Ilustrasi PPDB
Ilustrasi PPDB

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Jadwal Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Kota Depok Tahun Ajaran 2021-2022 resmi diluncurkan. Pendaftaran bakal dibuka mulai akhir Juni secara offline dan dalam jaringan (Daring).

PPDB tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dilakukan secara daring atau Online. Sedangkan PPDB tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) secara offline dan daring terbatas.

Namun, terdapat beberapa perbedaan ketentuan pada PPDB 2020 dengan PPDB 2021. Di antaranya, siswa tidak mampu pada 2020 sebesar 10 persen. Sedangkan siswa tidak mampu pada 2021 sebesar 13 persen.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Mohammad Thamrin menyebutkan, pihaknya telah menginformasikan kepada sekolah dan masyarakat mengenai sistem PPDB Kota Depok. Mulai dari jalur masuk, waktu pelaksanaan PPDB tingkat TK hingga SMP. Serta tata cara perpindahan dan daya tampung SMP se-Kota Depok.

“Untuk SD Negeri, Zonasinya minimal 75 persen, kalau tahun lalu minimal 50 persen. Lalu, di tahun ini pendaftaran SD cukup melalui satu link setiap kecamatan menggunakan google form. Jika dibandingkan tahun lalu semua sekolah punya link pendaftaran masing-masing, sehingga banyak yang daftar double,” ucap Thamrin kepada Radar Depok, Minggu (23/5).

Selain itu lanjut Thamrin, calon siswa baru jenjang SMP tidak lagi diberikan poin per kelurahan seperti tahun lalu, tetapi berdasarkan titik koordinat terdekat dengan rumah atau tempat tinggal siswa. Berdasarkan Kartu Keluarga Depok. “Untuk menerapkan itu, kami sedang mengembangkan aplikasi bekerjasama dengan pihak Telkom,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Sekolah Dasar Disdik Kota Depok, Sada Sugianto mengungkapkan, penerapan satu link pendaftaran untuk satu kecamatan ini dinilai akan efektif untuk memudahkan sistem serta memberikan kemudahan dalam pembagian dan pemetaan zonasi.

“Artinya, para peserta didik yang berada di satu wilayah akan mengakses satu link itu. Di dalamnya tercantum beberapa pilihan sekolah yang dituju. Nantinya, anak yang telah mendaftar di salah satu sekolah tidak bisa mendaftar di sekolah lain,” ungkapnya.

Dalam link tersebut juga berisi informasi yang disampaikan panitia PPDB apabila satu sekolah sudah terpenuhi kuotanya. Diimbau kepada orang tua murid agar memilih sekolah lainnya yang masih memiliki kuota. “Kelemahan sistem tahun lalu, saat sekolah membuka masing-masing webnya, ditemukan adanya data ganda pada perekapan validasi data akhir. Di tahun ini akan coba kami permudah,” bebernya.

Menurut Sada, untuk PPDB jenjang SD pada tahun ini juga berbeda, yakni dilakukan secara semi online atau offline (daring) terbatas. Orang tua murid bisa mendaftarkan anaknya langsung melalui gawai pribadi. Jika tidak memiliki kapasitas dan fasilitas IT yang baik, maka diarahkan untuk meminta bantuan operator sekolah yang terdekat dari tempat tinggal.

“Orang tua murid harus mengupload akta kelahiran, KK, Sertifikat Tanda Serta Belajar (STSB) dari TK atau PAUD karena masuk SDN atau SD lain minimal berusia enam tahun, surat keterangan tanggung jawab mutlak orang tua bermaterai 10 ribu, dan Kartu Perlindungan Sosial bagi warga tak mampu,” ujarnya.

Berdasarkan Petunjuk Teknis (Juknis) yang dikeluarkan, dalam satu kelas di SD, diisi oleh paling banyak 32 siswa, dan satu sekolah minimal memiliki empat rombongan belajar. Tetapi, hal itu dikembalikan kepada kemampuan dan daya tampung sekolah masing-masing.

Realisasi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) lanjutnya, pihaknya tengah mempola terhadap realisasi untuk membiasakan para siswa agar kembali belajar seperti biasa, tetapi juga mengacu kepada protokol kesehatan (prokes) dan diimplementasikan setiap hari. Dengan memerhatikan dua poin penting. Pertama, memberikan satu pemetaan terhadap jumlah siswa, jumlah kelas, dan rombel yang ada dalam satuan pendidikan. Kemudian yang kedua, sedang memetakan mengalokasikan waktu tatap muka sesuai peraturan empat menteri. Misalnya, dalam PTM hanya akumulasi tiga jam pembelajaran, dan akan tidak istirahat, tidak melakukan kegiatan bermain, dan dipastikan didrop dan dijemput oleh orang tua murid saat berada disekolah.

“Nah inilah yang kami petakan kepada sekolah-sekolah supaya mereka nanti ketika uji coba PTM, bisa menyiasatinya. Contoh kelas satu kira-kira berapa hari dalam satu minggu bisa tatap muka. Termasuk juga agar semua tenaga pendidik dipastikan sudah divaksinasi. Saat ini baru terlaksana 80 persen. Mudah-mudahan Juli sudah selesai,” tuturnya.

Sementara Kabid SMP Disdik Kota Depok, Mulyadi mengatakan, penerapan titik koordinat bagi calon siswa SMP yang mendaftarkan diri di PPDB 2021 ini berdasarkan alamat siswa dalam pendaftaran dan akan terbaca oleh sistem aplikasi.

“Akan bisa dilihat posisi anak berada dimana. Kalau tidak terbaca di sistem, maka akan dicari lokasi terdekatnya. Kemudian, kalau nanti saat sudah memilih sekolah yang dituju, maka akan muncul titik koordinat garis lurus antar posisi siswa dengan lokasi sekolah secara garis lurus,” ucapnya.

Untuk rencana PTM, jenjang SMP akan ada 32 sampai 36 siswa setiap kelasnya. Tergantung dari kemampuan, kapabilitas, dan ruangan sekolah, dengan lima rombongan belajar. Kata Mulyadi, tidak seluruhnya siswa yang akan mengikuti pembelajaran di kelas.

“Masa pandemi ini akan dilakukan secara bertahap. Tidak semua langsung masuk, apakah 30 persen atau 50 persennya. Yang jelas, kapasitas ruangan itu 50 persen. Makanya disebut PTM terbatas,” terangnya.

Lebih lanjut, pelaksanaan uji coba PTM juga harus ada izin dari gugus tugas Covid-19 baik ditingkat kabupaten ataupun kota. Serta dilihat dari persiapan sekolah guna menghindari kemungkinan adanya penyebaran virus Korona selama berlangsungnya PTM. Peran orang tua dalam hal ini juga menjadi vital.

“Semua harus disiapkan. Termasuk izin orang tua murid, harus ada pernyataan kalau orang tua mengizinkan anaknya mengikuti PTM. Kami juga memberikan list atau item kepada orang tua dalam memberikan dukungan apakah mereka memberikan masker dan hanitizer kepada anak, mengantar jemput anak, dan bisa mencegah anaknya berkerumun dan bermain. Tetapi kalau orang tua tidak mengizinkan, kami persilakan mengikuti pembelajaran daring,” tukasnya. (rd/daf)

 

Jurnalis: Daffa Syaifullah

Editor: M. Agung HR