Panti YPLB Nusantara Beji
DIBINA: Seorang tenaga pendidik sedang memberikan pelajaran kepada murid Panti Yayasan Pendidikan Luar Biasa (YPLB) Nusantara. FOTO: IST

Lebih Dekat dengan Sujono, Pendiri Panti YPLB Nusantara (1)

RADARDEPOK.COM, Malaikat merupakan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, dan dikenal sebagai sosok yang baik hati serta penolong. Mengacu pada hal itu, maka tidak ada salahnya jika seorang pengelola panti disabilitas bernama Sujono, dikategorikan sebagai ‘malaikat’ berwujud manusia. Hal ini didasarkan dari ketulusan dan kerja kerasnya menolong kaum disabilitas yang terlantar.

Laporan: Indra Abertnego Siregar

Menelusuri Jalan Sempu 1 Nomor 7 dan 8 di RT06/04 Kelurahan Beji, Kecamatan Beji, tampak sebuah bangunan cukup luas. Itu adalah gedung  Panti Yayasan Pendidikan Luar Biasa (YPLB) Nusantara.

Sore itu, suasana di dalam panti cukup sejuk dan sedikit mendung. Dari dalam gedung panti, keluar sesosok pria yang sudah mulai sepuh keluar dengan baju koko lengkap dengan sarung dan peci. Dia adalah Sujono, pengurus sekaligus pendiri Panti YPLB Nusantara.

Sujono dengan raut wajah ramah dan penuh senyum berbincang, menceritakan sejarah berdirinya panti tersebut. Semua itu berawal puluhan tahun lalu, ketika dirinya masih aktif menjadi guru Aparatur Sipil Negara (ASN) di sebuah sekolah di Depok.

“Berawal dari sebuah perjalanan saya pulang kerja. Ketika melintas di jalan yang ada tempat pembuangan sampah, saya melihat anak down syndrome sedang makan makanan sisa yang dibuang di tempat sampah itu,” ucap Sujono.

Setelah melihat pemandangan itu, batin Sujono bergejolak. Hati kecilnya meronta, pikirannya berkecamuk. Miris dia rasakan, di tengah pesatnya pembangunan dari dulu hingga saat ini, masih ada warga Indonesia yang harus mengais sampah hanya untuk makan.

“Bergejolak ya, kenapa anak bangsa yang lahir di tanah sebegitu makmur ini masih ada yang makan di tempat sampah,” kenangnya.

Pada momen itu pula, suatu perubahan besar akan mengubah hidup Sujono dan anak disabilitas yang ditemuinya itu kelak. “Dalam hati saya, ada dorongan kuat yang berbicara saya harus tolong dan bantu anak ini,” katanya.

Dengan hati yang tulus dan ikhlas, Sujono pun membawa anak itu ke rumahnya, yang saat itu anak tersebut pasif dalam berkomunikasi, serta tidak ada warga yang kenal terhadap anak itu. “Dengan rasa iba saya membawa anak tersebut untuk tinggal dan dirawat di rumah saya,” tuturnya. (bersambung)

 

Jurnalis: Indra Abertnego

Editor: M. Agung HR