pengrajin tahun tempe depok
SIBUK : Menengok proses pembuatan tahu, di Bojong Pondok Terong, Kecamatan Cipayung, Jumat (28/5). FOTO : PUTRI/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Para pengrajin tahu dan tempe di Kota Depok protes keras. Ada dua opsi yang mau diambil. Mogok produksi atau tetap berproduksi, cuma dengan menaikan harga sebesar 30 persen, mulai Senin (31/5).

Koordinator Wilayah Sedulur Pengrajin Tahu Se-Indonesia (SPTI) Kota Depok, Romli Rohadi mengatakan, pedagang di Kota Depok sepakat akan menaikkan harga tahu tempe pada Senin mendatang.

Terkait kebijakan mogok jualan masih akan dikaji ulang, karena kan kamu Jabodetabek, ada di Bekasi masih belum semuanya membuat surat pernyataan,” tuturnya kepada Radar Depok, Jumat (28/5).

Dia menjelaskan, alasan tahu dan tempe naik adalah harga bahan baku yang juga mengalami kenaikan. Saat ini, harga kedelai sudah berkisar antara Rp9 ribu sampai Rp11 ribu. “Padahal sebelumnya saat Januari kisaran Rp8 ribu sampai Rp10 ribu saja,” jelasnya

Solusi dari permasalahan ini, pedagang sepakat untuk menaikkan harga tahu dan tempe sekitar 30 persen. Dia juga mengungkapkan, kenaikan harga kedelai sudah sejak Maret 2021. Sampai sekarang tidak kunjung turun.

Rencananya tahu akan memiliki ukuran seperti biasa ataupun lebih besar, kemudian harga dinaikkan. Sudah ada draftnya, kemungkinan nanti akan ada musyawarah ulang,” bebernya.

Dia berharap, kacang kedelai bisa dipegang kembali okeh Bulog, hal tersebut bertujuan agar bisa dikontrol dan juga dipantau. “Karena sekarang kan swasta yang pegang,” ucapnya.

Terpisah, salah satu pedagang tahu tempe di warung sayur, Nur Amanah mengatakan, saat ini harga tempe masih sama, yaitu Rp3 ribu.

Sedangkan harga tahu ada yang Rp5 ribu sampai Rp7 ribu. Tempe sendiri memang harganya sama, namun ukurannya lebih kecil dari biasanya,” tuturnya singkat.

Sementara, Kepala UPT Pasar Cisalak, Sutisna mengatakan, di Pasar Cisalak sendiri ada sebanyak 42 pedagang tahu tempe dan sampai dengan saat ini masih berjualan seperti biasa.

Memang ada kenaikan kedelai, namun rata-rata penjual tahu tempe di sini masih memiliki stok bahan baku,” tuturnya kepada Radar Depok.

Dia menjelaskan, tugasnya di UPT Pasar Cisalak adalah mengontrol saja, karena pedagangl biasanya langsung belanja ke pemasok masing-masing. Apabila memang kedepannya para pedagang melakukan mogok jualan, Tisna menyebut akan berpengaruh kepada retribusi.

Bagi kami kalau mereka memang mogok jualan, retribusi hariannya berkurang dari ke42 pedagang tersebut,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala UPT Pasar Agung, Biher Purba mengatakan, hanya terdapat lima pedagang tahu tempe yang berada di Pasar Agung dan saat ini masih aktif berjualan.

Yang aktif ada sebanyak lima pedagang. Kemungkinan jika mereka melakukan mogok berdagang tidak terlalu signifikan,” tuturnya kepada Radar Depok.

Dia menjelaskan, terkait harga tahu tempe menurutnya masih stabil. Dan harga yang ada masih relatif tergantung potongan atau ukurannya masing-masing. “Harganya berbeda-beda, tergantung dari masing-masing potongan. Tapi sampai hari ini masih normal,” pungkasnya. (rd/dis)

Jurnalis : Putri Disa

Editor : Junior Williandro