makna lambang UI

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Kamu yang sedang kuliah di Universitas Indonesia (UI) sudah tahu belum lambang UI itu sebenarnya? Atau ada yang ingin berkuliah disana penasaran juga dengan lambang yang terkenal itu?

Berdasarkan ceritanya, lambang UI ini diciptakan pada tahun 1952 oleh Sumaxtono yang punya nama asli Sumartono. Sumaxtono merupakan mahasiswa UI angkatan 1952 jurusan Seni Rupa Fakulteit Teknik Universiteit Indonesia.

Ide awalnya lambang UI berasal dari kala-makara yang merupakan dua kekuatan yang ada di alam. Kala sebagai kekuatan di atas atau kekuatan matahari dan makara sebagai kekuatan di bawah atau kekuatan bumi.

Lalu makara itu apa sih? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara etimologi makara itu berasal dari bahasa Sanskerta. Makara disebut sebagai binatang laut yang berukuran besar, dianggap sebagai lambang Kāmadewa, biasanya dipasang sebagai hiasan pada pintu gerbang atau hiasan kepala

Seperti dikuti dari laman resmi Universitas Indonesia, lambang UI memiliki dua unsur, yaitu pohon yang terdapat cabang-cabang dan juga makara. Berikut adalah penjelasannya yang dikutip dari situs resmi UI:

1. Kuncup pohon ilmu pengetahuan.

2. Cabang-cabang pohon ilmu.

3. Pancuran yang keluar berbentuk makara.

4. Air yang keluar dari makara.

Pohon dan cabang beserta kuncupnya melambangkan pohon ilmu pengetahuan dan cabang-cabang dari ilmu tersebut. Kuncup bermakna ilmu tersebut akan mekar dan menjadi ilmu baru.

Kuncup-kuncup tersebut akan mekar apabila pohon pengetahuan itu hidup. Sumaxtono ingin menggambarkan bahwa cabang-cabang ilmu pengetahuan akan selalu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

Makara tersebut mengalirkan air yang berarti hasilnya menyebar ke seluruh penjuru atau dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Belakangan untuk memudahkan lambang UI selalu disebut dengan makara. Padahal makara hanya satu bagian dari lambang tersebut.

Sumaxtono ingin menyampaikan bahwa UI adalah sumber ilmu pengetahuan, akan menghasilkan sarjana-sarjana yang cerdas, terampil, penuh ketakwaan, berbudi luhur, dan berkepribadian, serta bersikap terbuka.

Selain itu sarjana UI harus tanggap terhadap perubahan dan kemajuan ilmu dan teknologi serta masalah yang dihadapi masyarakat, dan mampu menyelesaikannya sesuai dengan kaidah-kaidah akademik, di mana pun mereka berada.

Sumaxtono memperlihatkan makna lambang UI pertama kali pada tahun 1952 kepada kawannya Srihadi yang juga mahasiswa Seni Rupa FT-UI, Bandung Angkatan 1952. Tidak diketahui kapan dan siapa yang mengesahkan makna lambang UI tersebut.

Secara jelas, lambang UI pertama kali digunakan pada sampul buku Universiteit Indonesia, Fakulteit Teknik, Bandung: Rentjana Untuk Tahun Peladjaran 1952-1953 (Percetakan AID, Bandung, 120 hlm.) yang dibuat oleh Sumaxtono. Tetapi waktu itu lambang UI tersebut belum memiliki bingkai segilima. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya