pendongeng
GEMBIRA: Mohamad Gerry  Purnomo menunjukkan beberapa koleksi bonekanya ketika ditemui di kediamannya, Jalan Cemara VI, RT3/10, Kelurahan Baktijaya, Kecamatan Sukmajaya, Selasa (26/5). FOTO : DAFFA/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Profesi Pendongeng di Indonesia masih dilematis. Pasalnya, hingga saat ini, masih belum adanya sertifikat khusus, resmi dari pemerintah seperti profesi lainnya. Sebagai branding nya pun hanya dari rekomendasi satu panitia ke panitia lainnya. Hal ini juga berpengaruh pada fee yang didapatkan.

Laporan: Daffa Andarifka Syaifullah

Dibalik melanglangbuananya Gerry ke berbagai daerah di Indonesia, tersimpan pengalaman pahit. Biasanya, jika mau mengundang dia untuk ke suatu acara, dia menawarkan dua pilihan. Antara lain dengan membawa nama komunitas yang diikuti, atau pribadi. Semua itu terserah sang penyelenggara acara.

Pria berbadan gempal ini, tidak pernah mematok tarif untuk sekedar mencairkan suanana acara dibalik jenuhnya materi. Biasanya, begitu dikeluarkan sebuah boneka dari ransel, anak-anak begitu antusias dan fokus dengan cerita yang dibawa oleh Gerry.

Berbagai instansi baik pemerintahan seperti Kemeterian Sosial, Kementerian Pendidikan maupun komunitas pernah mengundangnya. Selain mendongeng, Kak Gerry –sapaanya-, juga mengajarkan anak-anak hingga orang dewasa untuk berkereasi. Hanya bermodalkan kaos kaki bekas, disulaplah menjadi sebuah boneka lucu dan unik.

Intensif yang didapatnya bervariatif. Jika yang memanggilnya adalah dari suatu lembaga resmi, perusahaan atau kementrian, dia bisa mengantongi ratusan sampai jutaan rupiah dari dalam sebuah amplop begitu selesai acara. Untuk intensif atau fee profesional selama mendongeng dapat sekitaran range Rp550 ribu sampai Rp2 jutaan. Kalau Rp2 jutaan itu di lembaga atau perusahaan yang profitnya lumayan. “Seperti pernah bekerjasama dengan Kementrian Sosial, dan Kementrian Pendidikan. Apalagi ketika kita melakukan kegiatan psikososial lewat dua kementrian untuk relawan yang melakukan kegiatan trauma healing,” kata Gerry.

Namun, karena tidak mematok tarif, acapkali dia mendapat fee yang tidak sebanding dengan jarak dan pekerjaan. Tepat di halaman rumahnya, dia bercerita satu acara di wilaah Parung, dengan jarak yang lumayan jauh, dan waktu tempuh hampir satu jam menggunakan sepeda motor Vario-nya.

“Terkadang  dapat fee diangka Rp100 ribu. Pernah waktu itu di daerah Parung kesanaan lagi, mengisi sebuah acara dibayar Rp100 ribu. Untuk bensin dan makan tersisa Rp25 ribu untuk istri dan kedua anak saya. Disyukuri saja rezeki,” tuturnya.

Selain memiliki istri dan dua anak, dia juga harus menyisihkan uang untuk menambah jumlah koleksi bonekanya. Saat ini, terdapat dua jenis boneka yang ia miliki. Yaitu boneka yang mulutnya bisa terbuka (mupper), dan tidak bisa terbuka.

“Untuk Muppet ini harganya lumayan mahal. Dikisaran Rp700 ribu lebih dan sulit dicari. Kalau yang tidak bisa terbuka mulutnya kan gampang dicari dan harganya pun murah,” ucapnya.

Kedepannya, di waktu usianya telah senja, dia ingin membuat sebuah usaha. Tetapi entah jenis usaha apa. Yang jelas, disamping usaha, Gerry tetap mau bermanfaat bagi orang lain. “Maunya sih usaha kecil-kecilan sama bikin pelatihan sendiri terkait boneka maupun anak-anak. Mudah-mudahan terlaksana,” tukasnya. (daf)

Editor : Fahmi Akbar