Beranda Ruang Publik Lebaran Ditengah Pandemi Menuju Kesalehan Sosial dan Keselamatan Bangsa (Refleksi menuju Kemenangan)

Lebaran Ditengah Pandemi Menuju Kesalehan Sosial dan Keselamatan Bangsa (Refleksi menuju Kemenangan)

0
Lebaran Ditengah Pandemi Menuju Kesalehan Sosial dan Keselamatan Bangsa (Refleksi menuju Kemenangan)
Oleh: Dr. H. Heri Solehudin Atmawidjaja

Islam adalah Agama yang sempurna, kesempurnaanya tertulis jelas dalam seperangkat aturan yang melekat dalam kehidupan ummat manusia, semua tertulis jelas dalam ayat-ayat Qaulilah (Al Quran), memiliki sistem penjelas yang membumi (hadist/sunnah). Kesemuanya merupakan jawaban atas permasalahan yang terjadi pada ummat manusia dari sejak lahir hingga kematianya dari zaman ke zaman (shohihun likulli zaman wal makanun), dari hal yang bersifat sangat pribadi maupun yang berdampak sosial, dari hubungan antar sesama  manusia sampai hubungan dengan sang Khaliknya . Jadi jelas bahwa Islam tidak hanya mengatur masalah ritual saja tetapi juga sosial. Maka dalam Al Quran juga terbagi dalam dua ketentuan yaitu qot’i lil wurud dan dzonny lil wurud, ada yang sudah tegas, jelas dan tanpa perlu penafsiran lagi tapi juga ada yang masih diperlukan penafsiran lagi terutama hal ini terkait dengan masalah-masalah mu’amalah (hubungan antar sesama manusia).

Pandemi Virus Corona (Covid-19) telah  menganggu bahkan menghancurkan  tatanan kehidupan kita sehari-hari, baik ekonomi, politik, dan sosial keagamaan, meskipun saat ini  upaya yang dilakukan oleh pemerintah bisa dikatakan cukup memadai melalui penerapan social distancing, penguatan sarana dan prasarana (sarpras) medis dalam mitigasi dan penanganan Covid-19, hingga pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diterapkan di berbagai wilayah untuk menekan angka positif Covid-19. Sebagai sebuah pandemi global memiliki signifikansi terhadap berbagai aspek dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dari berbagai aspek yang terdampak, pandemi Covid-19 memberikan pengaruh yang besar terhadap mikroekonomi dan makroekonomi nasional. Pada tataran lebih lanjut, para pelaku industri skala besar harus mengurangi atau bahkan menghentikan kegiatan operasionalnya karena penurunan permintaan tersebut.  Faktor Inilah yang pada giliranya kemudian memantik gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang begitu massif dan pada akhirnya sangat berpotensi menimbulkan malah sosial baru. Banyak diantara mereka tiba-tiba menjadi miskin karena dirumahkan atau bahkan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Pelaku sektor UMKM yang biasanya panen rezeki selama Ramadan dan Idul Fitri kini banyak yang gigit jari karena merosotnya daya beli dan berkurangnya konsumen.

Zakat Fitrah di Tengah Pandemi

Setelah berpuasa selama sebulan penuh pada bulan Ramadhan ini kita dituntut untuk membayar Zakat Fitrah , Zakat Fitrah wajib dilaksanakan berdasarkan hadis dari Abdullah bin ‘Umar (diriwayatkan), bahwa Rasulullah SAW telah mewajibkan Zakat Fitrah di bulan Ramadan atas setiap jiwa dari kaum muslimin, baik orang merdeka, hamba sahaya, laki-laki ataupun perempuan, anak kecil maupun dewasa. Adapun ketentuan besar zakat fitrah adalah sebesar satu sha’ atau 4 mud (675 gr) atau nilainya sama dengan 2,5 kilogram beras, gandum, kurma, sagu, atau makanan pokok lainnya sesuai daerah yang bersangkutan. Zakat Fitrah (zakat al-fitr) adalah zakat yang diwajibkan atas setiap jiwa, baik laki-laki dan perempuan Muslim yang dilakukan pada bulan Ramadan menjelang Idul Fitri.

Perintah untuk menunaikan zakat fitrah ini disebutkan dalam Al Qur’an, QS. At Taubah: 103 : “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”  Pada ayat lain juga disebutkan dalam QS. Al Baqarah: 43:  “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’”[1]

Juga disebutkan dalam hadis Ibnu Umar RA :  “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas umat muslim; baik hamba sahaya maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar. Beliau SAW memerintahkannya dilaksanakan sebelum orang-orang keluar untuk shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Zakat bisa menjadi solusi di tengah cobaan pandemi Virus Corona (Covid-19) yang juga melanda Tanah Air. Masyarakat khususnya kaum muslimin yang memiliki kemampuan lebih bisa mengambil bagian meringankan beban saudaranya yang saat ini mengalami kekurangan. Sejak awal Ramadan lalu Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa pemanfaatan zakat, infak, sedekah untuk penanggulangan wabah Covid-19 dan dampaknya. Dalam pertimbangannya, Komisi Fatwa MUI menyebutkan dampak wabah Covid-19 tidak hanya terhadap kesehatan, tapi aspek sosial, ekonomi, budaya, dan sendi kehidupan lain. Seruan agar kaum muslim menunaikan zakat baik zakat harta, perdagangan, pertanian, maupun zakat fitrah juga disampaikan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Zakat adalah ibadah amaliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi sosial ekonomi atau pemerataan karunia Allah SWT dan juga merupakan perwujudan solidaritas sosial, pernyataan rasa kemanusian dan keadilan, pembuktian persaudaraan Islam, pengikat persatuan ummat dan bangsa, sebagai pengikat bathin antara golongan kaya dengan yang miskin dan sebagai penimbun jurang yang menjadi pemisah antara golongan yang kuat dengan yang lemah. Memberantas penyakit iri hati, rasa benci , dan dengki dari diri manusia yang biasa timbul ketika melihat kecukupan atau kelebihan orang disekitarnya.

