Beranda Utama Ramadan Sebagai Agen Perubahan

Ramadan Sebagai Agen Perubahan

0
Ramadan Sebagai Agen Perubahan
Kepala Kementerian Agama, H. Asnawi

RADARDEPOK.COM – Bismillahirrohmanirrohim, assalamualaikum. Alhamdulillah wasyukurillah, bahwa kita masih diberikan berbagai macam kenikmatan oleh Allah Subahana Wata Alla,  sehingga kita masih dapat menjalankan puasa Ramadan.

Momentum Ramadan kali ini hemat saya, kita jadikan sebagai upaya agen perubahan buat diri kita. Yang berimplikasi kepada tatanan kehidupan, baik untuk pribadi, keluarga, masyarakat, maupun bangsa dan negara.  Agen perubahan apa yang harus kita lakukan, sehingga makna Ramadan betul nayata, atau bulan Ramadan nyata jadikan kita berubah.

Pertama,  kita harus jadikan bulan Ramadan sebagai bulan instropeksi. Ini penting, saya katakan karena selama ini, umat Islam jarang sekali menginstropeksi atau bahasa lebih jelasnya, berkaca pada diri sendiri terhadap apa yang sudah dilaukan selama ini, baik tugas dan fungsi kita sebagai kholifah filart, jarang sekali kita berinstropeksi baik dalam ibadah, kerja, kemasyarakatan, atau dalam lingkungan sosial.

Saya contohkan, misalnya dari  sisi kerjaan, apa yang kita lakukan dalam hidup ini. Apa  fungsi kita dalam pekerjaan kita, macam – macam,  ada ASN, wartawan, ustad, dokter dll. Sudahkah kita memberikan manfaat lebih dalam pekerjaan sehari hari?.

Seorang ASN harus masuk kerja pukul 07:30 pulang pukul 16:00, wartawan harus berikan berita baik dan edukasi terhadap makna pewartaan yang dilakukan, nah ini jarang sekali umat islam menginstropeksi diri dalam pekerjanya.

Itu dari keseharian kerja, belum ibadah. Selama ini kewajiban ibadah banyak yang kita langgar, sudah lima waktu sah salatnya?, kita sudah kah infakan atau zakatkan saat berejeki, atau tahun lalu bener ga puasa kita?.  Sesuai yang  Imam Gazali katakan bahwa puasa terbagi tiga, ada yang puasanya yang sekedar menggugurkan  keawajiban, ada yang sekedar menjaga lisan maupun gerakan diri,tapi yang lebih penting puasa yang hatinya ikut juga.  Tahun kemarin sudah kah  dilaksanakan itu?, kalau belum isntropeksi untuk lebih baik.

Dari segi sosial kemasyarakatan, sudah kah kita bergerak,  kita berkecimpung di masyarakat yang manfaat, sudah belum?. Sehingga sesuai dengan pepatah Arab, sebaik-baiknya manusia itu bermanfaat bagi manusia yang lain, ini lah pentingnya Ramadan sebagai bulan instropeksi.

Termasuk sesuai dengan tujuan puasa itu sendiri dalam surat quran surat Albaqarah,  orang menuju taqwa, taqwa itu perubahan dari belum bertaqwa jadi bertaqwa, perubahan harus intropeksi dulu.

Orang gimana mau bertaqwa dari pribadi aja dilanggar, salat masih bolong – bolong, sama masyarakat acuh tak acuh, tetangganya miskin kekurangan gak peduli, gimana mau bertaqwa?.

Inilah saatnya kita jadikan momentum Ramadan sebagai agen perubahan. Diawali instropeksi, tidak bisa kita rubah kalau gak berkaca diri.

Yang kedua,  bulan Ramadan sebagai agen perubahan, dari sisi bulan konsolidasi.

Konsolidasi itu kan artinya memberikan penguatan, dari elemen – elemen yang ada pada diri kita, untuk lebih menguatkan diri kita, supaya dekat  pada Allah maupun masyarakat.

Saya mencontohkan sebagai bulan konsolidasi, selama ini kita jarang memberikan edukasi atau pembelajaran kepada paling tidak keluarga kita, supaya keluarga kita jadi orang–orang yang baik dan jadi pintar lebih dari orang tuanya.  Ini perlu ada konsolidasi di internal keluarga itu, tidak mungkin sebuah keluarga itu jadi baik, kalau kekuatan masing – masing keluarga itu tidak dimunculkan, ayah dan ibunya kemudian anak – anaknya kekuatannya dimunculkan, di masyarakat, agama, dimunculkan. Bagaimanapun konsolidasi agama harus ditegakkan di dalam keluarga.

Inilah pentingnya kita melakukan penguatan di internal maupun eksternal pada bulan Ramadan. Alasanya karena Ramadan bulan baik. Orang berkata yang benar dijamin dengan pahala yang  besar, makanya saatnya kita di bulan Ramadan ini bukan bercerai berai tapi kerukunan di masyarakat. Kalau Ramadan kita saling gunjing, caci maki, berarti konsolidasina belum kuat.

Kemudian yang ke tiga, kita jadikan Ramadan sebagai bulan revitalisasi. Apa yang paling vital di ramadan, puasa kan, kita perbaiki dulu puasa kita bulan ini, puasa kita baru kaya orang umum, yang Cuma nahan laper dan haus aja, apa sudah kita tingkatkan?, lebih bagus lagi mata kita dipuasakan, telinga kita dan fikiran dipuasakaan sudah ga?, harus kita rubah sikap kita itu.

Salat juga demikian, tegaknya salat kita itu bermakna apa yang kita lakukan itu berbekas pada diri kita, maupun kepada orang lain. jangan puasa puasa, salat, tapi ada barang orang yang bagus kita ambil, hati juga tetap  gedek sama orang, berarti Ramadan belum menyentuh yang vital.

Yang terakhir, puasa ini jadikan sebagai bulan amal. Sedikit rejeki atau kenikmatan dari Allah  yang kita punya, cobalah kita bagi, tidak musti harta. Jarang bulan Ramadan ini orang senyum, tapi senyum itu penting membawa kebahagiaan, amal paring ringan dengan senyuman, kalau wartawan dengan tulisan yang menyenangkan dan mengedukasi masyarakat. Kalau semua kita lakukan, Insya Allah perubahan yang kita inginkan akan tercapai.(rd/dra)

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar

Editor : Fahmi Akbar