daffa
Inspiratif: Mohammad Gerry Purnomo bersama Boneka kesayangannya, Otan. IST

RADARDEPOK.COM – Indonesia merupakan negara kepulauan dengan 34 Provinsi. Untuk menginjakkan kaki di wilayah lain, biasanya perlu mengeluarkan dompet. Tetapi, berbeda dengan Gerry, dia telah melanglangbuana dengan gratis. Tentunya disertai tujuan mulia mengedukasi anak-anak.

Laporan: Daffa Andarifka Syaifullah

Usai menjadi guru TK, Kak Gerry –sapaanya-, mengawali pengalaman berpijak ke berbagai daerah di Indonesia, dengan bergabung bersama komunitas Gerakan Para Pendongeng untuk Kemanusiaan (GEPPUK). Komunitas yang terkonsen untuk kegiatan kemanusiaan.

Kala itu, perjalanannya tak langsung keluar daerah. Tetapi menapaki satu sekolah ke sekolah lainnya. Mengedukasi dan mengenalkan anak-anak dengan mendongeng maupun bermain peran. Tanpa ada buah tangan berupa fee dan income bagi para pendongeng. “Saya yakin jika dijalani secara ikhlas dan legowo, rezeki akan ada saja mengalir, dan dari mana saja,” ujarnya.

Melihat kondisi pendongeng saat itu, salah seorang pendongeng kemudian mengusulkan untuk membuat manajemen. Yang bisa menghasilkan income atau fee untuk anggotanya. Akhirnya, tersebentuklah manajemen dongeng inspirasi (MDI).

MDI bekerjasama dengan sejumlah lembaga kemanusiaan, salah satunya lembaga kemanusiaan Palestina (Kasi Palestina) di tahun 2010. Disinilah peluang Gerry untuk berkeliling daerah di Indonesia. Sebagai contoh, ketika dirinya bertugas di Lampung, Sumatera Selatan.

“Jadi, Kasi Palestina ini mencari titik-titik sekolah yang ingin diedukasi melalui dongeng ataupun cerita. ketika sekolah setuju, maka mereka akan menghubungi admin MDI untuk mengirimkan pendongeng. Nah, tugas kami untuk mengedukasi dengan bercerita dan mendongeng,” ujarnya.

Beberapa daerah lain yang sudah didatangi, seperti Aceh, Pangkal Pinang, Belitung, Palu, Lombok, Banjarmasin, Surabaya, Indramayu, Kediri, dan Kota lain. Untuk transport, penginapan, makan dan lainnya sudah ditanggung lembaga kemanusiaan itu.

Semua perjalanan mendongeng, baginya memiliki kesan tak terlupakan. Tetapi, ada dua momen mendongeng yang tidak akan dia lupakan. Seperti dalam suatu kegiatan, dia mengisi ice breaking dan dihadiri 500 murid, didampingi para guru. Setelahnya, Gery mendapat applause karena sukses membawakan sebuah dongeng bersama boneka.

Kemudian yang kedua, tepatnya di wilayah Indramayu, dia hendak mengisi satu acara dengan mendongeng kepada anak-anak disana. Saat mengeluarkan boneka, anak-anak malah ketakukan.

“Saya kaget pas di Indramayu, mereka takut lihat boneka. Jadi kondisinya mereka beberapa persennya berasal dari keluarga menengah kebawah, mungkin gak pernah lihat di televisi,” tuturnya.

Gelar pendongeng nasional menurutnya lumayan berat, seringkali setiap dia dipanggil ke sebuah acara, lantaran sudah mengelilingi Indonesia, pihak penyelenggara mendapuk Gerry sebagai pendongeng nasional.

“Agak berat sih, ketika diamanahkan keliling daerah, banyak dari mereka yang memberi saya gelar pendongeng nasional. Padahal, untuk menjadi pendongeng profesional diperlukan sertifikat dari Dinas Pendidikan, apakah seorang pendongeng ini layak atau tidak,” jelasnya.(bersambung)

Editor : Fahmi Akbar