pendongeng
UNIK: Mohamad Gery Purnomo sedang bermain peran sembari bercerita di TK. IST

RADARDEPOK.COM – Guru, sebuah profesi mulia sebagai contoh generasi penerus bangsa yang sikap dan sifatnya perlu menjadi teladan. Gery contohnya, pria kelahiran Depok tahun 1988 tinggal di wilayah Kelurahan Baktijaya, Kecamatan Sukmajaya.  Begitu lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) langsung mengabdikan di dunia pendidikan.

Laporan: Daffa Andarifka Syaifullah

Biasanya, saat memasuki Ujian Nasional SMA, para siswa mengatur strategi dalam menentukan masa depan. Menyiapkan diri menjajaki perguruan tinggi dengan almamater kebanggan. Tetapi, berbeda dengan Mohamad Gery Purnomo. Di sekolah, dia sangat menggemari tantangan. Mata pelajaran favoritnya pun adalah matematika dan sempat terpikirkan dalam benaknya menjadi guru matematika mungkin saja keren.

Namun, takdir berkata lain, begitu lulus dia harus bekerja. Mencoba lowongan kesana kemari. Hingga akhirnya pada 2006 seorang teman mengajak untuk menaruh lamaran ke satu sekolah. Sekolah Komunitas Kebon Main. Terdapat dua jenjang disana, yaitu TK dan SD.

“Ketika menaruh lamaran, ternyata yang dibutuhkan itu guru olahraga SD. Saya dites dengan berlari dan menghitung jarak saat lari. Karena mungkin manajemen sekolah melihat postur tubuh saya yang gemuk dan cepat lelah, akhirnya tidak diterima dan malah dialihkan menjadi guru pendamping di jenjang TK,” kata Gery.

Sesampainya di rumah, dilihat oleh orang tuanya Gery yang bercucuran keringat. Tak lama. Mereka (orang tua Gery) pun menanyakan bagaimana hasil dari tes tersebut. Mendengar anaknya lolos dan menjadi guru, raut bahagia turut menghiasi rumahnya kala itu. Sebelum menjadi guru, pihak sekolah mengajukan sebuah syarat yang mungkin agak nyeleneh, tetapi juga menjadi tenar saat itu. Diminta membuat surat keterangan normal dan tidak mengidap penyakit pedofilia atau gangguan seksual terhadap anak kecil.

“Alhamdulillah orang tua mendukung dan ingin anaknya ketika mengajarkan sebuah ilmu tapi juga bisa jadi contoh yang bisa ditiru oleh murid dan masyarakat. Di tahun itu, 2006 lagi marak pelecehan seksual kepada anak di salah satu sekolah Depok. Akhirnya, dibuatlah surat dari rekomendasi guru ngaji saya. Dan mulailah hari-hari mengajar disana,” bebernya.

Sekilas, menjadi guru pendamping di sebuah TK merupakan hal sepele. Mengantar anak-anak ke Mandi Cuci Kakus (MCK) sampai dia mandiri, dan menggantikan guru utama dikala tak hadir. Setahun dia disana, akhirnya memutuskan untuk keluar dan sempat menganggur. Sampai, dirinya melamar menjadi guru utama di Raudhatul Athfal (RA) Madinatun Naja.

“Dari situ, saya menjadi guru utama dan setiap guru mendapatkan pelatiham untuk mendalami kegiatan Sentra Imajinasi. Dimana belajar imajinasi untuk bermain peran seperti pemainan Mikro dan Makro,” tuturnya.

Dari situlah ketertarikannya untuk merambah ke dunia mendongeng dan bermain peran. Mulai menyambangi ke satu sekolah ke sekolah lainnya, taman pendidikan Al-quran (TPA), dan taman baca untuk bersandiwara. (bersambung/rd)

Editor : Fahmi Akbar