Beranda Ruang Publik Ramadan Momentum untuk Mengendalikan Nafsu

Ramadan Momentum untuk Mengendalikan Nafsu

0
Ramadan Momentum untuk Mengendalikan Nafsu
Ketua PCNU Kota Depok, Achmad Solechan

RADARDEPOK.COM – Bersyukur pada Allah SWT, pada tahun 2021 ini kita diberikan anugerah oleh Allah dipertemukan kembali bulan ramadan. Bulan istimewa karena didalamnya kemuliaan, rahmat dan maghfiroh Allah terbuka lebar untuk ummat Nabi Muhammad SAW bahkan secara khusus diberikan satu malam yang begitu istimewa yakni lailatul qadar. Ramadhan yang begitu istimewa ini, karena datangnya secara rutin setiap tahun, seringkali menjebak kita seolah-olah bulan ini lewat begitu saja, layaknya sesuatu yang hadir secara periodik atau berkala. Keistimewaan dan kemuliaannya berlalu begitu saja, dan nanti tiba-tiba telah selesai ramadhan dan begitu seterusnya sampai kembali pada ramadhan berikutnya.

Anugerah satu bulan istimewa ini, setidaknya mari kita jadikan momentum untuk refleksi, mengingatkan, mengevaluasi diri kita atas segala perilaku dan torehan kehidupan yang telah lalu. Sebagaimana pesan Sahabat Umar RA, “Evaluasilah (hisablah) dirimu sendiri sebelum kalian dihisab (di hadapan Allah kelak).”  Selama ramadahan, kita berkesempatan untuk berjibaku dengan diri kita sendiri, memandang dan memotret kelakuan kita sendiri, apakah sudah sesuai tuntunan dan ajaran rasulullah atau justru sebaliknya, terlalu banyak ajaran agungnya yang kita tinggalkan dan terlena dengan kehidupan dunia yang fana ini. Lalu bersamaan kita isi ruhani dan batin kita dengan asupan kebaikan-kebaikan dan amaliah ramadhan yang begitu istimewa.

Namun, nafsu seringkali menguasai kita untuk tidak mau “menghisab” diri sendiri, dan cenderung melawan refleksi keburukan dan kesalahan masa lalu kita. Justru nafsu ini gemar atau tepatnya lebih suka untuk menghisab orang lain.

Banyak ayat qur’an yang dimaksudkan untuk menghitung, mengaca dan refleksi atas perilaku pembacanya yakni menunjuk diri sendiri. Namun, seringkali malah sebaliknya, ayat yang mengingatkan kepada si pembaca tersebut, kita carikan sosok dan menegapaskan perilaku tidak benar tersebut kepada yang lain. Dan berikutnya berlanjut menghitung segenap aib, dosa, kesalahan dan ketidakberesan orang lain.

Mengurus dan mengatasi nafsu ini memang bukan perkara mudah. Karena bersamaan nafsu juga diperlukan dalam menjalani kehidupan, tanpa nafsu ini hidup bisa jadi terasa hampa. Kehadirannya diperlukan untuk kebutuhan makan, minum, tidur, menikah dan lainnya. Bahkan tatkala anak tidak memiliki nafsu untuk makan dan minum, maka kitapun kerepotan mesti ke dokter untuk menaikkan nafsu makannya. Karenanya nafsu bukan untuk dihilangkan namun untuk dikendalikan.

Tentu saja, usaha mengendalikan nafsu ini bukan pekerjaan yang mudah. Karakter nafsu itu tak tampak atau tersembunyi, dan kerapkali membawa efek kenikmatan  luar biasa hingga menjadikannya sebagai musuh yang paling sulit untuk diperangi. Rasulullah sendiri mengistilahkan ikhtiar pengendalian nafsu ini dengan “jihad” bahkan jihad akbar, yakni jihâdun nafsi.

Sepulang dari perang badar, Nabi Muhammad bersabda, “Kalian semua pulang dari sebuah pertempuran kecil dan bakal menghadapi pertempuran yang lebih besar. Lalu ditanyakan kepada Rasulullah, ‘Apakah pertempuran akbar itu, wahai Rasulullah?’ Rasul menjawab, ‘jihad (memerangi) hawa nafsu’.”

