YPLB Nusantara Upacara
UPACARA: Anak Panti Yayasan Pendidikan Luar Biasa (YPLB) Nusantara sedang mengikuti kegiatan upacara bendera, beberapa waktu lalu. FOTO: IST

Lebih Dekat dengan Sujono, Pendiri Panti YPLB Nusantara (2)

RADARDEPOK.COM, Pertemuan Sujono dengan seorang anak penyandang disabilitas beberapa waktu lalu, terlahirlah sebuah panti bernama Yayasan Pendidikan Luar Biasa (YPLB) Nusantara. Bagaimana sepak terjang Sujono selanjutnya dalam membangun panti tersebut?

Laporan : Indra Abertnego Siregar

Mendung dan gelap seketika berubah menjadi hujan lebat mengguyur wilayah Kota Depok. Untuk menghangatkan suasana, Sujono selaku pemilik panti YPLB Nusantara membuatkan dua gelas teh manis hangat.

“Silakan diminum, hujan begini cocok ngeteh biar hangat,” kata Sujono kepada Radar Depok.

Perbincangan pun berlanjut, Sujono kembali terkenang masa di mana dia pertama kali merintis membangun panti YPLB Nusantara ini. Seingatnya, setelah dia membawa seorang anak penderita down syndrom yang ditemuinya di tempat sampah itu ke rumahnya, keluarganya sempat menanyakan siapa anak itu. Akan tetapi setelah dijelaskan, keluarganya menerima dengan baik kehadiran anak tersebut.

“Begitu sampai rumah, saya jelaskan ke anak dan istri saya kalau anak ini mau ditampung di rumah. Barang kali nanti keluarganya mencari bisa datang ke rumah untuk menemui anaknya. Alhamdulillah mereka tidak mempermasalahkan,” kenangnya.

Seiring berjalannya waktu, Sujono pun bertekad membuat sebuah tempat penampungan bagi kaum disabilitas yang terlantar. Maka dari itu, pada 2 Oktober 1989 dia membangun panti YPLB Nusantara.

Sujono tak menampik jika dia sempat kewalahan dalam mengurus anak disabilitas di panti yang masih menyatu dengan rumah pribadi mereka. Apalagi, makin hari, jumlah anak asuhnya semakin banyak.

“Awalnya memang tidak mudah, rumah tidak cukup besar, ditambah anak–anak ini butuh perhatian kusus, sedangkan tenaga perawat kurang,” ucapnya.

Dengan keikhlasan dan ketulusan yang dimilikinya, dia beranikan diri untuk menyewa sebuah lahan berukuran 800 meter untuk dijadikan asrama penyandang disabilitas.  Di tempat ini Sujono menyediakan tempat tinggal dan sekolah dengan latar belakang pendidikan luar biasa.

“Saya beranikan diri, karena saya mempunyai mimpi agar anak berkebutuhan khusus bisa memperoleh pendidikan yang sama dengan anak–anak pada umumnya,” ujarnya.

Setelah bertambah banyak penghuni panti, Sujono akhirnya mendatangkan beberapa guru pendamping untuk membantunya mengurus anak disabilitas.

“Alhamdulillah ada sukarelawan yang mau membantu saya walau hanya dibayar dengan gaji seadanya,” bebernya. (bersambung)

 

Jurnalis: Indra Abertnego

Editor: M. Agung HR