puskesmas beji timur
TIDAK BERFUNGSI : Penampakan mobil ambulance milik Puskesmas Beji Timur yang tidak boleh digunakan mengantar pasien ke RSUD.

RADARDEPOK.COM, BEJI TIMUR – Profesionalisme dan integritas petugas Puskesmas Beji Timur, Kecamatan Beji dipertanyakan masyarakat. Belum lama ini, ada laporan dari Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Kota Depok yang kecewa dengan pelayanan petugas Puskesmas Beji Timur.

Ketua DKR Kota Depok, Rony Pengharapan mengatakan, pihaknya kecewa dengan sikap petugas Puskesmas yang menolak untuk membantu salah satu warga yang membutuhkan pertolongan ambulance.

Jadi ada warga Beji yang sedang kami antar untuk berobat ke Puskesmas Beji Timur, tapi ditolak karena alasan bukan faskesnya warga ini. Lalu kami meminta agar pasien diantar ke RSUD dengan mobil ambulance disana, tapi nyatanya tidak bisa,” kata Rony, Minggu, (16/5).

Dia mengungkapkan, kejadian ini terjadi pada Sabtu (15/5). Saat itu pasien bernama Jamilah kondisinya sudah melemah dan harus mendapatkan pertolongan medis. Lantaran Puskesmas Depok Utara yang jadi faskes pasien tutup karena lebaran, terpaksa tim DKR mengantarkan ke Puskesmas Beji Timur yang masih beroperasi. Hanya saja, ketika sampai disana, bukanya ditolong, pasien ditolak dengan alasan bukan faskes dari pasien.

“Ya kemaren pasien Ibu Jamilah dibawa oleh Ibu Amnah dan relawan DKR Kota Depok lainnya ke puskesmas Beji Timur, tapi oleh petugas diarahkan ke Puskesmas Beji, sesuai faskesnya. Padahal Puskesmas Beji tutup, libur lebaran,” tuturnya.

Lalu, Bu Amnah meminta agar puskesmas bisa menolong untuk antar pasien ke RSUD, mengingat kondisi pasien tidak memungkinkan bila naik angkot.

“Ya relawan DKR sempet minta tolong agar puskesmas mau antar pasien menggunakan ambulan, tapi menolak dengan berbagai alasan,” bebernya. Karena tidak ada respon baik dari petugas Puskesmas Beji Timur, akhirnya untuk keselamatan pasien, relawan DKR berusaha mencari ambulance sendiri, dengan resiko bayar.

“Alhamdulillah ada ambulan yayasan, bersedia antar pasien dengan membayar Rp300 ribu, mengingat kondisi pasien yang perlu segera pertolongan,” terngnya.

Atas kejadian ini, DKR mengaku sangat kecewa terhadap pelayanan Puskesmas Beji Timur, dan akan melakukan protes keras kepada pemerintah Kota Depok. “Kami terus terang sangat kecewa terhadap pelayanan Puskesmas Beji Timur, yang sangat kaku terhadap SOP, dan tentu kami protes keras,” imbuhnya.

Dia menambahkan, dalam waktu dekat, DKR akan melayang protes keras kepada pemerintah Kota Depok atas pelayanan puskesmas tersebut. “Senin kami layangkan surat ke Pemerintah Kota Depok dalam hal ini Dinas Kesehatan,” tutupnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Novarita membantah jika petugas Puskesmas Beji Timur menolak untuk menangani dan mengantarkan pasien tersebut ke RSUD. Dia menjelaskan, pada saat itu, pasien dan tim pengantar tidak sabar dan ingin buru-buru diantarkan ke RSUD. Sedangkan, untuk mengantar pasien ke RSUD khsusnya dengan ambulance, ada sejumlah prosedur yang harus dilakukan pihak Puskesmas.

Kalau pinjam ambulance itu ada prosedurnya. Pasien harus pasti dulu tujuannya ke rumah sakit mana, petugas harus memastikan dulu rumah sakit yang dituju siap apa tidak. Tidak bisa main antar saja,” sanggah Novarita.

Dia menjelaskan, untuk kasus ini, sebenarnya pihak Puskesmas Beji Timur sudah menjalankan prosedur pemberitahuan ke RSUD Depok, hanya saja pihak RSUD Depok belum memberikan jawaban atau menyetujui pengantaran pasien tersebut.

Sudah dikabari Cuma RSUD juga tak segera jawab pada saat itu, karena RSUD juga harus cek kesiapan, jadi si warga udah tak sabar dan akhirnya nyewa ambulance yayasan. Mereka berangkat sekitar jam tiga sorean, sedangkan jawaban RSUD baru masuk ke Puskesmas jam lima sore lewat,” bebernya.

Kata dia, apa yang dilakukan petugas Puskesmas tersebut sudah sesuai dengan SOP yang berlaku. Sebab, jika tidak mengikuti SOP, petugas Puskesmas hingga sopir ambulance akan mendapat teguran. Jadi intinya, ambulance gak bisa main antar saja, karena pelayanannya beda dengan angkot. Prosedurnya harus dijalankan dengan baik,” pungkasnya. (rd/dra)

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar

Editor : Junior Williandro