ilustrasi gantung diri hitam putih
Ilustrasi gantung diri.

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Warga Kecamatan Beji dihebohkan dengan penemuan jasad pria gantung diri (gandir) di dalam sebuah rumah.

Jasad pria yang diketahui bernama SM (45), merupakan seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), Diduga kuat, ia nekat mengakhiri hidupnya akibat konflik rumah tangga.

Kapolsek Beji, Kompol Agus Khaeron mengatakan, penemuan jasad korban pertama kali diketahui oleh rekanya bernama R, yang hendak berkunjung ke rumah korban.

Jadi saat itu saksi menanyakan kepada istri korban, apakah korban semalam pulang dan dikasih tahu oleh istrinya korban pulang jam 11 malam. Lalu atas permintaan istri korban, saksi mengecek korban di lantai dua rumahnya, dan terkejut melihat korban sudah tergantung kaku di seutas tali,” kata Agus, Minggu (30/5).

Ia mengungkapkan, setelah melihat jasad korban, saksi langsung berteriak dan memanggil seluruh anggota keluarga korban yang ada di rumah, untuk membantu mengevakuasi korban.

Akhirnya saksi ini memanggil seluruh keluarga korban dan dilanjutkan diturunkan oleh empat orang yang merupakan keluarga korban,” jelasnya.

Lebih lanjut, sambung dia, hasil investigasi yang dilakukan, mereka tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasaan fisik yang mengarah pada pembunuhan. Pihaknya meyakini korban meninggal murni lantaran bunuh diri.

Ini terlihat karena tidak ada tanda-tanda kekerasan, serta diperkuat dengan petunjuk dan saksi di lokasi kejadian perkara,” terangnya.

Dia tidak menampik adanya unsur permasalahan keluarga yang memicu aksi gandir korban. Berdasarkan informasi yang diterima dari beberapa saksi di lokasi, korban sempat bermasalah dengan istrinya. Selain itu, korban juga sempat mengirim pesan singkat pada anaknya yang pada intinya korban ingin menyampaikan permintaan maaf.

Menurut keterangan saksi bahwa korban sempat kirim WA kepada anaknya dengan ucapan permintaan maaf. Dugaan sementara korban gantung diri dikarenakan masalah keluarga,” tutur mantan Kapolsek Cimanggis ini.

Atas kejadian itu, pihak keluarga menolak untuk dilakukan otopsi pada jasad korban dan memilih untuk segera dimakamkan.

“Keluarga menerima kematian korban dengan ikhlas dan ingin segera menguburkan korban,” pungkasnya. (rd/dra)

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar

Editor : Pebri Mulya