Beranda Metropolis RSUI Gelar Seminar Kesehatan

RSUI Gelar Seminar Kesehatan

0
RSUI Gelar Seminar Kesehatan
SEMINAR: RSUI saat menggelar seminar secara daring bagi masyarakat, Kamis (6/5). FOTO: PUTRI DISA/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) kembali menggelar rangkaian seminar awam dengan tajuk utama: Mengatasi Serangan Kardiovaskular di Era Pandemi: Bagaimana Caranya? yang dilaksanakan terkait hari hipertensi nasional tanggal 17 Mei mendatang. Selain itu, sebentar lagi orang muslim akan menyambut hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah, dimana banyak orang menjadikan sebagai ajang ‘balas dendam’ makan setelah satu bulan berpuasa. Padahal konsumsi makanan yang berlebihan ini sangat berisiko untuk mengalami gangguan kardiovaskuler, seperti hipertensi, stroke, atau penyakit jantung.

Salah satu narasumber, Muhammad Hafiz mengatakan, sekitar satu miliar orang di dunia memiliki hipertensi, sebanyak dua pertiganya ada di negara-negara berkembang. Dari 25,8 persen orang dengan hipertensi, hanya sepertiganya yang terdiagnosis.

“Faktor risiko hipertensi ada dua macam. Pertama, faktor yang tidak dapat diubah, seperti usia, jenis kelamin, genetik. Dan kedua, faktor yang dapat diubah terkait gaya hidup. Seperti kurang aktivitas fisik, diet tidak sehat yang tinggi natrium atau garam, obesitas, stres, dan merokok,” tuturnya dalam seminar, Kamis (6/5).

Lebih lanjut, dia menjelaskan, tekanan darah normal jika nilai sistol kurang dari 120 dan diastol kurang dari 80. Seseorang dengan tekanan sistol lebih dari 140 dan diastol lebih dari 90 harus melakukan kontrol rutin hipertensi di fasilitas kesehatan.

“Jika tekanan darah sistol lebih dari 180 dan diastol lebih dari 120, kemudian ada keluhan mendadak, dikenal dengan krisis hipertensi, jika mengalami keadaan ini harus segera dibawa ke IGD.” jelasnya.

Terdapat beberapa tips yang bisa dilakukan dalam pengukuran tekanan darah di rumah. Yang harus dipastikan antara lain, pastikan istirahat selama dua sampai lima menit sebelum pengukuran, tiduk minum kafein, minum obat rutin, serta tidak menahan buang air kecil. “Pengukuran sebaiknya dilakukan dua sampai tiga kali, dengan selang satu menit yang dilakukan saat pagi atau malam, selama tiga sampai tujuh hari untuk mendapatkan variasi dan rata-rata tekanan darah.” ujar dokter Hafiz.

Sementara itu narasumber lainnya, Dinda Diafiri mengatakan, stroke di Indonesia masih menjadi pembunuh dan penyebab kecacatan nomor satu untuk penyakit tidak menular sejak tahun 2014 hingga saat ini. “Stroke ada dua jenis, yaitu stroke akibat sumbatan plak dan stroke akibat perdarahan,” tutur dokter Dinda.

Dia menjelaskan, suasana saat lebaran dengan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi kalori dan gula berlebihan seperti opor, rendang, dan lainnya, serta berkurangnya aktivitas fisik saat lebaran, dan lupa minum obat dapat memicu terjadinya hipertensi dan stroke.

“Saat Lebaran, disarankan untuk tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan, tetap melakukan aktivitas fisik, serta minum obat secara teratur sesuai dengan petunjuk dokter.” tegasnya. (rd/dis)

 

Jurnalis: Putri Disa

Editor: M. Agung HR