mengenal kepala pukesmas limo
KUNJUNGAN : Kepala Puskesmas Limo, Winarni Naweng Triwulandari saat mengunjungi rumah pasien positif Covid-19, beberapa waktu lalu. FOTO : PUTRI/RADAR DEPOK

Kehidupan di tengah pandemi Covid-19 nyatanya banyak membawa perubahan dan dampak bagi masyarakat banyak. Namun, bagi seorang dokter ada atau tidaknya pandemi Covid-19, dirinya bertekad untuk selalu berkewajiban membantu orang lain.

Laporan : Putri Disa Kiftiani

RADARDEPOK.COM, Terik matahari di luar Puskesmas Limo yang membuat hawa menjadi panas, seketika berubah dingin ketika mulai memasuki ruangan berukuran kecil. Ruangan Kepala Puskesmas Limo, Winarni Naweng Triwulandari atau yang biasa dipanggil Naweng.

Ruangan yang sudah ditempatinya hampir dua tahun ini menjadi tempat dirinya menyelesaikan banyak pekerjaan, salah satunya memikirkan tentang kemajuan Puskesmas Limo serta kepentingan masyarakat agar bisa terlayani dengan baik.

Sambil sesekali mengecek ponsel guna memantau pelayanan, Naweng mulai mengingat-ingat banyak kejadian yang telah terjadi saat pandemi Covid-19.

Mulai dari pertama kali datangnya kasus Covid-19 di Depok, pelatihan untuk melakukan swab, sosialisasi ke masyarakat tentang ada Covid-19, sampai di marahi oleh pasien ataupun keluarga pasien.

Sedikit tertawa kecil, Naweng mengingat pada awal tahun 2020, dimana kasus Covid-19 pertama kali datang dalam kehidupan manusia. Kota Depok mulai melakukan berbagai upaya untuk mencegah terjadinya kenaikan kasus Covid-19. Salah satunya dengan melakukan test rapid atau tracing.

Saat itu, kasus positif Covid-19 terus menerus naik, bahkan tidak sekalipun turun, hal tersebut berjalan terus sampai dengan akhir tahun 2020. Bahkan, setelah akhir 2020 sampai dengan Maret 2021, kasus positif Covid-19 terus meningkat dan lebih melonjak lagi.

Semua masih menerka-nerka bagaimana cara penanganan yang baik dan benar, bahkan Naweng selalu ingin memberikan yang terbaik bagi para pasien positif Covid-19.

Di saat rumah sakit penuh, ICU penuh, serta rumah pasien tidak memungkinkan untuk menjadi tempat isolasi mandiri (Isoman), Naweng berusaha mencari cara agar tetap bisa membantu.

Dengan banyaknya relasi, Naweng berusaha menyelamatkan para pasiennya, seperti meminta pertolongan kepada rumah sakit yang berada di luar Depok, dan sebagainya. “Kalau diingat saat itu sangat sedih, pasien positif banyak sekali, namun saya tetap berusaha untuk membantu,” ujar Naweng sambil mengingat kejadian tersebut.

Namun, lama-kelamaan pandemi Covid-19 sudah mulai bisa terkendali. Di akhir penghujung 2020 Kota Depok sudah mulai memiliki tempat isoman bagi para pasien Covid-19, seperti di Wisma Makara UI dan Pusat Studi Jepang (PSJ).

Tidak jarang Naweng dan juga rekan-rekan Puskesmas Limo mendapat omelan dari para keluarga pasien, namun hal tersebut sangat dimaklumi oleh Naweng, karena dia selalu mengibaratkan jika berada di keluarga yang sakit. Dengan memiliki tingkat kepanikan dan jelas ingin melihat keluarganya yang sakit tertangani dengan sebaik mungkin.

Naweng sering melakukan sharing kepada rekan-rekannya untuk bertukar cerita, sehingga kekesalan tidak dipendam sendiri. Karena yang terpenting adalah melakukan yang terbaik untuk para pasien.

“Semoga Allah SWT tetap memberi kesehatan serta kesabaran untuk bisa terus membantu banyak orang, sesuai dengan kewajiban sebagai seorang dokter,” tandasnya. (bersambung)

Editor : Junior Williandro