disdik rapat
SOSIALISASI: Kepala Disdik Kota Depok, M Thamrin saat menggelar sosialisasi PPDB kepada para pengawas PPDB Kota Depok, Rabu (19/5). FOTO : PUTRI/RADARDEPOK

RADARDEPOK.COM – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok telah mengeluarkan Petunjuk Teknis (Juknis) Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB). Di tengah pandemi Covid-19, Disdik Kota Depok tidak mengurangi jumlah siswa di dalam satu rombongan belajar (rombel) atau kelasnya, yaitu tetap berisi 32 siswa.

Kepala Disdik Kota Depok, Mohammad Thamrin mengatakan, PPDB tahun ajaran 2021/2022 bagi jenjang pendidikan SD dan SMP memiliki kuota 32 siswa di dalam satu rombel. “Bagi SD dan SMP dalam satu kelasnya, memiliki kuota sebanyak 32 siswa,” tuturnya kepada Radar Depok, Jumat (21/05).

Lebih lanjut, Thamrin menjelaskan, bagi jenjang SMP Negeri dengan total 26 sekolah di Kota Depok, memiliki jumlah rombel yang berbeda-beda. Jumlah rombel di SMP Negeri mulai dari delapan sampai dengan 11 robel per sekolahnya. “Setiap sekolah memiliki jumlah rombel yang berbeda-beda, tergantung luas sekolahnya masing-masing,” sambungnya.

Dia menambahkan, rombel memiliki dua tipe, yang pertama umum dan kedua khusus. Rombel umum diperuntukkan bagi siswa umum, sedangkan rombel khusus adalah kelas seni ataupun olahraga.

“Di Kota Depok yang memiliki rombel khusus ada dua sekolah, di SMPN 1 ada dua kelas seni. Dan di SMPN 11 ada dua kelas olahraga,” jelasnya.

Terkait Pembelajaran Tatap Muka (PTM), Thamrin mengatakan, masih menunggu vaksinasi guru mencapai 70 sampai 80 persen, serta persetujuan dari tim Satgas Covid-19 Kota Depok. “Kebetulan hari ini kami bertemu dengan Tim Satgas, nanti minggu ketiga Juni, akan kami rapatkan lagi,” ungkapnya.

Sambil menunggu, Thamrin juga menjelaskan, Disdik nantinya akan meminta data per sekolahnya, terkait sudah berapa banyak guru yang divaksin di setiap sekolahnya, kemudian persiapannya sudah sejauh mana, dan kesiapan lainnya.

Menimpali hal ini, Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Depok, M Suparyono mengatakan, keputusan Pemerintah Kota Depok yang menetapkan jumlah rombongan belajar (rombel), sebanyak 32 murid dalam satu rombel dinilai sudah tepat. Hal ini lantaran pembatasan jumlah siswa dalam satu rombel sangat perlu guna mencegah penularan Covid-19.

“Saya rasa jumlah 32 siswa dalam satu rombel sudah ideal, jangan ditambah lagi,” ucapnya, Jumat (21/5).

Dia mengungkapkan, selain untuk mencegah penularan Covid-19, pembatasan jumlah siswa dalam satu rombel juga untuk menjaga keseimbangan antara sekolah negeri dan swasta di Depok.

“Kalau gak dibatasi, nanti sekolah swasta gak kebagian murid. Kan bisa pada tutup nanti sekolah swasta kalau gak punya murid,” tuturnya.

Dia menjelaskan, terkait  adanya rencana sekolah tatap muka, dia sudah meminta kepada Pemerintah Kota Depok, untuk melakukan uji coba sekolah tatap muka terlebih dahulu sebelum benar–benar menerapkannya di Depok .

“Saya sudah sampaikan supaya uji coba dulu minimal satu kecamatan satu sekolah, tapi nampaknya pemkot gak berkenan dan ingin langsung tatap muka aja,” katanya.

Dia menuturkan, alasan utama dari uji coba ini untuk menghindari terjadinya ledakan penularan Covid-19 dari klaster pendidikan. Jadi kalau diuji coba dulu bisa lihat hasilnya, adakah penularan, kalau ada sudah bisa mencarikan solusi penangannya seperti apa. “Kalau langsung dilakukan tanpa uji coba kan khawatir nanti ada ledakan, kalau meledak apakah fasilitas kesehatan dan anggaran kita siap menanganinya,” bebernya.

Dia menambahkan, pelaksanaan sekolah tatap muka untuk SD dan SMP di Depok ini harus direncakan sematang mungkin. Karena penanganan siswa SD dan SMP akan lebih memakan perhatian dibandingkan SMA, karena belum tentu siswa tersebut faham apa itu Covid-19.

“Kan anak SD dan SMP itu masanya masih bermain jadi mereka akan cenderung berkumpul saat bertemu di sekolah, ini lah yang harus betul – betul diperhatikan,” ungkapnya.

Dia menambahkan, Pemerintah Kota Depok masih memiliki waktu untuk melakukan uji coba sekolah tatap muka sebelum masuk tahun ajaran baru.  “Saya rasa belum terlambat untuk uji coba, masih ada waktu satu bulan lah,” tegasnya.

Terpisah, Pengamat Pendidikan Indonesia, Indra Charismiadji mengatakan, jumlah 32 murid dalam satu rombongan belajar (rombel), merupakan anjuran dari pemerintah mengingat rasio satu guru hanya efektif untuk mengajari 32 murid. Sedangkan untuk pencegahan Covid-19, jumlah tersebut masih terlalu banyak.

“Kalau untuk bicara jaga jarak ya paling banyak itu 10 sampai  12 murid, makanya nanti kalau memang mau diadakan tatap muka, kapasitasnya maksimal hanya 50 persen saja setiap kelas,” ucapnya.

Dia mengaku, berdasarkan pendapat ikatan dokter anak indonesia sebaiknya sekolah tatap muka tidak diadakan, mengingat saat ini mulai bermucuran varian baru dari Covid-19. “Malaysia dan Singapura aja udah lockdown, masa kita malah mau melakukan tatap muka,” tandasnya. (dis/dra/rd)

 

Jurnalis : Putri Disa, Indra Abertnego Siregar

Editor : Fahmi Akbar