Memaknai Idul Fitri Ditengah Pandemi

Hari Raya Idul Ftri 1442 H akan dirayakan beberapa hari lagi. Sayangnya, perayaan Lebaran tahun ini belum terlepas dari pandemi Covid-19 yang telah melanda Indonesia sejak 2020. Kondisi ini menyebabkan perayaan hari Lebaran sebisa mungkin dilakukan berjarak dan jauh dari kerumunan. Apalagi baru-baru ini pemerintah mengeluarkan larangan mudik selama periode libur Lebaran 2021. Hal ini menyebabkan banyak orang terpaksa batal mudik dan tidak jadi berkumpul bersama keluarga besar untuk melakukan rutinitas Lebaran seperti tahun-tahun sebelumnya. Memang, perayaan lebaran dengan bertemu langsung kawan lama dan keluarga yang jauh merantau memiliki makna besar secara sosial, disinilah bobot lebaran menjadi sangat tinggi. Apalagi dibumbui dengan rangkaian tradisi yang sangat kental, seperti karnaval, ceremony lebaran seperti Halal Bihalal, reuni sekolah dan perguruan tinggi, serta lainnya dengan segala keunikan tradisi. Semua itu seakan mengurangi nilai sosialnya saat “personal touch” ditiadakan. Namun demikian, bukan berarti ketiadaan personal touch serta merta menghilangkan spirit budaya lebaran. Konsep dasar dari perayaan lebaran adalah ketika kita mampu memberi maaf kepada sesama di kampong halaman.

Mudik sebagai sebuah tradisi masyarakat kita di perantauan yang memanfaatkan hari raya untuk bersilaturrahmi dengan sanak saudara harusnya menjadi perhatian penuh pemerintah, bukan hanya sekedar melarang masyarakat mudik akan tetapi pemerintah juga harus bertanggung jawab memfasilitasi masyarakat kita yang ingin mudik agar tetap bisa mudik dengan aman dan tanpa menimbulkan gejolak baru penularan Covid 19. Pada saat yang sama masyarakat juga perlu mendapatkan edukasi secara terus menerus dan massif agar memiliki pemahaman dan kesadaran yang tinggi terhadap segala resiko dan konsekwensi negatif jika memaksakan kehendaknya dapat berakibat buruk pada keluarga dan kerabat tercintanya, dengan demikian menahan diri untuk tidak mudik bisa dikategorikan sebagai tindakan menyelamatkan dari penularan wabah Covid 19, suatu tindakan yang bernilai ibadah, maka tidak berlebihan jika ada yang menyebutkan sebagai jihad.

Didalam kaidah ushul fiqh  sering kita dengar “Dar’ul mafaasid muqoddamun ala jalbil mashoolih”  yang artinya meninggalkan dan menjahui segala hal yang akan menimbulkan kemafsadatan harus didahulukan daripada mengambil manfaat dan kemaslahatan, menjaga keselamatan diri dan keluarga adalah hukumnya wajib sedangkan bersilaturrahim secara personal touch adalah hukumnya sunah, bersilaturrahim masih tetap bisa dilaksanakan dengan melalui sambungan telepon, video call, skype, media online dan lain sebagainya. 

Penutup

Kemenangan sejatinya bertempat di hati, bukan di permukaan ekspresi sosial. Takbir keliling adalah bagian dari ekspresi kegembiraan, namun tidak serta merta itu cerminan dari kesyukuran. Ungkapan takbir, tahlil, dan tahmid yang biasanya menggelegar di ruang-ruang publik, saat ini mungkin hanya bisa dilakukan melalui bilik-bilik kecil atau sudut-sudut kamar di dalam rumah. Menjalankan ibadah dan doa dengan harapan anugerah-Nya diturunkan. Rahmat Allah SWT ditunggu agar mara bahaya diangkat secepat mungkin. Pada titik inilah manusia seharusnya sadar, ia tidak memiliki apa-apa, semua atas kuasa Tuhan yang Maha Perkasa, manusia hanya makhluk kecil dengan segala kelemahan. Hal terpenting dari semua itu adalah bahwa dalam situasi menghadapi pandemi saat ini kesadaran sosial menjadi sebuah keniscayaan, berzakat, ber-iedul fitri, bersilaturrahmi adalah rangkaian ibadah berdimensi sosial yang menjadi kekuatan besar kita dalam menghadapi wabah pandemi corona saat ini, kita terus bersujud, bertakbir dan bertakhmid kepada Allah SWT agar pandemi ini segera berakhir. Wallaahu a’lam