Wakil Walikota, Imam Budi Jelaskan soal Feomena Gerhana
Wakil Walikota Depok, Imam Budi Hartono. FOTO: IST/NET

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Pada Rabu (26/5) malam menjadi hari spesial karena terjadi fenomena alam gerhana bulan total (GBT) yang bertepatan dengan Hari Raya Waisak 2565 BE. Seluruh wilayah Indonesia pun dapat menikmati fenomena tersebut dengan mata telanjang.

Tetapi, di Kota Depok hal itu tidak sepenuhnya bisa dilihat dengan jelas. Fenomena GBT terpantau di kawasan Grand Depok City, kemudian di Perumahan Cibinong Alam Lestari Kelurahan Pabuaran, Kecamatan Cibinong yang berbatasan dengan Kota Depok, wilayah Citayam, lalu di Jalan Kampung Utan Jaya Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo.

Terkait hal itu, Wakil Walikota Depok, Imam Budi Hartono menyebutkan, jika gerhana bulan dimanfaatkan untuk menegaskan tauhid. Hal itu juga untuk memberantas takhayul dan khurafat, menguatkan kedudukan akal dan sains dalam kehidupan, kemudian membangkitkan keimanan dan kepedulian pada alam semesta serta kepedulian pada sesama.

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Tidaklah gerhana terjadi karena kematian atau kelahiran seorang istimewa. Maka jika kalian melihat gerhana, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, salatlah (salat Khusuf), dan bersedekahlah,” ungkap Imam berdasarkan hadits HR. Al-Bukhari.

Selain itu lanjut Imam, Allah SWT berfirman: Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya. (QS. Fushshilat: 37).

“Salat di waktu gerhana sebetulnya sama seperti salat-salat lain yang dikerjakan pada waktu tertentu.  Petunjuk ibadah bentuk caranya dan waktunya ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya, kita tiada diperkenankan menambah atau menguranginya,” tegas Imam, yang sebelumnya juga melaksanakan salat Gerhana.

Imam menjelaskan, peristiwa salat Gerhana menghindari pendapat yang harus dijelaskan dalam Islam. Pertama, Ekstrim kiri dengan mendewakan akal sembari mengabaikan wahyu, abai, tak peduli, serta tak tersentuh relijiusitasnya saat terjadi gerhana. Kalau pun peduli, hanya dari aspek keduniaan, semisal merekam dengan smartphone atau menontoninya dengan penuh kelalaian dari Sang Pencipta, sebagaimana dilakukan banyak orang zaman ini.

Lalu, kedua, Ekstrim kanan tak maksimalkan akal serta tidak mengikuti wahyu, meyakini, dan mengamalkan takhayul, khurafat, dan mitos yang tak memiliki landasan ‘aqli (riset) apalagi naqli (wahyu), sebagaimana dilakoni banyak peradaban kuno.

“Islam memaksimalkan akal (‘aqli), menjunjung tinggi wahyu (naqli), selalu ingat Sang Pencipta di beragam situasi, disertai kepedulian kepada alam sekitar dan sesama manusia,” tegas Imam.

Sementara itu, Ketua MUI Kota Depok, K.H. A. Mahfud Anwar menuturkan, menyikapi adanya gerhana bulan total ataupun sebagian, tetap harus mengacu ajaran Islam. Selain itu tidak boleh mengaitkan dengan mitos-mitos yang berkembang di masyarakat.

“Karena zaman Nabi SAW dulu juga sudah pernah ada gerhana matahari maupun bulan,” ucap Kyai Mahfud kepada Radar Depok, Rabu (26/5).

Ia juga mengingatkan bahwa gerhana itu tidak ada kaitannya dengan kematian seseorang maupun kehidupannya (lahirnya seseorang). Demikian juga di sebagian masyarakat kita ada mitos bahwa gerhana itu karena bulannya dimakan raksasa atau buto ijo, atau ada yang bilang bulannya dimakan Naga, dan lain-lain.

“Maka Rasulullah SAW mengajarkan bahwa gerhana bulan itu terjadi karena Allah SWT yang mentakdirkannya. Sebagai peringatan kepada manusia agar mendekatkan diri kepada Allah SWT, agar terhindar dari musibah maupun wabah,” tegas Kyai Mahfud.

Yaitu dengan cara bertaubat. berdzikir dan shalat gerhana serta khutbahnya. Dan dianjurkan juga bersedekah kepada sesama manusia, kepedulian atas nasib sesama yang kurang beruntung.  “Dan itu semua dikerjakan pada malam ini,” terangnya.

Terpisah, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin menyampaikan, ini adalah bukti bahwa bumi itu bulat. Ia menjelaskan, bayangan gelap yang menutupi bulan berbentuk lengkung. Bayang tersebut merepresentasikan bentuk bumi yang bulat.

“Ini ditunjukkan bahwa bentuk antara gelap dan terang adalah lengkung. Lengkung itu menunjukkan bentuk dari bayangan bumi-nya. Ini sekaligus menunjukkan bahwa bumi itu bulat,” jelas dia dalam siaran YouTube Lapan RI, Rabu (26/5).

Kembali ia menegaskan, tidak mungkin bumi itu datar. Jika benar, maka bayangan pada bulan berbentuk tidak jelas. “Dengan gerhana bulan ini, kita bisa membantah bahwa bumi itu tidak datar, tapi bumi itu bulat,” tandasnya.

Sementara itu, bagi masyarakat yang melewatkan fenomena alam ini dapat melihatnya lagi di tahun ini, yakni bulan November mendatang. “Ada fenomena gerhana bulan lain, di bulan November,” ujar Peneliti Lapan, Emmanuel Sungging. (rd/arn/jpc)

 

Jurnalis: Arnet Kelmanutu

Editor: M. Agung HR