Beranda Utama 22 Travel Ilegal Ditangkap di Jalur Tikus, Penumpang Bayar Rp700 Ribu 

22 Travel Ilegal Ditangkap di Jalur Tikus, Penumpang Bayar Rp700 Ribu 

0
22 Travel Ilegal Ditangkap di Jalur Tikus, Penumpang Bayar Rp700 Ribu 
TERJARING : Kasatlantas Polres Metro Depok, Andi Indra Waspada bersama jajaran saat merilis bukti travel gelap yang terjaring petugas, di lingkungan Polres Metro Depok, Senin (3/5). FOTO : ARNET/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Jangan sekali-kali melanggar yang sudah ditetapkan pemerintah soal larangan mudik. Salah-salah, nantinya seperti 22 travel di Kota Depok. Senin (3/5), travel gelap ini ketahuan membawa penumpang yang ingin pulang kampung alias mudik. Hebatnya, pengemudi nyaris lolos karena melewati jalur tikus.

Kasatlantas Polres Metro Depok, AKBP Andi Indra Waspada menerangkan, operasi ini dilakukan atas instruksi pemerintah pusat yang melakukan pelarangan mudik. “Jadi kita melakukan operasi mulai dari pra dan paska lebaran,” jelasnya kepada Harian Radar Depok, Senin (3/5).

Andi menjelaskan, penindakan untuk travel gelap memang tertuang pada UU nomor 22 tahun 2009 pasal 308, yang ketentuannya jelas akan dipidana kurungan selama dua bulan atau denda paling besar Rp500 ribu. “Setiap orang yang berkendaran kendaraan bermotor tanpa memiliki surat izin penyelenggaran angkutan umum dalam trayek, sesuai yang diatur pada pasal 173 ayat 1 huruf a,” bebernya.

Dalam satu pekan jajaran Polrestro Depok bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Depok berhasil menjaring 22 travel gelap. Kendaraan tersebut diamankan di sejumlah jalur tikus yang berada di Depok. Dia menyebut para travel gelap tersebut direncanakan membawa pemudik ke daerah Jawa hingga Sumatera. Travel gelap ini ditilang dan disidang usai hari raya Lebaran. Indra menambahkan, travel gelap tersebut diamankan akibat tidak memiliki izin mengangkut warga mudik hingga ke luar jalur dari izin trayek yang telah ditentukan.

“Ini menjadi efek jera bagi para pengemudi untuk tidak mengangkut penumpang lagi. Bagi masyarakat yang ingin berpergian sebelum tanggal 6 harus menggunakan kendaraan yang baik,” ungkap Andi.

Lebih lanjut, Indra mengatakan, para penumpang dari travel gelap tersebut kini telah dibawa ke terminal terdekat untuk dipulangkan ke daerah asal. Uang yang sempat dibayar ke travel gelap pun sudah dikembalikan kepada para penumpang tersebut. “Sudah dikembalikan sebelum mereka dibawa ke terminal ya. Rata-rata (sudah bayar) Rp 300 ribu hingga Rp 700 ribu sesuai dengan tujuannya,” bebernya.

Menurutnya, Satlantas tidak bergerak sendiri, kegiatan ini juga bekerjasama dengan Sareskrim dan Cyber yang memantau di media sosial serta berbagai jaringan. Sebab telah banyak menawarkan jasanya melalui media sosial.

Sementara, Kabid Angkutan Dishub Depok, Marbudiantono menyebut, istilah travel itu ada pada 2019, kemudian berubah dengan angkutan antar jemput antar provinsi (AJAP) perizinannya dikelurkan Kementrian Perhubungan. Kemudian antar jemput dalam provinsi (AJDP) perizinannya dikelurkan dinas perhubungan provinsi atau sekarang badan perizinan provinsi. Mungkin itu tidak banyak yang bisa diterangkan.  “Travel yang ditangkap betul-betul ilegal, karena dia tidak memiliki izin satu pun. Barang siapa perorangan maupun pengusaha angkutan itu dilarang mengoperasionalkan angkutan tanpa perizinan,” jelasnya.

Modus travel gelap ini mungkin karena mereka ada kesempatan. Kalau lengah tidak ada razia atau tidak ada pengawasan mungkin bisa saja mereka lolos. “Artinya kita memperketat pengawasan,” tandasnya. (rd/arn)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu 

Editor : Fahmi Akbar