Beranda Utama Fakta-fakta dari Takjil Sianida yang Tewaskan Anak di Bantul, Beralasan Sakit Hati

Fakta-fakta dari Takjil Sianida yang Tewaskan Anak di Bantul, Beralasan Sakit Hati

0
Fakta-fakta dari Takjil Sianida yang Tewaskan Anak di Bantul, Beralasan Sakit Hati
PELAKU : NAN (25), perempuan asal Majalengka, mengaku diberi saran oleh temannya untuk meracuni makanan terhadap mantan kekasihnya agar terkena mencret dan diare. FOTO : ISTIMEWA

RADARDEPOK.COM – Beberapa waktu lalu tragedi tidak mengenakan dialami warga di Bantul, D.I. Yogyakarta. Dimana, ada seorang anak berusia 10 tahun yang merupakan anak dari Bandiman, tewas karena keracunan takjil sate yang diberikan seseorang.

Bandiman semula mendapat pesanan untuk dikirim ke alamat seseorang. Tanpa aplikasi, seorang wanita tiba-tiba menghampiri dan memintanya untuk mengantarkan takjil berupa sate.

Setelah ditolak oleh penerima karena merasa tak memesan, Bandiman memilih untuk membawanya dan diberikan pada anak istrinya di rumah. Nahas, nyawa anak tak tertolong, sementara istri muntah-muntah usai makan sate.

Berikut deretan fakta dari kasus tersebut :

1. Racun dalam sate ternyata sianida

Bandiman membawa takjil sate tersebut ke rumah setelah ditolak oleh penerima kiriman. Anak dan istrinya kemudian langsung menyantapnya saat berbuka. Sang istri kemudian muntah-muntah, lalu anaknya mengeluarkan buih, Bunda.

Berdasarkan pengecekan laboratorium, takjil itu diketahui beracun. Polisi menyebut takjil mengandung racun jenis C.

“Yang jelas racun jenis C ini mudah didapatkan, itu kan untuk di apotas ada racun itu, obat tikus juga ada. Jenisnya ada yang cair dan yang padat,” kata Kasat Reskrim Polres Bantul AKP Ngadi.

Setelah ditelusuri lagi melalui pelaku, racun tersebut berupa kalium sianida atau KCN. Dirreskrimum Polda DIY Kombes Burkan Rudy Satria menuturkan racun yang digunakan jenis KCN yang padat. Sebab, dari pengakuan pelaku menaburkannya di bumbu sate.

“Sianida ditaburkan ke bumbunya itu (sate), jadi sianidanya yang (jenis) padat,” ujarnya.

2. Pelaku mengaku sakit hati dengan target

Penerima kiriman takjil sate rupanya adalah target dari pelaku. Identitas pelaku diketahui bernisial NAN (25). Pelaku mengirimkan takjil mengandung sianida kepada mantan kekasihnya, T, lantaran sakit hati.

NAN nekat mengirim sate beracun akibat sakit hati pada T yang tidak menikahinya. Ia sakit hati karena ia berharap dinikahi T namun sang mantan kekasih menikahi orang lain.

Disampaikan Burkan, motif NAN mengirim takjil beracun ini, bukan karena adanya cinta segitiga. Sebab, hubungan T dan NAN sudah berakhir sebelum T menikah.

3. Pelaku beli racun via online

Polisi mengungkap racun sianida dibeli NAN via online. Racun kalium sianida (KCN) yang digunakan berjenis padat. Pelaku membeli lewat aplikasi jual beli dan sudah cukup lama membeli.

Dari riwayat pembelian kalium sianida itu, ternyata harga racun itu senilai Rp224 ribu, dengan berat 250 gram. Polisi pun terus mendalami apa yang menginspirasi pelaku membeli sianida dan memberikannya pada makanan.

4. Ada sosok lain diduga ‘kompori’ pelaku

Kasat Reskrim Polres Bantul, AKP Ngadi mengatakan bahwa ada sosok lain yang ada di balik aksi NAN, Bunda. Seorang pria berinisial R. R disebut polisi menaruh hati kepada Nani. Namun, sosoknya masih misterius.

Setiap NAN dan T memiliki permasalahan, NAN selalu bercerita kepada R. Kemudian R menyarankan untuk memberikan pelajaran kepada T dengan memberikan Kalium Sianida. Kata R, apabila dicampur dengan makanan, efeknya hanya muntah dan diare bagi yang memakannya.

“Akhirnya tersangka mengikuti anjuran R dengan jalan membeli KCN secara online. KCN tersebut kemudian dicampurkan di dalam bumbu sate ayam yang sudah dibeli sebelumnya oleh tersangka,” ujar Ngadi.

5. Keluarga minta pelaku dipenjara seumur hidup

Melalui kuasa hukumnya, Bandiman menyampaikan bahwa keinginannya pada pelaku adalah dijerat hukuman seumur hidup. Bandiman saat ini masih di rumah bersama sang istrinya. Keduanya tentu masih berduka atas kehilangan anaknya yang begitu mendadak.

“Saya mewakili Pak Bandiman, karena Pak Bandiman masih di rumah. Kalau keinginannya (Nani) dituntut seumur hidup,” ujar kuasa hukum Bandiman, Chandra Siagian, baru-baru ini.

“Selain itu kami mengapresiasi kepolisian yang telah mengungkap kasus tersebut.” (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya