Beranda Metropolis Kisah Seorang Senior Marbot Masjid : Mengabdi Puluhan Tahun, Waspada Pencuri Kotak Amal

Kisah Seorang Senior Marbot Masjid : Mengabdi Puluhan Tahun, Waspada Pencuri Kotak Amal

0
Kisah Seorang Senior Marbot Masjid : Mengabdi Puluhan Tahun, Waspada Pencuri Kotak Amal
AZAN : Marbot Masjid Darutaqwa, Krukut, Aming saat melaksanakan tugasnya, yaitu azan, Sabtu (18/4). FOTO : PUTRI/RADAR DEPOK

Mungkin ada beberapa orang yang menganggap remeh pekerjaan sebagai seorang marbot (penjaga) masjid. Namun siapa sangka, pekerjaan sebagai seorang marbot mendatangkan banyak rezeki dan keberkahan tersendiri bagi seorang Aming.

Laporan : Putri Disa Kiftiani

RADARDEPOK.COM, Di pinggiran Masjid Darutaqwa, duduklah seorang lelaki paruh baya berusia 54 tahun. Dari kejauhan, sudah dipastikan seseorang tersebut ialah marbot masjid. Semua orang bisa menebaknya, kalau profesinya sebagai marbot masjid.

Pasalnya setiap hari orang bisa melihatnya berada di masjid, bahkan sejak puluhan tahun lamanya. Sesudah memberikan salam, Aming mempersilakan duduk tepat di bawah pohon ceri.

Kembali ke masa silam, sekitar tahun 1991, saat itu tepat usia pernikahannya beranjak satu tahun. Aming yang berasal dari Pondok Cabe, Tanggerang Selatan memutuskan pindah ke wilayah Krukut.

Saat itu, dirinya dipercayai oleh sang pengurus masjid untuk menjadi seorang marbot. Namun, keluarganya dia tempat tinggalkan di sebuah rumah yang tak jauh dari masjid

Seiring berjalannya waktu, Aming semakin dikenal sebagai sosok marbot yang siap sedia jika diperintahkan oleh siapa saja, terutama urusan keagaman.

Terhitung sejak 1991 sampai 2021, Aming sudah menjadi marbot masjid 30 tahun. Tentunya, banyak sekali kejadian yang menemaninya selama berprofesi menjadi marbot masjid.

Kotak amal yang hilang, bisa dibilang sudah kejadian yang biasa di setiap masjid. Namun, kali ini Aming memiliki cerita yang berbeda.

Lupa tepatnya tahun berapa, sebelum masjid di renovasi seperti sekarang, saat itu masjid masih sering kebanjiran. Hal yang pertama Aming lakukan jika terjadi banjir di masjid adalah memindahkan barang-barang yang berada di masjid.

Kebetulan, kotak masjid yang menjadi incaran orang-orang bertangan panjang disimpan oleh Aming di sudut masjid, tentunya dijauhkan dari air banjir dan berada di dalam sound system yang dimiliki masjid.

Entah hari keberapa, saat banjir sudah reda. Aming kembali membereskan barang-barang ke tempat semula. Betapa terkejutnya, isi dari kotak amal tersebut sudah kosong. Begitulah, kira-kira salah satu cerita dari sekian pengalamannya.

Aming memiliki menjadi marbot masjid untuk berbakti kepada agama Islam yang dijunjung tinggi olehnya. Bahkan, Aming tidak pernah takut rezekinya dibatasi hanya karena menjadi seorang marbot masjid.

Insha Allah kalau kita kerja ikhlas untuk Allah akan ada rezekinya, buktinya saya masih tetap ada disini dengan rezeki yang Alhamdulillah bisa memenuhi hidup saya,” tutupnya. (*)

Editor : Junior Williandro