta memanfaatkannya. Berdasarkan Forum Ekonomi Dunia 2015 membagi gambaran  tentang keterampilan Literasi menjadi 6 dasar yang dikutip dari panduan gerakan Literasi Nasional kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ri Sebagai berikut: Literasi baca Tulis, Literasi Numerasi, Literasi Sains, Literasi digital, Literasi Finansial, Literasi Budaya dan Kewarganegaraan. Puncak dari kemampuan literasi membaca literasi menulis.

Pembudayaan literasi di era digitalisasi  dengan teknologi yang canggih yang muncul memiliki daya tarik tersendiri sehingga mempermudah pekerjaan manusia agar lebih efisien. Semakin canggih teknologi  maka semakin banyak dan udah informasi yang dapat diakses salah satunya dalam hal literasi. Kartini milenial dapat membaca dan mencari informasi di berbagai web, blogger, berita online, berita di whatsapp serta berbagai halaman internet, dan lain-lain. Apakah kemudahan akses teknologi sebanding dengan peningkatan budaya literasi? Hal ini sangat bergantung dengan perkembangan zaman.

Kiprah Kartini milenial di SMAN 5 Depok dengan menghadirkan karya Sugiarti  diantaranya: Payung Buana (2021), The Magic of Inspiration (2021), Senarai Nama Terkasih (2021), Resolusi 2021 Antara Tantangan dan Harapan (2021), Menulis Mengikat Ilmu (Buletin Geulis, ISSN 271-7515 Desember 2020- Januari 2021), Resonansi Kata dan Asa (2020), Likuran Ramadan (2020), Mengeja Makna dalam Aksara (2020). Hasil Karya Siswa dan Siswi  SMAN 5 Depok diantaranya Amelia Putri:Rembulan dan Bintang (2019), Ruang Nestapa (2019), Euphoria (2019), Arina: The Journey of Love(2020);  Nadia Anindita: 3 Detik Untuk Hari ini (2020), Rainbow Rose (2020) serta tak kalah karya  seorang siswa atas nama Damar Pratama Yuwanto:  Bidadari Bersayap Pelangi (2020).

Tips Meningkatkan Budaya Literasi

Pembudayaan literasi memang tidaklah mudah untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.  Hal ini terlihat pada saat meminta seseorang untuk merangkum sebuah cerita yang telah dibaca dalam suatu narasi yang ringkas dan padat sebagai suatu hasil kesimpulan.  Rangsangan yang dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan di tengah percakapan dapat merangsang suatu proses literasi. Membudayakan literasi menjadi suatu hobi atau kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari harus mulai digalakkan demi terciptanya atmosfer masyarakat yang literat.

Perubahan paradigma tentang gerakan membaca akan menjadi perubahan yang mendasar dalam membuka gerbang literasi menulis. Menulis merupakan aktualisasi dari literasi membaca yang paling tinggi tingkatannya. Hal yang dilakukan untuk mendorong kebiasaan literasi adalah dengan menumbuhkan kesadaran pentingnya membaca, membiasakan pemberian hadiah dengan buku, membentuk komunikasi membaca, membiasakan menulis buku harian, mengoptimalkan peran perpustakaan sebagai jendela pengetahuan,  menghargai karya tulis, membudayakan membaca di sekolah.

Semoga  para Kartini milenial mampu membuka jendela pengetahuan serta melahirkan generasi yang cerdas, unggul dan memiliki daya saing  sumber daya manusia Indonesia di tingkat Internasional. Kartini milenial menjadi pilar penting keluarga dan masyarakat untuk memberikan andil dalam bentuk paling sederhana yaitu membangun masyarakat literat. (*)