Beranda Metropolis Mengenal Masjid Al Ittihad di Bojong Pondok Terong : Tertua di Depok, Dibangun Sejak 2,5 Abad Lalu

Mengenal Masjid Al Ittihad di Bojong Pondok Terong : Tertua di Depok, Dibangun Sejak 2,5 Abad Lalu

0
Mengenal Masjid Al Ittihad di Bojong Pondok Terong : Tertua di Depok, Dibangun Sejak 2,5 Abad Lalu
TERTUA: Penampakan Masjid Jami Al-Ittihad, RT1/4 Kelurahan Bojong Pondok Terong, Kecamatan Cipayung yang konon telah berdiri sejak 2.5 abad lalu dan sudah direnovasi hingga lima kali, Kamis (15/4). FOTO : DAFFA/RADAR DEPOK

Mungkin terdengar asing bagi warga Depok begitu mendengar nama Masjid Jami Al Ittihad. Mungkin lebih familiar nama Masjid Kubah Mas di Meruyung. Padahal, masjid yang berlokasi di RT1/4, Kelurahan Bojong Pondok Terong, Kecamatan Cipayung ini, konon sudah berdiri sejak 2,5 abad lalu. Namanya dijadikan sebagai nama jalan.

Laporan : Daffa Syaifullah

RADARDEPOK.COM, Melintasi Jalan Masjid Jami Al-Ittihad, tak jauh dari Yayasan Pendidikan Islam Arrahmaniyah, nampak sebuah masjid berwarna hijau berdiri megah. Berdiri dua lantai.

Begitu ingin masuk tempat parkir, akan disambut gapura dengan ukiran sebuah ayat ke-9 dari Surat At Taubah. Sebagai pengingat umat muslim untuk melaksanakan salat dan membayar zakat.

Disamping kiri dan kanan pekarangan masjid adalah tempat wudhu dari laki-laki juga perempuan serta sebuah menara menjulang tinggi.

Begitu masuk, di dalam masjid juga masih ada sejumlah jamaah yang sedang menunggu hujan reda. Suara lantunan ayat suci Alquran samar samar dari beberapa jamaah. Mengingat di Bulan Ramadan ini, membaca kitab suci akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.

Ada tiga pintu masuk yang dapat digunakan oleh para jamaah. Satu pintu di bagian depan, satu pintu di bagian kanan dan satu pintu di bagian kiri Masjid Jami Al Ittihad. Jika memilih masuk lewat pintu di sisi kiri, maka jamaah akan melewati pemakaman para tokoh masyarakat dan agama yang sudah berpuluh-puluh bahkan ratusan tahun.

Sebuah kubah berwarna hijau dikelilingi oleh empat menara yang masing-masing memiliki arti. Menara pertama diibaratkan Sayyidina Abu Bakar, menara kedua Umar bin Khattab, menara ketiga Utsman bin Affan, dan menara keempat Ali bin Abi Thalib. Dan kubah itu Nabi Muhammad SAW

Salah seorang pria paruh baya mengenakan kopiah putih, gamis krem serta di lehernya dibalut sorban. Dialah Bendahara umum DKM Masjid Jami Al-Ittihad, Rusli Widya Permana. Dari dirinyalah awal mula berdirinya masjid ini. Dahulu, tanah ini merupakan milik Ketong, pria asal Balaraja yang merantau ke wilayah Bojong Pondok Terong. Yang kemudian turun temurun diwariskan, kepada Siman, K.H Abdullah (meninggal 1962), dan Muhammad Husin (meninggal 1984), serta K.H Abdur Rouf

Kemudian, tanah seluas 1.900 meter persegi itu diwakafkan untuk dialihfungsi menjadi masjid. Semula, bangunan ini hanyalah berdiri satu lantai dengan ciri khas yaitu tiang songko guru atau empat penyanggah dengan kaki berbentuk lingkaran. Dan dapat menampung hingga ratusan jamaah.

“Saya masih cari tau sejarahnya dari guru Siman ke Ketong masih digali. Tapi yang beredar di masyarakat seperti itu. Dan K.H Abdullah itu mertua saya. Dari beliau itu sudah 140 tahun, bisa jadi masjid ini sudah 2.5 abad,” katanya.

Sebuah lembaran ditunjukkannya, sebuah kertas berisi hasil print surat kabar jaman penjajahan belanda. Disitu tertera jelas tanggal publish media cetak itu, tepat 10 Juni 1937, kala itu media belanda mengangkat pemberitaan agenda maulid Habib Ali Al Habsyi (Kwitang) kemudian diarak berkeliling wilayah.

Dikatakannya, renovasi pertama Masjid Jami Al Ittihad pertama dilakukan pada tahun 1969 yang dilakukan warga secara bergotong royong dengan menggunakan alat seadanya. Kala itu warga sekitar mengambil pasir dan batu di Kali Ciliwung yang terletak cukup jauh dari letak Masjid serta beton untuk membangun tiang soko guru (empat pilar).

Dulu pembangunan ini, pasir dan batunya diambil dari kali Ciliwung. Batunya itu gede karena gak bisa diangkat, akhirnya dibawa estafet. Hingga saat ini, sudah lima kali di renovasi,” bebernya.

Masjid ini menjadi sarana ibadah tertua di Kota Depok. Bahkan, dua pekan lalu, Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporyata) Kota Depok survei lokasi masjid itu untuk dijadikan cagar budaya. Diketahui masjid itu masih dalam tahap renovasi, dan belum selesai. (*)

Editor : Junior Williandro