triyono
Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG, Rahmat Triyono

RADARDEPOK.COM – Masyarakat Depok harus meluangkan waktu sekitar 55 menit, Rabu (25/05) malam. Tepatnya 18:09 WIB. Malam spesial tersebut akan indah. Fenomena alam gerhana bulan total alias super blood moon akan terjadi dan dapat disaksikan dengan mata telanjang.

Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG, Rahmat Triyono menegaskan, gerhana bulan total dapat dipastikan akan terjadi hampir di seluruh Indonesia, termasuk Kota Depok karena masuk dalam daerah Jawa Barat maupun Jabodetabek. “Hanya ada beberapa daerah yang tidak bisa menyaksikan fenomena ini, dan itu terjadi di luar pulau Jawa,” terangnya kepada Radar Depok, Senin (24/5).

Dia juga memastikan, jika gerhana bulan total yang akan berubah menjadi kemerahan sehingga disebut sebagai super blood moon, dapat disaksikan dengan mata telanjang. Tanpa menggunakan kaca mata atau fasilitas apapun. “Gerhana Bulan Total ini dapat disaksikan jika kondisi cuaca cerah-berawan dan aman disaksikan masyarakat dengan mata telanjang, tanpa harus menggunakan kaca mata khusus gerhana,” terang Rahmat.

Dia membeberkan, jika gerhana bulan akan berlangsung selama 55 menit lamanya, dengan terbagi ke dalam empat fase. Namu fase pertama hanya bisa disaksikan dari Papua, lalu untuk seluruh Indonesia akan dapat menyaksikan di fase U1, dimana ini menjadi awal yang disebut gerhana sebagian.

Lalu, pada fase U2 gerhana bulan total akan berlangsung sekitar sembilan menit, dan akan berlanjut pada fase puncak, yaitu puncak gerhana bulan. Akan terjadi pada tepat pada pukul 18:18 WIB. Selanjutnya masuk pada fase U3 yang disebut akhir fase total. “Dan habis itu akan masuk pada fase U4, dimana akan kembali pada gerhana bulan sebagian. Fase ini dapat disaksikan di seluruh daerah tanpa terkecuali,” tambahnya.

BMKG akan melakukan pengamatan Gerhana Bulan Total 26 Mei 2021 di lokasi-lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Caranya dengan menggunakan teleskop yang dipadukan dengan detektor dan teknologi informasi dan disebarluaskan melalui web resmi BMKG.

Gerhana Bulan adalah peristiwa terhalanginya sinar matahari bumi. Sehingga tidak semuanya sampai ke bulan, dilihat dari bumi. Peristiwa yang merupakan salah satu akibat dinamisnya pergerakan posisi matahari, bumi, dan bulan ini hanya terjadi pada saat fase purnama dan dapat diprediksi sebelumnya. “Gerhana Bulan Total terjadi saat posisi Matahari-Bumi-Bulan sejajar,” tutupnya. (arn/rd)

 

Jurnalis : Arnet Kelmanutu 

Editor : Fahmi Akbar