Nafsu menjadi musuh paling berat dan berbahaya karena yang dihadapi adalah diri sendiri. Ia menyelinap ke dalam diri hamba yang lalai, lalu memunculkan perilaku-perilaku tercela, dusta, khianat, meremehkan orang lain, memakan penghasilan haram, menghalalkan segala cara, tamak kekuasaan, zalim kepada orang lain, mementingkan kepentingan kelompok dan golongannya saja, dst. Bahkan nafsu-nafsu ini bisa berlindung dibalik ayat dan dalil-dalil agama. Seorang pemimpin bisa melegitimasi kesewenang-wenangannya berdalih ayat untuk mensukseskan program kelompok dan golongannya saja. Meski semua sadar bahwa seorang pemimpin haruslah adil untuk semua warganya.

Allah SWT adalah hakim yang sebenar-benarnya, yang tidak bakal tertipu daya oleh pencitraan dan perilaku kita. Atas nama nafsu, boleh jadi seolah-olah kita melakukan tindakan yang kita citrakan sebagai bela agama, bela islam, bela kalimat tauhid, jihad fisabilillah, dst, namun kalau sejatinya hati kita, ruh kita sama sekali tidak ke Allah dan lebih banyak dorongan nasfunya maka Allah SWT sebenar-benarnya memahami dan mengerti sejatinya yang kita lakukan. Allah SWT Berfirman, “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS. Yasin: 65)

Untuk mengalahkan nafsu yang selalu mengajak pada keburukan, maka diperlukan perjuangan / mujahadah yakni al muroqobah kepada Allah SWT, bahwa setiap diri manusia kita ini senantiasa dalam pengawasan Allah SWT. Dalam Mujahadah ini kita mengenal Allah, mengenali musuh Allah, mengenal nafsu yang menyuruh keburukan, dan mengenal amal yang ikhlas karena Allah SWT.

Puasa di bulan Ramadhan adalah momentum untuk mengendalikan nafsu ini. Berpuasa melatih keikhlasan ibadah ini semata-mata  karena Allah SWT. Karena Allah lah, seorang yang puasa tidak mau makan dan minum disiang hari, meskipun makan dan minuman itu halal. Kalau bukan karena Allah, -karena manusia misalnya- ia bisa sembunyi-sembunyi makan dan minum di tempat yang orang tidak mengetahuinya.

Puasa secara bahasa adalah menahan diri dan secara istilah berarti menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Menahan diri atau tidak melakukan untuk sesuatu, merupakan bentuk negasi/tidak. Tidak makan dan minum, dst. Ketika upaya negasi ini mendominasi dalam diri manusia, maka akan lahir gerakan tidak melakukan dosa, tidak maksiat, tidak korup, tidak semena-mena, tidak merusak dll yang berarti hakikatnya adalah melemahkan ego atau nafsu. Saat ego sudah teristirahatkan, maka akan muncul benih-benih kebaikan, seperti mulut tidak memproduksi kalimat kebencian, kedengkian dan kebohongan. Terhindar dari bohong, ghibah, fitnah. Anggota badan terhindar dari perbuatan maksiat, menjaga hati dari sifat hasad, dan tidak memusuhi sesama. Justru dari mulut itulah lahir kata kasih sayang, kesantunan dan kelembutan.

Jika kita tidak menjauhi sifat-sifat tercela tersebut, maka dikhawatirkan kita masuk dalam golongan orang yang disabdakan oleh Rasulullah,”Betapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapat secuil apapun dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus”. Mari kita optimalkan peket-peket spesial di Bulan Ramadhan ini. Melaksanakan taraweh, tadarus alquran, ngaji, dan lainnya. Kita istimewakan bulan ini dengan benar-benar memanfaatkannya untuk bertaqarub kepada Allah SWT. Sebagaimana maksud dari puasa adalah menjadi pribadi yang bertaqw.(rd)

Editor : Fahmi Akbar