utang PLN yang banyak
PLN memiliki utang yang terus menggunung.

RADARDEPOK.COM, JAKARTA – Memiliki utang yang besar membuat pemerintah perlu mencukur anggaran PT PLN (Persero). Oleh karena itu, pemerintah telah mematok nilai investasi yang lebih rendah dalam 2 tahun ini

Direktur Utama PLN, Zulkifli Zaini mengatakan, kebutuhan investasi PLN sebelum 2020 berkisar pada Rp100 triliun.

Sejak 2020, PLN tak lagi diizinkan untuk berinvestasi pada kisaran yang sama pada 2019. Di tahun 2020 belanja investasi PLN mengalami penurunan yang cukup signifikan, yakni dari Rp94,75 triliun pada 2019 menjadi Rp73,45 triliun.

“Kami hanya diperbolehkan Rp75—Rp80 triliun, turun Rp20 triliun dibanding sebelumnya itu karena pemegang saham mulai khawatir dengan utang PLN yang terus naik, investasi Rp75—Rp80 triliun,” katanya.

Pada tahun ini PLN menyiapkan rencana belanja modal senilai Rp78,9 triliun untuk rencana investasi tahun ini.

Biaya itu akan digunakan untuk membangun sekitar 3.132 megawatt (MW) pembangkit listrik, 6.776 kilometer sirkuit (kms) jaringan transmisi, dan 6.810 MVA gardu induk.

Rencana pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan tersebut tersebar di regional Sumatra dan Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara, serta regional Jawa, Madura, dan Bali.

Selain itu, tahun ini PLN menargetkan menambah 3,2 juta pelanggan baru dan meningkatkan rasio elektrifikasi hingga 99,25 persen. PLN juga akan menambah 6.522 MVA daya tersambung, 1.303 MVA gardu distribusi, 7.917 kms penambahan jaringan tegangan rendah, dan 8.413 kms jaringan tegangan menengah.

Direktur Executive Energy Watch, Mamit Setiawan mengatakan, dengan dipangkasnya biaya investasi PLN akan berdampak terhadap rencana ekspansi PLN ke depan.

Melalui pengurangan ini, maka PLN harus benar-benar menentukan proyek atau program mana saja yang harus diselesaikan. Menurutnya, program tersebut harus disesuaikan dengan kondisi saat ini karena masih surplus listrik serta belum tumbuhnya tingkat konsumsi dan ekonomi masyarakat.

“Pemotongan ini saya harapkan tidak melupakan target pengguaan mix energi ke depannya meskipun sulit dicapai 23 persen pada 2025 yang akan datang, tapi renewable energy porsinya jangan dikurangi. Usahakan tetap sama investasinya dibandingkan tahun sebelumnya,” katanya. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya